Merawat Jejak Sejarah Peh Cun dan Nikmatnya Bakcang Kicang ala Pontianak

Jelajahi sejarah, keunikan, dan resep asli Bakcang Kicang Pontianak. Temukan perbedaan keduanya serta pesona perayaan Festival Peh Cun di sini!
Pontianak tidak hanya dikenal dengan kemeriahan Festival Imlek atau Cap Go Meh nyaPerayaan Peh Cun atau Festival Perahu Naga selalu identik dengan aroma harum daun bambu yang direbus, kepulan asap dari dapur tradisional, dan jajaran penganan berbentuk piramida mini yang menggugah selera. Ikutan Tukang Jalan Jajan bercerita sedikit yuk! Soalnya Peh Cun juga diadakan di Pontianak

Sejarah Tragis di Balik Kelezatan Bakcang, Kisah Qu Yuan dan Festival Peh Cun
 Kelezatan Bakcang dan Kicang Pontianak

Indonesia, khususnya di kota khatulistiwa, kombinasi Bakcang Kicang Pontianak menjadi sebuah ikon kultural yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga membawa narasi sejarah ribuan tahun yang sarat akan nilai moral, kesetiaan, dan akulturasi budaya yang harmonis.

Bagi masyarakat Kalimantan Barat, khususnya Kota Pontianak, menyantap bakcang dan kicang bukan sekadar rutinitas kuliner tahunan Pontianak. Ia adalah jembatan memori yang menghubungkan generasi muda dengan leluhur mereka, sekaligus menjadi penggerak roda ekonomi dan pariwisata daerah. 

Sejarah Tragis di Balik Kelezatan Bakcang, Kisah Qu Yuan dan Festival Peh Cun

Untuk memahami mengapa bakcang begitu dihormati, kita harus memutar kembali jarum jam ke Zaman Negara-Negara Berperang (Warring States Period) di Tiongkok kuno, sekitar abad ke-3 Sebelum Masehi. Sejarah bakcang berakar dari kisah tragis seorang tokoh besar bernama Qu Yuan (340–278 SM).

Qu Yuan adalah seorang menteri, diplomat, sekaligus penyair patriotik terkemuka dari Negara Chu. Ia dikenal karena kecerdasannya, integritasnya yang tinggi, serta cintanya yang mendalam terhadap tanah airnya. 

Pada masa itu, Negara Chu terancam oleh ekspansi agresif dari Negara Qin yang kuat. Qu Yuan berulang kali mendesak Raja Chu untuk melakukan reformasi internal dan bersekutu dengan negara lain demi membendung kekuatan Qin. sayangnya, nasihat-nasihat bijak Qu Yuan ditolak oleh raja akibat fitnah dan intrik politik dari para menteri korup yang merasa terancam oleh pengaruhnya. Akibatnya, Qu Yuan diasingkan dari ibu kota.

Selama masa pembuangannya, Qu Yuan tidak berhenti mencintai negaranya. Ia menuangkan kesedihan, kekhawatiran, dan kecintaannya pada rakyat melalui karya-karya puisi legendaris seperti Li Sao (Pertemuan dengan Kesedihan) dan Jiu Ge (Sembilan Lagu). 

Ketika ramalannya terbukti benar di mana ibu kota Negara Chu akhirnya jatuh dan ditaklukkan oleh tentara Qin pada hari kelima bulan kelima penanggalan imlek, Qu Yuan didera keputusasaan yang teramat sangat.

Sebagai bentuk protes moral atas keruntuhan negaranya dan korupsi yang merajalela, serta keengganannya untuk melihat tanah airnya dijajah, Qu Yuan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat ke dalam Sungai Miluo sambil memeluk batu besar. Peristiwa tragis ini memicu gelombang kesedihan yang luar biasa di kalangan rakyat jelata yang sangat mencintainya.

