30 September 2016

Disko di Ayam Pop Bu Yani


Makan Ayam Pop tidak harus datang ke restoran Padang, sekarang sudah ada ayam pop Bu Yani yang bisa dinikmati khusus. Saya penasaran setelah mendapat tag di akun Instagram @dodon_jerry . Memang banyak yang suka menyenggol saya tapi entah kenapa, saya sangat tertarik untuk mencoba yang satu ini. Apakah saya akan berdisko setelah makan ayam Pop di sini? Setahu saya ayam pop pasti disajikan dengan banyak menu Padang lainnya. Tapi jika disajikan terpisah, saya baru mencoba. Kalau tidak mencoba, siapa yang bisa tahu rasanya seperti apa.

Ayam Pop Bu Yani Plus sambel Pete
Ayam Pop Bu Yani Plus sambel Pete
Mencari lokasi Ayam Pop Bu Yani butuh perjuangan dan gampang-gampang susah. Beberapa kali saya harus kebablasan karena ragu padahal lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah saya. Berada di Jalan Purnama dan harus masuk ke dalam Gang Purnama 8. Ancer-ancernya di sebelah sekolahan Kalam Kudus. Kalau sudah kepengen otomatis segala upaya dan cara akan dilakukan untuk mendapatkannya. Bukanya Senin hingga sabtu dari pukul 9 pagi hingga 5 sore.

Bitterballen Bu yani
Bitterballen Bu Yani
Akhirnya setelah 100 meter masuk ke dalam gang, saya menemukan sebuah rumah dengan halaman yang lumayan luas dan spanduk bertuliskan ayam pop Bu Yani. Mlipir seketika itu juga. Menunya sederhana tapi karena saya penasaran, semuanya di pesan. Ada paket ayam pop yang disajikan dengan nasi, sambal pete dan lalapan timun seharga 17K, Air tahu dengan es seharga 5K, Cane keju seharga 7K dan memesan bitterballen keju sekarga 15K untuk 4 potong. Mari menunggu makanan datang.
Ayam Pop Bu Yani Plus sambel Pete
Ayam Pop Bu Yani Plus sambel Pete
Berbicara ayam pop, pasti sudah sangat populer di lidah orang Indonesia. Kabar yang saya dapat, Ayam pop ditemukan tahun 1976 Oleh Rumah Makan Simpang Raya, terlepas benar atau tidak, nama ini diberikan sekedar memudahkan penyebutannya saja . Atau ada juga yang mengatakan berhubungan dengan proses masaknya. Pas dimasukkin ke wajan yang berisi minyak panas, muncul bunyi pop-pop-pop karena minyak yang meletup-meletup dalam wajan. Ada pula yang mengatakan Asal muasal dari Ayam POP ini berawal dari salah satu rumah makan yang ada di Bukit Tinggi yang berlokasi di Benteng Indah, yakni rumah makan family Benteng Indah. Dimana citarasa khas sesungguhnya ada di Rumah Makan ini, Ayam POP merupakan masakan Ayam kampong yang telah direbus kemudian digoreng sebentar ditambah ada olahan sambal menambah nikmatnya Ayam POP. Entah mana yang benar.

Ayam Pop Bu Yani Plus sambel Pete
Ayam Pop Bu Yani Plus sambel Pete
Ayam Pop tersaji di meja, hatipun senang dan segera ingin mencicipi. Biasanya menggunakan ayam kampung tapi untuk mengejar harga jual maka digunakan ayam broiler. Ayam berdaging putih tanpa kulit ini sungguh berbumbu, aroma bawang putih dan bawang merah berbalut bumbu lainnya serta dedaunan aromatik. Baru kemudian dicelupkan dalam minyak panas. Walaupun warnannya putih tapi jangan ragukan rasa gurihnya. Apalagi di ayam pop Bu Yani menyajikan sambal pete yang terasa banget sentuhan padangnya. Aroma bawang merah di tambah dengan rasa cabe yang menyatu dengan pete dan ayam pop! Slurupsss

