Makanan Korea VS Makanan Jepang
Menurut saya yang paling sering didengar adalah kimchi dan bulgogi, lainnya mungkin terasa asing buat saya. Memang tidak jauh berbeda dengan bentuk makanan Jepang menurut penglihatan saya, Boleh dikata 11-12 namun dari segi rasa menurut saya cukup lumayan jauh berbeda. Makanan jepang lebih banyak seafood dengan aroma yang lumayan amis sedangkan korea lebih banyak makanan olahan. Entah mengapa walau makanan Jepang juga menurut saya minim Bumbu tapi makanan Korea lebih minim dan flat lagi. Entahlah saya belum pernah makan direstoran Korea asli sehingga belum tahu juga bagaimana rasa asli di Korea sana.
Gelombang budaya pop Asia, khususnya demam Hallyu atau Korean Wave, telah membawa perubahan besar pada peta kuliner internasional, tak terkecuali di Indonesia.
![]() |
| Perbandingan Cita Rasa, Bumbu Dasar, dan Perbedaan Budaya Kuliner |
Kepopuleran boyband, drama Korea, dan berbagai konten hiburan dari Negeri Ginseng secara langsung mendongkrak rasa penasaran masyarakat terhadap kulinernya. Berbagai hidangan khas Korea kini mendadak populer dan diincar oleh para penggemarnya.
Tukang Jalan Jajan bukan penikmat Kepopuleran boyband, drama Korea, dan berbagai konten hiburan dari Negeri Ginseng atau negeri sakura. Tapi kalau makanannya, sudah pasti diriku sebagai salah seorang pecintanya.
Tapi sejauh mana perbedaan nyata antara kuliner Korea dan kuliner Jepang? Sekilas, keduanya tampak mirip karena sama-sama berasal dari kawasan Asia Timur, mengandalkan bahan olahan mi, serta memanfaatkan teknik fermentasi dan rumput laut. Akan tetapi, ketika dicicipi secara mendalam, karakter rasa kedua kuliner ini sebenarnya memilik jejak perbedaan yang sangat signifikan.
Perbandingan Cita Rasa, Bumbu Dasar, dan Perbedaan Budaya Kuliner
Hal mendasar yang paling bisa lidah kita terima saat mencicipi cita rasa kedua jenis makanan ini adalah cita rasa, bentukan terkadang bisa sama dan serupa namun masalah rasa bisa sangat jauh berbeda, ada beberapa bumbu dan prinsip masak dasar dapur Jepang dan Koren yang berbeda.
Dari kasat mata, tampilan masakan Korea dan masakan Jepang memang bagaikan saudara kembar, bisa dikatakan berbeda tipis atau 11-12. Namun, dari segi cita rasa, keduanya berada di spektrum yang cukup jauh berbeda.
Kuliner Jepang lebih banyak didominasi bahan seafood segar dengan aroma laut yang khas. Sementara itu, masakan Korea lebih berfokus pada hidangan olahan dengan bumbu berbumbu tebal. Menariknya, meskipun masakan Jepang sering dinilai terampil menjaga kesederhanaan bumbu, masakan Korea yang saya temui justru terasa jauh lebih tajam dibeberapa bagian rasa hingga perlu balancing dari kita yang menikmati
Kuliner Jepang mengusung filosofi purity atau keaslian rasa bahan baku. Mereka menghindari bumbu rempah berbiji tajam seperti merica ataupun cabai yang ditumbuk halus. Bumbu aromatik yang tajam seperti bawang putih juga sangat jarang digunakan dalam masakan tradisional Jepang.
Menikmati Kuliner Korea di Pontianak
Jujur saja, dalam beberapa kesempatan mencicipi masakan Korea, saya pribadi tidak terlalu bisa menikmatinya. Cita rasanya cenderung terasa monoton, sedikit hambar, dan rasanya serba "nanggung" di lidah saya. Meski demikian, fenomena meledaknya popularitas boyband dan budaya Korea di Indonesia telah mengubah makanan Korea menjadi daya tarik yang sangat luar biasa bagi para pencinta kuliner.
Apabila kita perhatikan bentuk fisiknya, makanan Korea tidak memiliki terlalu banyak perbedaan mendasar dengan makanan Asia lainnya. Elemen utamanya banyak didominasi oleh makanan fermentasi dan olahan mi.