Sejarah Tragis di Balik Kelezatan Bakcang, Kisah Qu Yuan dan Festival Peh Cun
Sejarah Tragis di Balik Kelezatan Bakcang, Kisah Qu Yuan dan Festival Peh Cun

Lahirnya Tradisi Bakcang dan Perahu Naga

Mendengar kabar bahwa Qu Yuan menenggelamkan diri, para nelayan lokal segera bergegas menggunakan perahu mereka untuk mencari jasad sang penyair di Sungai Miluo. Mereka mendayung perahu dengan cepat ke sana kemari sambil memukul genderang dan mendayung dengan keras guna menakut-nakuti ikan-ikan dan makhluk air lainnya agar tidak memakan jasad Qu Yuan. Aksi penyelamatan dan pencarian inilah yang menjadi cikal bakal dari Tradisi Balap Perahu Naga yang kita kenal hari ini.

Selain mendayung perahu, masyarakat juga merasa khawatir bahwa ikan-ikan di sungai akan kelaparan dan merusak tubuh Qu Yuan. Oleh karena itu, mereka melemparkan bungkusan nasi ketan yang dibungkus dengan daun ke dalam sungai sebagai makanan pengalih perhatian bagi makhluk air tersebut.

Bakcang Pontianak
Bakcang Enak Pontianak

Pada awalnya, makanan tersebut dibungkus dengan bambu bumbung (tabung bambu), namun seiring berjalannya waktu, metode pembungkusan berevolusi menggunakan daun bambu atau daun alang-alang yang diikat dengan tali, membentuk limas segi empat (piramida). 

Penganan inilah yang kemudian dinamakan Zongzi (dalam bahasa Mandarin) atau Bakcang (dalam dialek Hokkien). Ritual melemparkan bakcang ke sungai dan mendayung perahu naga ini dilakukan setiap tahun pada hari kelima bulan kelima penanggalan Imlek, sebuah festival yang dikenal sebagai Festival Peh Cun (Duanwu Jie).

Jembatan Budaya dan Rasa, Masuk ke Indonesia dan Kalimantan Barat

Migrasi massal masyarakat dari daratan Tiongkok selatan (terutama dari provinsi Fujian, Guangdong, dan Hainan) menuju Kepulauan Nusantara telah berlangsung selama berabad-abad. Gelombang migrasi ini membawa serta adat istiadat, kepercayaan, bahasa, dan tentu saja kekayaan kuliner mereka. Saat para imigran Tionghoa menetap di berbagai daerah di Indonesia, mereka beradaptasi dengan lingkungan, ketersediaan bahan pangan lokal, dan budaya masyarakat setempat.

Bakcang Pontianak
Bakcang Pontianak dibungkus dan diikat dengan tali

Kata "Bakcang" sendiri berasal dari dialek Hokkien/Tiochu: 肉粽 (Bak-cang). Secara harfiah, Bak berarti daging (biasanya merujuk pada daging babi), dan Cang berarti penganan berbahan dasar beras atau ketan yang dibungkus daun. Di Indonesia, pelafalannya bervariasi mulai dari Bakcang, Bacang, hingga Cang.

Masuknya Bakcang ke Kalimantan Barat dan Pontianak

Kalimantan Barat, khususnya kota-kota seperti Pontianak dan Singkawang, memiliki jalinan sejarah yang sangat kuat dengan komunitas Tionghoa, mayoritas dari sub-etnis Teochew (Tiochu) dan Hakka (Khek). Pada masa Kesultanan Pontianak dan era pertambangan emas di Monterado (abad ke-18 dan ke-19), ribuan warga Tionghoa datang dan membangun permukiman di sepanjang aliran Sungai Kapuas.
Masuknya bakcang ke Kalimantan Barat terjadi secara alami melalui penyebaran budaya domestik.

Ketika merantau, para ibu rumah tangga Tionghoa tetap mempertahankan tradisi memasak hidangan festival di rumah mereka untuk menghormati leluhur. Berhubung Pontianak dialiri oleh Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia, perayaan Peh Cun menemukan ruang geografis yang sangat relevan. 