Cane Susu Keju Bu Yani
Cane Susu Keju Bu Yani 
Lain lagi dengan cane yang saya sengaja pesan manis dengan taburan keju dan lelehan susu kental manis. Krispi dan gurih berpadu dengan keju. Saya penggemar keju, apapun yang berasa dan berbau keju pasti enak. Setelah puas menikmati makanan langsung saya teguk air tahu yang segar dan tidak terlalu manis. Menyenangkan bisa menemukan makanan enak di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Air tahu/Susu Kedelai Bu Yani
Air tahu/Susu Kedelai Bu Yani
Oh ya, sesampai di rumah, saya juga mencicipi bitterballen ini. Sayang sedikit berminyak. Kemungkinan dimasukkan terlalu cepat ke dalam minyak yang belum terlalu panas atau mungkin kurang lama meniriskan. Tapi cukuplah untuk menemani minum teh atau kopi sore.

Es the Bu Yani
Es the Bu Yani
Dari makanan dan minuman serta lokasi dan keramahan pelayanan nilai 7,5 dari 10 bisa membuat saya datang lagi untuk menikmati ayam pop di sini. Cobain deh supaya tidak penasaran dan Selamat makan teman jajan. Salam Yumcez!
Read More

29 September 2016

Menyusuri Sejarah Kampong Ayer di Museum Galeri Kebudayaan dan Pelancongan


Menyusuri jalan berliku di jembatan penghubung antar rumah di kampung di atas air ini menyiratkan pemandangan tersendiri. Saya beberapa kali berpapasan dengan anak-anak kampung berlarian berkelompok dengan tawa riang gembira. Agak berbeda rasanya melihat anak-anak yang bermain di kampung terapung dengan lahan terbatas dan anak-anak yang biasa bermain di lapangan luas.

Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Saya melangkahkan kaki mencari rumah yang di tunjuk oleh kak Minah tadi. Kampung yang dijuluki Venesia Asia Tenggara ini ternyata luas dan padat. Kata ‘dekat” yang diinformasikan tadi tidak dekat secara nyata hingga akhirnya saya melihat bendera Brunei yang sangat besar di depan sebuah rumah yang agak sedikit berbeda dengan rumah disekitarnya. Di bagian atas pintu masuk terlihat tulisan “Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer (Kampong Ayer Cultural and Tourism Board)”. Di sebelah bangunan utama terdapat sebuah bangunan menara bersudut enam.

Bagian Menara, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Bagian Menara, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Bagian Dalam, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Bagian Dalam, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Saya mendorong pintu kaca besar musium karena tulisan “open” terpajang di pintu masuk. Tangan mendorong pintu kaca dan kakipun melangkah masuk, saya langsung di sambut meja penerima tamu yang dipenuhi pernak-pernik khas Brunei yang di jual sebagai buah tangan. Seorang petugas bernama Ahmad menghampiri. “Selamat datang di musium, tolong mengisi buku tamu”, ujarnya. Dia tersenyum melihat saya menuliskan nama Indonesia. Kita bersaudara dan sesama muslim lalu menyerahkan sebuah majalah gratis, bendera Brunai dari kertas dan sebuah pin bertuliskan “I Love Brunei”. Tidak ada di pungut biaya dan Ahmad menawarkan untuk mengantar dan mengingatkan untuk tidak mengambil gambar di dalam musium.

Bagian Dalam, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Bagian Dalam, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Ahmad mempersilakan saya duduk di bangku panjang yang menghadap ke sebuah televisi lalu dinyalakan, “Bapak lihat tayangan di TV ini, ada sejarah singkat kampung Ayer setelah itu baru lihat koleksi yang ada di dalam ruangan”. Film dokumenter hitam putih ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat Kampong Ayer di Brunei masa lampau sampai akhirnya berkembang pesat hingga sekarang. Dengan penjelasan menggunakan bahasa Melayu dan tulisan bahasa Inggris di bagian bawah. Setelah 15 menit tayangan pun berakhir.