Bagi saya, dua jenis hidangan Korea yang paling familiar dan sering terdengar adalah Kimchi (asinan sayur fermentasi pedas) dan Bulgogi (daging sapi olahan bernuansa manis gurih). Nama-nama menu lainnya masih terasa cukup asing bagi saya.
![]() |
| Sushi ala Pontianak dengan Ayam Goreng Tepung |
Kondisi ini juga tidak lepas dari realitas lokal di Pontianak. Di kota Pontianak, keberadaan restoran spesialis makanan Korea terbilang sangat terbatas bahkan saat itu hanya ada satu lokasi. Saat saya mencoba memesan beragam varian menu mi di sana, ternyata sebagian besar disajikan menggunakan bahan mi instan kemasan dan bukan olahan buatan tangan (homemade) restoran itu sendiri. Faktor inilah yang sangat memengaruhi persepsi rasa secara keseluruhan.
Karakter Utama Masakan Jepang, Esensi Alami dan Prinsip Sa-Shi-Su-Se-So
Bumbu dan Penyedap Khas Jepang
Dalam tradisi kuliner Jepang, kacang kedelai merupakan bahan baku utama untuk berbagai olahan dan penyedap. Penyedap rasa alami yang sering dipakai umumnya berasal dari sayuran beraroma harum yang dipotong halus atau diparut. Beberapa bumbu dan bahan penyedap yang sangat populer antara lain:
- Garam & Cuka (Vinegar)
Penyeimbang rasa asam dan asin yang lembut. - Miso & Shoyu
Pasta kedelai fermentasi khas Jepang dan kecap asin beraroma lembut. - Wasabi & Jahe (Shoga)
Pemberi sensasi pedas segar dan penghilang bau amis pada bahan mentah. - Andaliman Jepang (Sansho)
Bumbu rempah herbal khas untuk hidangan memanggang. - Daun Bawang Hijau & Daun Shiso
Dedaunan penyedap aromatik yang digunakan sebagai pelengkap. - Katsuobushi & Dashi
Serutan daging ikan cakalang/bonito yang dikeringkan serta kaldu alami berbahan dasar rumput laut (kombu). Dashi inilah yang memberikan cita rasa umami khas pada sup dan saus Jepang.
Formula Bumbu "Sa-Shi-Su-Se-So"
Salah satu aturan paling unik dalam seni memasak masakan Jepang adalah urutan memasukkan bumbu yang dikenal dengan istilah Sa-Shi-Su-Se-So. Aturan ini ditetapkan berdasarkan ukuran molekul bumbu agar penyerapan rasa ke dalam bahan makanan berjalan sempurna:
- Sa (Sato)
Gula pasir. Dimasukkan pertama kali karena molekul gula lebih besar dan membutuhkan waktu lebih lama untuk meresap. - Shi (Shio)
Garam. Dimasukkan setelah gula untuk mengunci kelembapan bahan makanan. - Su (Su)
Cuka. Ditambahkan untuk memberikan aroma asam segar tanpa merusak struktur bahan. - Se (Seuyu/Shoyu)
Kecap asin khas Jepang. Dimasukkan mendekati akhir agar aroma khas kecap tidak hilang akibat panas berlebih. - So (Miso)
Pasta kedelai. Dimasukkan paling akhir agar aroma dan kandungan nutrisinya tetap terjaga.
Selain lima bumbu utama di atas, masakan Jepang kerap memanfaatkan Sogayaki (olahan bumbu jahe) serta manisan jahe. Penggunaan minuman beralkohol khas Jepang seperti Sake (dengan kadar alkohol maksimum 20%) juga sering ditambahkan untuk memperkuat aroma manis-asam yang khas.
Selain Sake, jenis rice wine lainnya yang sangat dominan di dapur Jepang adalah Mirin. Mirin memiliki rasa yang lebih manis dengan kadar alkohol yang jauh lebih rendah. Mirin sering disajikan sebagai penyeimbang rasa saat menyantap sushi. Dalam pembuatan saus populer seperti teriyaki atau tempura, jika Mirin tidak tersedia, kita dapat menyiasatinya dengan memadukan sake dan gula menggunakan perbandingan 3:1.