Kemiripan lanskap Sungai Kapuas dengan Sungai Miluo di Tiongkok membuat tradisi melarung perahu, mandi di tengah hari, dan memakan bakcang terasa sangat autentik bagi komunitas Tionghoa Pontianak.
Seiring berjalannya waktu, terjadi proses akulturasi yang luar biasa. 

Jika di negara asalnya bakcang menggunakan bahan-bahan musiman spesifik, di Pontianak, ketersediaan rempah-rempah lokal, penggunaan daging ayam, sapi, atau bahkan ikan (untuk versi halal), serta adaptasi rasa yang lebih gurih dan manis-asin, membuat Bakcang Kicang Pontianak memiliki cita rasa unik yang membedakannya dari versi aslinya di Tiongkok.

Apa yang Membuat Festival Bakchang di Pontianak Begitu Istimewa?

Festival Peh Cun atau Hari Bakcang di Pontianak memiliki daya tarik yang luar biasa, tidak hanya bagi warga lokal tetapi juga bagi wisatawan mancanegara. Bahkan, saking ikoniknya perayaan ini, Festival Bakcang kini telah resmi masuk ke dalam Kalender Event Pariwisata Kota Pontianak (berdasarkan rilis resmi PPID Kota Pontianak). Hal ini menegaskan bahwa tradisi Tionghoa ini bukan lagi milik satu etnis saja, melainkan sudah menjadi kekayaan budaya komunal warga Pontianak.

Ada beberapa elemen utama yang membuat Festival Bakchang di Pontianak begitu istimewa dan dinantikan:

Mandi di Sungai Kapuas pada Tengah Hari (Mandi Peh Cun)

Salah satu fenomena unik yang hanya bisa disaksikan setahun sekali adalah tradisi mandi bersama di Sungai Kapuas tepat pada pukul 12.00 siang di hari H perayaan Peh Cun. Menurut kepercayaan turun-temurun, pada hari kelima bulan kelima imlek, posisi matahari berada pada titik kulminasi tertinggi yang memancarkan energi Yang (positif) terkuat sepanjang tahun. Air sungai yang mengalir pada jam tersebut dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit, membersihkan diri dari nasib buruk, dan menjaga kebugaran tubuh. Ribuan warga akan turun ke sungai menggunakan sampan, kapal wisata, atau sekadar berenang di tepian dermaga.

Parade Perahu Tradisional

Sungai Kapuas yang lebar dan tenang menjadi arena yang sempurna untuk parade perahu sembari menikmati Bakcang melintasi Sungai Kapuas. Perahu-perahu ini berhias dan memang disewa oleh beberapa kelompok masyarakat untuk menyemarakkan festival. Ada yang menyediakan gratis, ada pula yang membayar tiket. Biasanya akan ada keseruan yang disiapkan di kapal selama pelayaran.

Rekor Bakcang Raksasa dan Pasar Kuliner

Dalam festival pariwisata Pontianak, komunitas kuliner sering kali membuat replika atau bakcang raksasa dengan berat mencapai ratusan kilogram yang kemudian dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Sepanjang jalan Gajah Mada dan Jalan Diponegoro disulap menjadi surga kuliner Pontianak, di mana ratusan pedagang menjajakan variasi Bakcang Kicang Pontianak dengan resep rahasia keluarga mereka.

Eksplorasi Jenis dan Rasa

Bagi mata awam, semua bungkusan daun berbentuk piramida mungkin terlihat sama. Namun, di dalam khazanah kuliner Tionghoa, variasi bakcang sangatlah kaya. Di Pontianak sendiri, terdapat perbedaan kontras yang sangat jelas antara Bakcang dan Kicang, baik dari segi bahan baku, rasa, maupun cara penyajiannya.