Bagian Dalam, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Bagian Dalam, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Bagian Dalam, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Bagian Dalam, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Saya melangkah masuk ke ruangan utama yang bersudut delapan dan terdapat ruangan-ruangan kecil dengan meja dan lemari pajang berlapis kaca. Terdapat barang-barang dari 600 tahun lalu. Barang barang dari abad lampau di pajang sesuai perkembangannya. Alat-alat rumah tangga dan peralatan nelayan yang sederhana hingga modern ada di ruangan ini. Terdapat juga barang-barang yang di jual dan dipertukarkan dengan bangsa Tionghoa dan Eropa. Kain dan pakaian tradisional juga di pajang di dalam lemari kaca. Saya juga melihat Alat musik berupa gong dan gendang serta benda-benda pusaka seperti keris, pedang sampai senjata api laras panjang.

Sungai Brunei, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Sungai Brunei, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Saat saya datang, tidak ada pengunjung yang datang. Beberapa kali saya mencuri mengambil foto sembari deg-degan karena khawatir terpantau kamera pengintai. Apalagi Ahmad juga berlalu lalang sembari melempar senyum. Tidak ada gambar yang sempurna. Tapi paling tidak saya berhasil mengabadikan dalam ingatan.

Sungai Brunei, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Sungai Brunei, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Sungai Brunei, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Sungai Brunei, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Hari semakin sore, saya memtuskan untuk beranjak dari musium ini. Saya tidak punya waktu banyak untuk menjelajahi Brunai lebih banyak lagi. Mobil sewaan yang digunakan harus segera dikembalikan dan saya juga harus bergegas jangan sampai perbatasan dan imigrasi tutup. Jika bersamaan dengan jam pulang kantor, biasa saja akan terjadi kemacetan.

Sungai Brunei, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Sungai Brunei, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam

Sungai Brunei, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Sungai Brunei, Galeri Kebudayaan dan Pelancongan Kampong Ayer, Brunei Darussalam
Brunei memang negara kecil yang bisa dijelajahi dalam satu hari. Banyak cerita yang luar biasa yang sering kita dapatkan terutama tentang ketatnya aturan agama dan kekayaan Sultan yang melimpah ruah. Sayangnya saya tidak bisa membuktikannya. Jika datang pada saat lebaran, kemungkinan saya bisa datang mengunjungi rumah beliau. Beberapa selentingan rekan-rekan saya juga mengatakan, jika beruntung bertemu Sultan saat pulang sholat Jumat bisa saja rejeki ratusan dolar diselipkan dalam amplop lalu diberikan sultan saat bersalaman. Mau mencoba?



Lihat tulisan sebelumnya di sini dan di sini
Read More

27 September 2016

Ikan Jebong Khas Karimata ada di Canopy Center


Tidak banyak tempat di Pontianak yang menghadirkan makanan otentik. Satu dua tempat asal betah, teman jalan jajan bisa menemukan lokasi makan “rahasia” yang menyempit dipojokan kota Pontianak. Sebagai foodie tentu teman jalan jajan butuh semangat dan kekuatan untuk menemukan makanan bercitarasa tinggi. Kebetulan saya menemukan menu ikan Jebong yang hanya ada di Pulau Karimata. Di Pontianak baru ada satu tempat yang menyajikannya, Nama nya Canopy Center di Purnama 2 No 20. Berada di rumah toko dengan parkir yang cukup luas.
 
 Canopy Center ,Purnama, Pontianak
 Canopy Center ,Purnama, Pontianak
 Canopy Center ,Purnama, Pontianak
Saya menelisik, ikan apakah Jebong itu? Ikan karang ini mirip ikan buntal dengan sisik yang keras namun tidak sekeras ikan kudu-kudu. Ikan berkulit keras ini paling cocok di bakar. Saya sudah ingin mencicipi ikan ini, menu lain yang saya pesan adalah sup iga sapi, tumis bayam, tumis pakis, tumis toge, kwe tiaw goreng dan mie telor goreng. Tidak lupa minumannya, strawberry mint tea dan peach tea.