Karakter Utama Masakan Korea, Kekuatan Saus dan Keberanian Bumbu
Berbeda secara bertolak belakang dengan Jepang, masakan Korea sangat mengandalkan saus olahan dan bumbu tebal berbahan dasar cabai serta bawang putih. Masyarakat Korea percaya bahwa kunci kelezatan dan kualitas suatu hidangan sangat bergantung pada komposisi racikan bumbu dan saus fermentasi yang digunakan.
![]() |
| Sweet Chicken Garlic ala Korea di Pontianak |
Kompleksitas Bumbu dan Saus Korea
Ada beberapa jenis bumbu dan saus utama yang menjadi fondasi kuliner Korea:
- Doenjang (Pasta Kedelai Fermentasi)
Terbuat dari kacang kedelai yang difermentasi dalam jangka waktu lama (mirip dengan tauco di Indonesia). Doenjang merupakan bahan utama dalam pembuatan hidangan berkuah seperti Doenjang Jjigae. Keistimewaan Doenjang terletak pada fleksibilitasnya; bumbu ini dapat dicampur dengan bahan lain tanpa kehilangan cita rasa aslinya. Karena kaya akan kedelai, Doenjang mengandung zat isoflavon dan kaya akan nutrisi vitamin.
- Gochujang (Pasta Cabai Korea)
Saus pasta pedas yang terbuat dari campuran cabai merah, beras ketan, kedelai fermentasi, dan garam. Kombinasi rasa pedas, manis, dan gurih pada Gochujang menjadikannya saus favorit dalam berbagai masakan populer seperti Tteokbokki, Kunjung Jeongol, serta Dolsot Bibimbap.
- Sogogi Dasida & Melchi Dasida (Bumbu Penyedap Instand)
Sogogi Dasida adalah bumbu kaldu penyedap rasa berbasis daging sapi, sedangkan Melchi Dasida terbuat dari ebi atau ikan teri kering. Kedua penyedap ini kerap ditambahkan pada kuah sup seperti Kunjung Jeongol (sup seafood) agar kuah menghasilkan cita rasa gurih (umami) yang mantap.
- Kalbi Sauce (Saus Korean BBQ)
Saus bertekstur cokelat kental yang difungsikan sebagai marinasi daging agar teksturnya menjadi empuk dan kaya rasa. Saus ini digunakan secara luas pada menu Bulgogi maupun Galbi/Kalbi.
- Ssamjang
Pasta kental gurih-pedas yang biasa dioleskan pada daging bakar dan Kimchi sebelum dibungkus dengan daun selada (Ssam). Ssamjang diracik dari campuran Doenjang, Gochujang, minyak wijen, cincangan bawang putih, cabai hijau, dan sedikit gula.
- Gochugaru (Bubuk Cabai Korea)
Berasal dari kata Gochu (cabai) dan Garu (bubuk). Bubuk cabai ini menjadi bahan krusial dalam pembuatan Kimchi, Bulgogi, maupun Tteokbokki. Pengeringan cabai untuk Gochugaru umumnya dilakukan melalui dua metode, yaitu dijemur di bawah sinar matahari langsung (Taeyangcho) atau dipanggang menggunakan oven khusus.
![]() |
| Ada yang bisa menebak nama nama kuliner Jepang ini? |
Makanan Korea VS Makanan Jepang
Untuk melengkapi pemahaman kita, ada beberapa hal yang bisa ditilik. Ini bisa memudahkan kita untuk melakukan identifikasi, terutama bagi yang suka meriview kuliner. Mau tahu? Simak item item ini:
Penggunaan Bahan Baku & Protein Utama
- Korea
Sangat menyukai hidangan berbahan dasar daging merah (sapi dan babi) serta ayam. Budaya Korean BBQ (Samgyeopsal, Bulgogi, Galbi) adalah bukti dominasi protein daging. Meskipun kota-kota pesisir seperti Busan kaya akan olahan seafood, secara umum konsumsi daging tetap memegang porsi besar dalam keseharian mereka.
- Jepang
Lebih memprioritaskan hasil laut segar (seafood seperti ikan, gurita, dan kerang) serta olahan tahu. Hidangan seperti Sushi, Sashimi, dan Agedashi Tofu mencerminkan fokus kuliner Jepang yang rendah lemak dan mengandalkan kesegaran bahan mentah.