Ragam Jenis Bakcang di Indonesia

Secara umum, berdasarkan asal sub-etnisnya, bakcang di Indonesia terbagi menjadi beberapa jenis utama:
  1. Bakcang Hokkien. Biasanya menggunakan beras ketan yang ditumis terlebih dahulu dengan kecap asin dan bumbu lima rempah (ngohiong), sehingga warnanya cenderung cokelat tua. Isiannya sangat kaya, meliputi daging (babi/ayam), jamur shiitake, sosis Tionghoa (lapchiong), kuning telur asin, dan kacang kastanye (chestnut).
  2. Bakcang Teochew (Tiochu). Ini adalah varian yang sangat populer di Pontianak. Keunikannya terletak pada perpaduan rasa manis dan gurih dalam satu bungkus. Selain daging dan telur asin, bakcang Tiochu sering kali ditambahkan pasta kacang merah manis (tausa) di bagian tengahnya. Perpaduan ini menciptakan sensasi rasa yang kompleks dan legit.
  3. Bakcang Hakka (Khek). Cenderung lebih sederhana, fokus pada rasa gurih beras ketan putih yang tidak terlalu banyak diberi kecap, namun isian daging cincang, ebi (udang kering), dan lobak manis (cai po) melimpah di dalamnya.
  4. Bakcang Peranakan (Nyonya). Populer di kawasan Selat Malaka, menggunakan ketan putih yang diberi pewarna biru alami dari bunga telang, dengan isian daging cincang murni yang dibumbui ketumbar dan manisan musim dingin (musim labu). Rasanya cenderung manis-gurih aromatik.

Bakcang vs Kicang (Kee Chang)

Berdasarkan referensi kuliner tepercaya, ini adalah perbedaan mencolok antara Bakcang dan Kicang yang wajib kamu tahu agar tidak salah beli

Bakcang vs Kicang (Kee Chang)
Bakcang vs Kicang (Kee Chang)

Kicang (Kee Chang) mengandalkan reaksi kimia alami dari penggunaan air abu (biasanya bersumber dari abu pembakaran tangkai padi atau cangkang kerang khusus) yang membuat pati dalam ketan mengalami gelatinisasi sempurna, menghasilkan tekstur kenyal yang unik dan warna kuning keemasan yang cantik.

Tradisional vs Modernisasi, Bakcang Tetap Eksis di Lidah

Di era modern yang serba instan, pembuatan bakcang tradisional menghadapi tantangan sekaligus peluang baru. Proses pembuatan bakcang secara tradisional dikenal sangat rumit, memakan waktu (time-consuming), dan membutuhkan keahlian khusus, terutama dalam teknik membungkusnya agar tidak bocor saat direbus selama berjam-jam.

Bagaimana Bakcang Tradisional Dibuat?

Pembuatan bakcang tradisional Pontianak melibatkan "kerja gotong royong" dalam keluarga. Tahapannya meliputi:
  1. Persiapan Daun. Daun bambu kering berukuran besar harus direbus terlebih dahulu agar lemas dan steril, kemudian disikat satu per satu di bawah air mengalir untuk menghilangkan bulu-bulu halus yang bisa membuat tenggorokan gatal, lalu dilap kering.
  2. Pengolahan Isian. Daging, jamur, ebi, dan bumbu ngohiong ditumis hingga matang dan meresap sempurna. Kuning telur asin disiapkan terpisah.
  3. Menumis Ketan. Ketan yang sudah direndam semalaman ditumis dengan bawang putih, kecap, dan kaldu hingga setengah matang agar bumbunya meresap sampai ke serat terdalam.
  4. Teknik Membungkus. Ini adalah seni tersendiri. Dua lembar daun bambu disusun tumpang tinh, ditekuk membentuk kerucut/corong yang rapat di bagian bawah agar tidak ada celah. Ketan dimasukkan sebagian, disusul isian lauk, ditutup lagi dengan ketan, kemudian dilipat membentuk limas segi empat dengan sudut-sudut yang tajam dan presisi.
  5. Pengikatan. Menggunakan tali rafia atau tali rami tradisional. Ikatan harus pas—tidak boleh terlalu kencang (bisa membuat daun pecah saat ketan mengembang) dan tidak boleh terlalu longgar (air rebusan masuk dan merusak tekstur bakcang).
  6. Perebusan Lama. Bakcang tradisional harus direbus dalam panci besar terendam penuh selama 4 hingga 6 jam agar ketan matang tanak sempurna dan awet disimpan beberapa hari tanpa pengawet kimia.