Ikan Jebong bakar asli dari Karimata ala  Canopy Center Pontianak
Ikan Jebong bakar asli dari Karimata ala  Canopy Center Pontianak
Ikan Jebong bakar asli dari Karimata ala  Canopy Center Pontianak
Ikan Jebong bakar asli dari Karimata ala  Canopy Center Pontianak
Duh, Saya penasaran dengan ikan Jebong yang diceritakan chef tadi. Kabarnya ikan di kirim langsung dari kepulauan Karimata bahkan bumbu yang digunakan juga resep rahasia yang di dapat langsung dari ikan ini berasal. Saya beruntung bisa mencicipi ikan Jebong pertama kalinya di Pontianak dan diangkut langsung dari Karimata. Ah, makanan sudah mulai tersaji di atas meja. Saya benar-benar lapar dan perut sudah menggelora ingin segera di isi. Sembari memegang sendok dan garpu, saya langsung berteriak,”Selamat makan!”.
Ikan Jebong bakar asli dari Karimata ala  Canopy Center Pontianak
Ikan Jebong bakar asli dari Karimata ala  Canopy Center Pontianak
Ikan Jebong bakar asli dari Karimata ala  Canopy Center Pontianak
Ikan Jebong bakar asli dari Karimata ala  Canopy Center Pontianak
Kulitnya yang keras dan hitam langsung saya singkirkan. Didalamnya ada isi yang putih dan sudah berbumbu kuning, ada rasa dominan seperti jahe, kunyit dan kemiri serta sedikit rasa pedas. Duh.... begitu masuk kemulut langsung terasa daging ikan yang kenyal dan gurih apalagi jika di cocol kedalam kecap bercampur potongan cabe. Saraf lidah sangat dimanjakan dengan bahagia.

Tumis Tauge Seafood ala  Canopy Center Pontianak
Tumis Tauge Seafood ala  Canopy Center Pontianak
Lain lagi dengan sup tulang iga yang benar benar menggoda iman, daging bersama urat yang lebut dan kenyal begitu di kunyah. Kuah bening berkaldu tanpa lemak dengan tambahan kentang dan wortel serta taburan daun bawang dan bawang goreng. Begitu diseruput, rasa gurih dengan kaldu sapi di padu dengan aroma bawang goreng dan terselip rasa lada dan pala Enakkkkkk.... belum lagi kentangnya yang lembut dan gurih. Khas terasa dan sungguh menggoda selera.

Tumis Bayam Seafood ala  Canopy Center Pontianak
Tumis Bayam Seafood ala  Canopy Center Pontianak
Tumis Pakis ala  Canopy Center Pontianak
Tumis Pakis ala  Canopy Center Pontianak
Lain lagi dengan kwetiaw dan mie telur gorengnya. Rasa gurih dengan rasa manis yang sangat tipis. Walaupun tak banyak bahan campuran tapi cukup menggoda selera. Terutama mie telor yang pas tingkat kematangannya. Lain lagi dengan sayurannya yang berbumbu lebih berani. Dengan sentuhan udang segar di setiap tumisannya apalagi ada taburan bawang goreng ditumisan daun bayam, tauge dan pakis. Tumisan pakisnya punya sensasi beda, biasanya hanya pucuk muda saja yang di masak tapi kali ini adalah daun pakisnya yang dijadikan sayur mayur. Bumbunya tumisannya juga ada rasa manis dan pedas yang ditambahkan termasuk dengan rasa tipis belacan.
Kwe Tiaw goreng, Canopy Center Pontianak
Kwe Tiaw goreng, Canopy Center Pontianak
Mie Telor goreng, Canopy Center Pontianak
Mie Telor goreng, Canopy Center Pontianak
Minumannya juga oke banget. Pesanan saya memesan strawberry mint tea yang seger banget, selain rasa strawberrynya yang terasa juga rasa mint nya yang menyegarkan. Rasa segar yang diberikan mampu membuat suasana makan makin mantap. Segar dan siap membersihkan rasa-rasa yang tertinggal di mulut sehingga siap untuk mencicipi rasa yang lain lagi.
 