Profil Rasa dan Penggunaan Bumbu Aromatik
- Korea
Cita rasanya tergolong kuat, bold, pedas, manis, dan kaya rempah fermentasi. Bawang putih dan cabai merah adalah dua komoditas wajib yang digunakan secara melimpah di hampir semua masakan Korea.
- Jepang
Cita rasanya lebih lembut (subtle), alami, dan bersih. Bumbu dibuat minimalis agar rasa asli bahan tidak tertutup. Penggunaan cabai dan bawang putih secara intensif sangat dihindari dalam tradisi masakan klasik Jepang.
Filosofi dan Teknik Fermentasi
- Korea (Fermentasi Berbumbu Tebal)
Proses fermentasi di Korea berfokus pada kombinasi sayuran dengan bumbu pasta pedas dan asin dalam jangka waktu panjang. Contoh utamanya adalah Kimchi (fermentasi sawi/lobak dengan bubuk cabai dan udang rebon) serta Gochujang. Fermentasi Korea menghasilkan mikroorganisme probiotik dengan aroma yang tajam dan menusuk.
- Jepang (Fermentasi Kedelai & Ikan yang Halus)
Fermentasi di Jepang mengutamakan kedelai (Miso, Natto) dan hasil laut/ikan untuk memperkaya cita rasa kuah sup. Acar Jepang (Tsukemono) disajikan lebih bersih tanpa sapuan pasta cabai tebal.
Perbandingan Hidangan Sejenis yang Sering Membingungkan
Penyajian dan Tata Cara Makan (Table Manner)
Dalam tradisi makan Korea, meja akan dipenuhi oleh berbagai piring kecil berisi hidangan pendamping yang disebut Banchan (seperti Kimchi, Mayak Eggs, tumis tauge) yang diberikan secara gratis. Selain itu, orang Korea terbiasa menggunakan sendok berbahan logam untuk menyantap sup/nasi dan sumpit logam untuk lauk.
Sebaliknya, penyajian masakan Jepang mengedepankan estetika visual (eaten with the eyes first). Setiap porsi makanan ditata dengan cermat dalam wadah keramik yang indah. Orang Jepang lebih sering menggunakan sumpit kayu dan mengangkat mangkuk nasi mendekati mulut saat makan.
Poin Penting yang Membedakan Makanan Korea dan Makanan Jepang
![]() |
Tips Berkreasi di Dapur, Menyiasati Bumbu Impor secara Mandiri
Beberapa bumbu autentik Korea maupun Jepang mungkin cukup sulit ditemukan di supermarket lokal daerah atau dibanderol dengan harga relatif mahal. Namun, kondisi ini tidak boleh memadamkan semangat eksperimen kuliner kita. Kita bisa berkreasi dan menyiasati bahan-bahan tersebut di rumah!
- Pengganti Mirin Jepang
Campurkan air, gula pasir, dan sedikit perasan jeruk nipis/cuka beras untuk mendapatkan sensasi manis asam yang seimbang tanpa kandungan alkohol. - Alternatif Gochujang Korea
Anda bisa meracik sendiri dengan memadukan bubuk cabai lokal, sedikit tauco halus (sebagai pengganti Doenjang), kecap manis, dan sedikit tepung beras ketan yang dimasak singkat hingga mengental. - Pengganti Dashi
Buat kaldu bening dari rebusan air ikan teri kering yang dibuang kotorannya bersama potongan rumput laut kering.
Tidak perlu takut untuk terus berkreasi di dapur! Cukup dengan sedikit ketekunan dan keberanian mencoba, kita bisa menghadirkan cita rasa khas Asia Timur di meja makan keluarga. Selamat Makan dan Salam Yumcez
BANZAAAIIIIIIIIIIIIII...!






2 komentar
Silakan berkomentar dengan bijak. Setelah anda mampir dan berkomentar, saya akan berkunjung balik. Jangan meninggalkan link hidup ya :)
Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : eko.dony.prayudi@gmail.com
+Telp/WA : 0819 - 3210 - 9497
+IG/Twitter : @dodon_jerry