Modernisasi Bakcang di Era Modern

Meskipun prosesnya rumit, modernisasi membawa angin segar bagi kelestarian kuliner ini. Melalui platform digital seperti Instagram (misalnya melalui konten edukatif di Reels Instagram), TikTok, dan Cookpad, resep-resep rahasia keluarga kini tersebar luas. 

Kicang Pontianak.
Kicang Pontianak dibungkus daun bambu

Kreator konten Pontianak aktif membagikan tutorial video cara membungkus bakcang bagi pemula, yang membantu milenial mempelajari keahlian ini dengan mudah.

Modernisasi juga terlihat pada alat masak. Kini, banyak ibu rumah tangga menggunakan Pressure Cooker (Presto) untuk merebus bakcang, memangkas waktu perebusan dari 5 jam menjadi hanya 1 hingga 1,5 jam saja, dengan hasil ketan yang sama pulennya. 

Selain itu, inovasi isian juga bermunculan: ada bakcang vegetarian (menggunakan jamur dan daging nabati), bakcang diet (menggunakan beras merah atau shirataki), hingga bakcang premium dengan isian abalon dan scallop kering untuk kalangan menengah ke atas.

Harmoni Rasa yang Pas dengan Bakcang dan Kicang

Menikmati Bakcang Kicang Pontianak memiliki "etiket" kulinernya sendiri agar kombinasi rasanya mencapai titik optimal. Berhubung kedua penganan ini memiliki karakteristik yang bertolak belakang (bakcang gurih-berat, kicang tawar-kenyal), pendampingnya pun berbeda.
Pasangan Serasi untuk Bakcang

Bakcang Pontianak
Bakcang Pontianak dengan sambal cocol khas Pontianak

Bakcang adalah hidangan yang padat karbohidrat dan kaya lemak dari daging serta minyak tumisan. Untuk mengimbangi rasa gurih yang pekat (heavy), masyarakat Pontianak biasanya menikmati bakcang bersama:
  • Teh Krisan (Ju Hua Cha) atau Teh Liang Warm. Teh herbal tanpa gula atau dengan sedikit gula batu sangat efektif untuk "membersihkan" langit-langit mulut (palate cleanser) dari sisa minyak dan mencegah rasa enek (neg). Teh hijau hangat juga menjadi pilihan yang sangat baik.
  • Sambal Cuka Pontianak. Berbeda dengan daerah lain yang memakan bakcang begitu saja, di Pontianak, bakcang sering dicocol ke dalam sambal cair yang terbuat dari cabai rawit ulek, bawang putih, garam, dan cuka makan. Rasa asam-pedas yang segar memotong kepekatan lemak lauk bakcang secara sempurna.

Pasangan Serasi untuk Kicang

Karena kicang bertekstur kenyal dan rasanya tawar dengan aroma air abu yang khas, ia membutuhkan elemen pemanis yang kuat. Kicang paling nikmat dimakan dingin (setelah dimasukkan ke dalam lemari es) dan dipadukan dengan:

Kicang Pontianak
Kicang Pontianak
  • Sirup Gula Merah Kental (Kinca). Gula merah kelapa atau gula aren dimasak dengan sedikit air, daun pandan, dan sedikit garam hingga mengental. Kicang dipotong-potong lalu disiram sirup ini.
  • Madu Murni. Pilihan praktis yang memberikan rasa manis elegan dan menonjolkan kelembutan tekstur jeli kicang.
  • Kaya (Srikaya Pontianak). Selai srikaya khas Pontianak yang dibuat dari telur, santan, dan gula juga sering dijadikan cocolan modern untuk kicang, menghasilkan perpaduan barat-timur yang legit.