Kopi Batu Ampar, Americano, Canopy Center Pontianak
Kopi Batu Ampar, Americano, Canopy Center Pontianak
Tempat yang nyaman dengan susasana kondusif serta menu yang aduhai tentu membuat pelanggan betah berlama-lama dan dayang lagi untuk mencoba menu-menu yang lain. Beberapa model meja dan bangku bisa di pilih untuk sekedar bersantai atau makan yang berat. Sofa hingga meja kursi panjang buat makan besar juga ada. Bagi penggemar kopi, meja barista juga siap untuk menyediakan berbagai jenis kopi dengan berbagai macam metode penyajian.

Peach Tea dan StrawberryMint Tea, Canopy Center Pontianak
Peach Tea dan StrawberryMint Tea, Canopy Center Pontianak
Masalah harga berbanding lurus dengan rasa, mulai dari 30K sedangkan kopinya mulai dari 8K. Parkirnya juga luas untuk kendaraan roda 2 dan 4. Lokasi yang lumayan besar membuat mengadakan acara kumpul komunitas. Selamat makan enak dan Salam Yumces! 
Read More

26 September 2016

Refreshing ke Kuching, Kota Penuh Lokasi Wisata


Rainforest World Music Festival
Setelah puas menikmati kota Kuching, saya bergeser menuju Sarawak Cultural Village, di Pantai Damai Santubong. Karena festival ini berlangsung selama 3 hari mulai dari tanggal 5-7 Agustus 2016. Lebih dari 20 musisi dunia akan berbagi panggung di tengah hutan hujan tropis. Lokasi ini terbilang menyenangkan. Berada di dalam sebuah lokasi mirip taman mini Indonesia Indah. Didalamnya terdapat banyak miniatur rumah adat suku yang ada di Sarawak. Lokasinya diapit oleh Gunung Santubong dan pantai Damai.

Me and Pipit, Rainforest World Music Festival 2016
Me and Pipit, Rainforest World Music Festival 2016
Festival ini berisi berbagai macam workshop musik yang dilakukan di 7 titik dengan 15 workshop setiap harinya. Pertunjukan utamanya dilakukan di 3 panggung. Ada theatre stage yang menampilkan musisi yang menggunakan alat musik akustik. Ada 2 pertunjukan setiap sorenya serta 2 panggung utama, dengan 8 pertunjukan bergantian antara Jungle Stage dan Tree Stage.

workshop Rainforest World Music Festival 2016
workshop Rainforest World Music Festival 2016
Musik yang menggabungkan alam dan kultur musik di negara masing-masing. Banyak alat musik dan suara yang belum pernah saya lihat dan dengar sebelumnya disajikan di sini. Sungguh perhelatan musik yang benar-benar mewakili dunia.

Selama 3 hari saya bisa melihat puluhan ribu orang yang datang menonton. Bisa jadi sekitar 20 ribu orang berada di lapangan tengah hutan ini. Walaupun sempat hujan di hari kedua, pengunjung justru semakin banyak dan larut dalam permainan lumpur. Semuanya menari dan ikut bernyanyi. Saya bisa menyaksikan bagaimana musik menjadi bahasa universal yang bisa dipahami semua orang di muka bumi tanpa perlu memahami bahasa yang digunakan untuk liriknya.

Perfomances Rainforest World Music Festival 2016
Perfomances Rainforest World Music Festival 2016
Rainforest World Music Festival mampu menyedot penonton dari penjuru dunia. Tiket yang harus dibayarkan selama 3 hari pertunjukan adalah 320 Ringgit sedangkan untuk penginapan dapat di cari di sekitar daerah Santubong dengan harga yang bervariasi. Jika memiliki uang lebih bisa mendiami resort atau vila yang pemandangannya menghadap ke laut atau hotel berbagai bintang di sini.

Saya juga melihat beberapa pelancong berkantung cekak yang mendirikan tenda di sekitar pantai untuk lebih berhemat. Di sekitar pantai juga terdapat banyak penjual makanan, kantin dan minimarket 24 jam sehingga mudah bagi pelancong untuk bisa bertahan hidup di lokasi ini. Pilihan lain adalah tetap mengambil penginapan murag di kota Kuching dan menaiki bus atau shuttle van dengan membayar 20 ringgit sekali naik atau paket 100 ringgit untuk paket pulang pergi selama 3 hari.

Dol Arastra Bengkulu, Rainforest World Music Festival 2016
Saya sendiri sudah membeli tiket ini pre sale sebelum festival berlangsung termasuk membeli paket hotel untuk 3 hari di sekitar lokasi sehingga tidak perlu repot untuk kesana kemari. Festival ini berlangsung dari pukul 13.00 hingga 01.00 dini hari setiap harinya. Di mulai dengan workshop dan dan diakhiri penampilan musisi di panggung utama. Saya pribadi puas dengan festival yang sudah saya tonton 5 tahun belakangan ini. Bahkan saya tidak sabar dengan kejutan tahun depan yang merupakan perhelatan ke 20 Rainforest World Music Festival yang akan dilaksanakan tanggal 14-16 Juli 2016. Cek saja informasi terbaru mereka di www.rwmf.net

26 pemain dari Malaysia dan seluruh dunia akan berpartisipasi di Rainforest World Music Festival 2016. Dari Sarawak, Alena Murang dan legenda hidup Mathew Ngau akan tampil, serta pemain lainnya seperti Gendang Melayu Sri Buana, Thunder Beats dari Nanyang Wushu Drums serta rombongan dari host festival itu sendiri, Sarawak Cultural Village. Pemain Malaysia lainnya termasuk 1Drum.org dan Akademi Seni Unik dari Malaysia Barat, serta Band Gadis LKNS dari Sabah.

Perfomances, Rainforest World Music Festival 2016
Perfomances, Rainforest World Music Festival 2016
Mewakili Asia Tenggara dan daerah sekitarnya ada Naygayiw Gigi Dance Troupe dari Australia, Dya Singh dari Malaysia / Australia, Dol Arastra Bengkulu dari Indonesia dan Lan Dieu Viet dari Vietnam. Dari Asia Tengah dan Barat, akan tampil Shanren dari China dan sebuah band yang multinegara, band Violons Barbares, anggotanya berasal dari Mongolia, Bulgaria dan Prancis, serta Broukar dari Suriah.

Afrika akan diwakili oleh penampilan dari Pat Thomas & Kwashibu Lokasi Band dari Ghana, Derek Gripper dari Afrika Selatan dan Kolektif Krar dari Ethiopia. Dari Eropa, akan ada Stelios Petrakis Kreta Quartet dari Yunani, Téada dari Irlandia, Auli dari Latvia dan Vassvik dari Norwegia.

Pantai Santubong, Perfomances, Rainforest World Music Festival 2016
Pantai Santubong, Rainforest World Music Festival 2016
Band-band seperti Chouk Bwa Libète dari Haiti dan Vocal Sampling dari Kuba akan mewakili Amerika Latin, dengan performa duo Nukariik yang berasal dari Kanada.

Sarawak Cultural Village
Rugi jika tidak sembari menikmati Sarawak Cultural Village yang terdiri dari beberapa rumah adat seperti Iban, Melanau, Penan, Orang ulu, Bidayuh, Melayu dan Tionghoa. Dari buku panduan yang dibagikan, tempat ini memiliki luas 17 hektar. Dalam setengah hari, saya bisa melihat sarawak dalam satu tempat. Jadi teringat dengan Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta.