Resep Tradisional Bakcang dan Kicang Khas Pontianak

Bagi kamnu yang ingin merasakan sensasi kehangatan dapur tradisi di rumah sendiri, ini adalah  resep sederhana Bakcang Kicang Pontianak yang bisa dipraktekkan di rumah sendiri.

Bakcang Ayam Spesial (Versi Halal & Gurih)

Bahan Utama:

  • 1 kg beras ketan putih berkualitas baik (cuci bersih, rendam minimal 3 jam, tiriskan)
  • 40-50 lembar daun bambu besar (rebus, sikat bersih, potong ujung tangkainya yang keras)
  • Tali pengikat secukupnya

Bumbu Tumis Ketan:

  • 5 siung bawang putih (cincang halus)
  • 3 sendok makan kecap asin
  • 2 sendok makan kecap manis
  • 1 sendok teh bubuk ngohiong (lima rempah)
  • 1 sendok teh garam & 1 sendok teh kaldu jamur
  • 3 sendok makan minyak goreng untuk menumis

Bahan Isian (Tumisan Lauk):

  • 500 gram daging paha ayam filet (potong dadu kecil)
  • 100 gram jamur shiitake kering (rendam air panas hingga mekar, potong tipis)
  • 50 gram ebi (udang kering), rendam air hangat, tumbuk kasar
  • 5 siung bawang merah & 4 siung bawang putih (cincang halus)
  • 3 sendok makan kecap manis
  • 2 sendok makan saus tiram
  • 1 sendok teh minyak wijen
  • 1/2 sendok teh merica bubuk
  • Air kaldu secukupnya
  • Pelengkap: 10 butir kuning telur asin (potong jadi dua bagian)

Langkah Memasak:

  1. Membuat Isian. Panaskan minyak, tumis bawang merah, bawang putih, dan ebi hingga harum. Masukkan daging ayam dan jamur. Tambahkan kecap manis, saus tiram, minyak wijen, merica, garam, dan sedikit air kaldu. Masak hingga daging empuk dan airnya menyusut habis (isian harus agak kering). Angkat dan sisihkan.
  2. Menumis Ketan. Di wajan yang sama, panaskan sedikit minyak, tumis bawang putih hingga kuning. Masukkan ketan yang sudah ditiriskan. Tambahkan kecap asin, kecap manis, bubuk ngohiong, garam, dan kaldu jamur. Aduk rata di atas api kecil selama 5-7 menit hingga bumbu meresap dan ketan agak lengket. Matikan api.
  3. Membungkus. Ambil dua lembar daun bambu, susun berlawanan arah agar lebar. Tekuk di bagian tengah membentuk corong tanpa lubang di ujung bawahnya. Masukkan 1 sendok makan ketan, beri 1 sendok makan tumisan lauk, selipkan setengah potong kuning telur asin, lalu tutup kembali dengan 1 sendok makan ketan di atasnya.
  4. Melipat. Lipat sisa daun bambu ke depan menutupi isi, rapatkan bagian sampingnya hingga membentuk piramida bersudut empat. Ikat dengan tali secara rapat dan kuat (lakukan dua kali lilitan silang).
  5. Merebus. Tata bakcang di dalam panci besar, tuangkan air hingga semua bakcang benar-benar terendam sepenuhnya. Rebus dengan api sedang selama 4 jam (tambahkan air panas jika air menyusut). Jika menggunakan panci presto, cukup rebus selama 75 menit dihitung sejak panci mendesis. Angkat, gantung, dan tiriskan agar sisa air menetes habis.
Bakcang Pontianak
Bakcang Pontianak dengan tambahan Isian telur asin

Kicang Kenyal Tradisional (Kee Chang)

Bahan Utama:

  • 500 gram beras ketan putih gajah (kualitas premium, cuci bersih)
  • 1,5 sendok makan air abu / air alkali (bisa dibeli di toko bahan kue)
  • 1 sendok makan minyak sayur (agar ketan tidak terlalu menempel pada daun)
  • Daun bambu berukuran sedang (rebus dan bersihkan)
  • Tali pengikat

Bahan Sirup Gula (Kinca):

  • 250 gram gula merah/aren asli Pontianak (sisir halus)
  • 150 ml air putih
  • 2 lembar daun pandan (simpulkan)
  • 1/4 sendok teh garam

Langkah Memasak:

  1. Merendam Ketan. Rendam beras ketan yang sudah dicuci bersih ke dalam air secukupnya, lalu campurkan air abu dan minyak sayur. Aduk rata. Rendam selama minimal 4-5 jam atau semalaman agar air abu meresap sempurna ke dalam pori-pori ketan. Setelah selesai, tiriskan (jangan dibilas lagi agar fungsi air abu tidak hilang).
  2. Membungkus Kicang. Cara membungkus kicang mirip dengan bakcang, namun takarannya lebih sedikit karena kicang akan sangat mengembang menjadi jeli. Ambil daun bambu, bentuk kerucut kecil. Masukkan ketan sekitar 1 hingga 1,5 sendok makan saja (beri ruang kosong di bagian atas kerucut agar ketan bisa mengembang dengan bebas). Lipat daun dengan rapi dan ikat dengan tali rami agak sedikit longgar dibanding mengikat bakcang biasa.
  3. Perebusan. Rebus kicang dalam air mendidih yang banyak (harus terendam total) selama kurang lebih 3 hingga 4 jam sampai ketan menyatu sempurna menjadi struktur jeli yang padat dan transparan.
  4. Membuat Sirup. Rebus gula merah, air, daun pandan, dan garam hingga mendidih dan mengental. Saring sirup agar bersih dari kotoran sisa gula.
  5. Penyajian. Angkat kicang, tiriskan, dan biarkan dingin pada suhu ruang atau masukkan ke dalam kulkas. Buka bungkus daun bambunya, potong sesuai selera, lalu siram dengan sirup gula merah kental. Kicang kenyal nan dingin siap dinikmati.
Kicang Pontianak 2
Kicang Pontianak dengan Saus Kinca

Merawat Tradisi Lewat Sepotong Bakcang dan Kicang Pontianak

Keberadaan Bakcang Kicang Pontianak yang terus lestari hingga hari ini merupakan bukti nyata bahwa kuliner memiliki kekuatan magis untuk merawat ingatan kolektif suatu bangsa. Dari sebuah tragedi kemanusiaan di bantaran Sungai Miluo ribuan tahun silam, menjelma menjadi sebuah pesta rakyat yang meriah di sepanjang Sungai Kapuas.

Menikmati bakcang dan kicang bukan sekadar urusan memanjakan indra pencecap, melainkan sebuah bentuk apresiasi terhadap nilai kesetiaan Qu Yuan, ketekunan para ibu yang melipat daun bambu dengan presisi di dapur, serta keindahan harmoni multi-etnis yang tumbuh subur di bumi Pontianak. 

Peran kita bersama adalah terus mendukung eksistensi kuliner tradisional ini, baik dengan cara membelinya dari UMKM lokal, membagikan keseruannya di media sosial, atau mencoba membuatnya sendiri di rumah menggunakan resep tradisional. Selamat merayakan Festival Peh Cun, mari lestarikan kekayaan kuliner Nusantara! Selamat Mencoba dan Salam Yumcez!




Warga negara Indonesia yang cinta budaya dan kuliner Indonesia dan sekarang menetap di Pontianak. Berprinsip belajar terus menerus dan berusaha tetap dinamis. Berpikiran bahwa hasil tidak akan menghianati usaha serta percaya bahwa rejeki tidak mungkin tertukar.