Sarawal Cultural Village, Rainforest World Music Festival 2016
Tempat ini sudah ada jalan yang terbuat dari kayu dan semen yang menghantarkan pengunjung memasuki berbagai macam replika rumah adat. Terdapat papan petunjuk yang sudah sangat jelas dan juga papan informasi yang menjelaskan setiap sudut. Ada beberapa petugas yang menggunakan pakaian adat mewakili setiap suku yang ada di Malaysia dan siap menyambut pelancong yang datang. Biasanya pemandu di tiap rumah akan menceritakan asal muasal budaya dan bercerita tentang kehidupan suku ini kesehariannya.

Sarawal Cultural Village, Perfomances, Rainforest World Music Festival 2016
Sarawal Cultural Village, Rainforest World Music Festival 2016

Biasanya wisatawan akan diberikan kesempatan untuk berfoto bersama dengan petugas yang menggunakan baju adat. Setelah puas berkeliling biasanya kita akan dihantarkan menuju teater yang bersebelahan dengan restoran. Di sini ada pertunjukan seni tari multi etnis, pengunjung dapat memesan makanan tradisional di restoran sebelah atau melakukan aktifitas lain seperti melaksanakan pernikahan di sini dengan gaya tradisional suku-suku yang ada di sini.

Sarawal Cultural Village, Perfomances, Rainforest World Music Festival 2016
Sarawal Cultural Village, Perfomances, Rainforest World Music Festival 2016
Selain rumah adat di sini juga terdapat banyak taman yang indah dan juga beberapa telaga buatan yang indah sekali jika tepat mengambil sudut gambarnya. Berada di tengah pohon di hutan dengan pohon yang tinggi membuat suasana sejuk dan nyaman.

Pantai Damai, Santubong
Tidak jauh dari Sarawak Cultural Village ada Pantai Damai yang bisa di capai dengan berjalan kaki cukup 10 menit saja. Di sini terdapat pantai dengan pasir putih kecoklatan dan landai serta bebatuan yang tidak terlalu besar. Walaupun dalam beberapa waktu airnya tidak jernih dan ombaknya tidak begitu besar sehingga aman untuk berenang.

Saya termasuk penggemar pantai dan tidak mau melewatkan ritual melihat matahari tenggelam. Duduk di atas pasir putih sembari bermain air adalah waktu yang sempurna. Semburat cahaya jingga di langit terpancar dan memantul di antara awan biru. Saya selalu terpesona dengan keindahan alam ini dan tidak pernah bosan untuk melihatnya berulang selama 3 hari.

Pantai Santubong, Perfomances, Rainforest World Music Festival 2016
Pantai Santubong, Perfomances, Rainforest World Music Festival 2016
Jika anda menginap di salah satu hotel di sekitar sini biasanya ada panggung musik yang dipersembahkan oleh musisi lokal. Saya beruntung melihat grup musik lokal Iban dengan instrumen tradisional seperti gendang dan sape’. Alunan musik syahdu semakin menghantarkan suasana bahagia sore hari. Pantai santubong ini sungguh luas dan panjang sehingga bisa digunakan untuk jogging pagi dan sore hari.

Pantai Santubong, Perfomances, Rainforest World Music Festival 2016
Pantai Santubong, Perfomances, Rainforest World Music Festival 2016
Di lokasi pantai ini juga terdapat bangunan bulat yang dipenuhi dengan toko, restoran, bar dan kantin yang memenuhi kebutuhan pengunjunn. Ada bagian kosong ditengahnya untuk berbagai macam kegiatan seperti pameran dan pagelaran musik. Biasanya ada backpacker hemat yang mendirikan tenda di bagian luar sebelah kanan bangunan.Tulisan sebelumnya ada di sini dan di sini


Read More

23 September 2016

Sajian Seafood segar di Fresh Seafood


Salah satu makanan favorit saya di dunia ini adalah seafood atau makanan dari sari laut. Olahannya biasanya sederhana dan tidak aneh-aneh. Apalagi memasaknya tidak butuh waktu lama dan boleh di bilang minim bumbu. Kebetulan di dekat rumah terdapat Sajian Seafood segar dari Fresh Seafood. 10 menit dari gang dan berada di pinggiran Jalan Purnama Pontianak tidak jauh dari Purnama Mart. Saatnya menyusurinya lalu makan bersama.

Cap Cay Seafood  "Fresh Food Purnama" 
Cap Cay Seafood  "Fresh Food Purnama"
Salah satu hal penting dari sajian seafood adalah tingkat kesegarannya yang mesti paten dan tidak boleh di tawar. Harus segar karena nantinya akan menentukan rasa. Paling tidak nama “Fresh Food” harus menggambarkan bagaimana kelezatan makanan di sini.

Tom Yam "Fresh Food Purnama"
Tom Yam "Fresh Food Purnama"
Pesanan saya malam ini cukup banyak, ikan bawal asam manis, cap cay seafood, tom yam dan bihun goreng seafood. Tidak lupa es jeruk kecil supaya kesegaran yang di rasa double double. Makanan di masak langsung di dapur yang ada di bagian depan tempat ini. Konsep open kitchen sehingga tamu bisa melihat langsung proses memasak. Konsep “tiada dusta diantara kita” jadi pilihan cara memasak di fresh food.

Me and my Family "Fresh Food Purnama"
Me and my Family "Fresh Food Purnama"
Dalam 10 menit semua makanan sudah datang semua. Cepat dan aromanya sungguh menggoda untuk bisa segera dinikmati. Saya tidak sabar untuk segera menikmati semua makanan yang ada di sini. Bihun seafood beralaskan daun pisang dengan potongan cabe karena saya memesan yang pedas ada sedikit potongan cumi dan beberapa udang serta bakso ikan. Terlihat minimalis dengan porsi yang tidak terlalu besar Ada tambahan sayuran sawi dan tauge untuk kebutuhan serat. Aroma kecap dan saus berpadu bawang putih terlalu membuat saya bersemangat untuk makan. Ada sedikit kerak dan aroma gosong dari telur yang di orak arik didalamnya. Saya tetap suka rasanya walaupun ada sedikit pahit. 15K harganya. Lumayan ramah.

Bawal Goreng Asam Manis  "Fresh Food Purnama"
Bawal Goreng Asam Manis  "Fresh Food Purnama"
Lain lagi dengan ikan bawal berselimut tepung yang di goreng gareng baru kemudian di siram dengan kuah asam manis dari saus tomat dan cabe dengan potongan nanas, timun dan  wortel serta di tambah potongan bombay dan cabe besar. Ikannya lembut dengan kulit tepung yang gurih dengan tambahan rasa asam manis yang segar. Sayurannya masih krispi tapi menurut saya, alas daun pisang yang di pakai terasa mengganggu dan malah terlihat tidak cocok. Harganya tergantung dari besarnya ikan yang di pesan. Saat ini saya mendapat harga 70K untuk seekor ikan yang mungkin beratnya 700 gram.

Bihun Goreng Seafood "Fresh Food Purnama"
ihun Goreng Seafood "Fresh Food Purnama"
Karena memasak sayurannya sudah tepat tingkat kematangannya, otomatis cap cay yang di masak juga enak. Sedikit potongan cumi, udang dan bakso ikan berpadu dengan kuah kental yang gurih dengan saus yang menyelimuti semua sayuran; sawi, wortel, jagung muda, semua berpadu nikmat. Kuahnya terlalu banyak menurut saya dengan tambahan orak arik telur dan potongan cabe merah serta batang daun bawang. Harganya 20K saja.

bihun Goreng Seafood "Fresh Food Purnama"
Bihun Goreng Seafood "Fresh Food Purnama"
Makan di fresh food dengan porsi yang alumyan besar. Bisa dinikmati dengan 2-3 orang jika di tambah dengan nasi putih. Tempatnya sederhana namun terasa nyaman dan lumayan luas. Parkir kendaraan roda dua lumayan luas namun agak sempit untuk kendaraan roda empat. Saya beberapa kali makan di sini dan selalu memesan bihun yang agak gosong itu. 8 dari 10. Lumayan dekat dari rumah dan nyokap juga suka. Selamat makan dan salam yumces


Read More