Menjelajah Pesona "City of Cats" dalam Sehari
Eksplorasi seru liburan di Kuching Malaysia ala Tukang Jalan Jajan! Intip rute 1 hari di pusat kota, kuliner legendaris, hingga museum kelas dunia.
Memilih destinasi untuk melipir sejenak dari rutinitas terkadang gampang-gampang susah, tapi bagi Tukang Jalan Jajan, Kuching selalu punya daya tarik yang sulit ditolak. Berbeda dengan hiruk-pikuk kota besar di semenanjung, Ibu Kota Sarawak ini menawarkan vibe yang jauh lebih santai, tenang, dan sangat ramah bagi para backpacker maupun solo traveler pemula.
![]() |
| Liburan di Kuching Malaysia, Menjelajah Pesona "City of Cats" dalam Sehari |
Kota ini seolah mengajak kita untuk berjalan lebih lambat, menikmati udara bersihnya, dan merasakan kehangatan warganya yang membuat siapa pun langsung merasa seperti di rumah sendiri.
Alasan utama yang membuat banyak orang betah berlama-lama di sini adalah perpaduan budayanya yang begitu organik, mulai dari deretan bangunan kolonial yang estetik hingga kemegahan museum budaya Borneo yang memukau.
Liburan di Kuching Malaysia, Menjelajah Pesona "City of Cats" dalam Sehari
Bicara soal jalan-jalan, bagi kita yang berdomisili di Kalimantan Barat, "pergi ke luar negeri" terkadang terasa semudah pergi ke kota tetangga. Ya, apalagi kalau bukan berkunjung ke Kuching, Sarawak, Malaysia. Kuching selalu punya tempat tersendiri di hati Tukang Jalan Jajan. Kotanya tenang, bersih, dan yang paling penting: kulinernya juara!
![]() |
| Mural bertebaran di dinding jalanan Kuching |
Kali ini, saya ingin membagikan panduan buat kamu yang berencana melakukan Liburan di Kuching Malaysia, khususnya buat kamu yang punya waktu terbatas tapi ingin merasakan denyut nadi pusat kotanya hanya dalam satu hari. Yuk, siapkan sepatu ternyamanmu, kita mulai petualangannya!
Pagi Hari, Sarapan Ikonis dan Menyapa Sang Kucing
Memulai hari di Kuching tak lengkap rasanya tanpa "ritual" sarapan ala warga lokal. Destinasi pertama yang wajib kamu tuju adalah Chong Choon Cafe atau Choon Hui Cafe. Di sini, kamu harus memesan Sarawak Laksa. Mendiang Anthony Bourdain bahkan menyebut hidangan ini sebagai "Breakfast of the Gods".
![]() |
| Menu laksa Sarawak dan Mie Jawa Chong Choon Cafe |
Bayangkan bihun lembut yang disiram kuah rempah kental dengan perasan jeruk nipis dan sambal belacan... chef’s kiss! Sebuah pembuka hari yang sangat bertenaga.
| toko toko China Town di Jalan Padungan |
Setelah perut kenyang, saatnya kita bergerak ke ikon paling terkenal di kota ini, Patung Kucing (Great Cat Statue) di Padungan. Tak sah rasanya Liburan di Kuching Malaysia tanpa berfoto di depan patung kucing yang seringkali "didandani" sesuai hari besar yang sedang berlangsung.
![]() |
| Patung Kucing (Great Cat Statue) di Padungan |
Area Padungan ini juga sangat cantik dengan bangunan-bangunan tua bergaya kolonial yang masih terawat apik. Sambil jalan santai, kamu bisa melihat deretan ruko yang menjual oleh-oleh khas seperti Kek Lapis Sarawak yang warna-warni itu.
Rute lain yang kamu bisa coba adalah memulai dengan langkah kaki yang penuh semangat menyusuri jejak sejarah. Perhentian pertama saya adalah Masjid Pink (Masjid Lama) yang ikonik, sebuah bangunan megah nan cantik yang menyimpan cerita panjang perjalanan religi di kota ini. Tak jauh dari sana, langkah membawa saya ke depan galangan kapal James Brooke, tempat di mana sisa-sisa sejarah maritim era White Rajah masih terasa kental.
Menjelang Siang, Menelusuri Jejak Sejarah di Main Bazaar
Dari Padungan, mari kita melipir ke arah Main Bazaar. Ini adalah kawasan tertua di Kuching yang menghadap langsung ke Sungai Sarawak. Di sini, mata kamu akan dimanjakan dengan deretan toko barang antik, kerajinan tangan suku Dayak, hingga tekstil khas Sarawak.
| Mural Ang Ku Kueh memperingati ulang tahun ke-100 Jalan Padungan |
Jika kamu suka sejarah, sempatkan mampir ke Tua Pek Kong Temple, kuil Cina tertua di Kuching yang letaknya tepat di ujung jalan. Ornamen merahnya yang mencolok sangat kontras dengan latar belakang gedung modern, menciptakan harmoni visual yang unik. Tak jauh dari sana, ada Museum Sejarah Cina yang menempati gedung bekas pengadilan lama. Di sini kita bisa belajar bagaimana komunitas Tionghoa berkontribusi membangun kota ini sejak zaman Rajah Brooke.
![]() |
| Melipat kertas uang di Tua Pek Kong Temple |
Keseruan lain yang bisa dicoba adalah menyusuri jalan-jalan sempit di Indian street yang membawa saya ke Masjid India, masjid tertua di Kuching yang tersembunyi namun penuh wibawa. Diujung gang ini juga dipenuhi penjual aneka rempah dan biji bijian bumbu yang super lengkap. Tak pernah saya tinggalkan adalan membeli sekilo kismis untuk dibawa sebagai oleh oleh. Murah banget!
![]() |
| Indian street Kuching |
Langkah kaki kemudian mengarah ke Jalan Gambir, di mana saya sempat berhenti sejenak melihat titik 0 km menuju Brunei Darussalam—sebuah penanda geografis yang penting di tanah Borneo ini. Dari sana, mata langsung dimanjakan oleh kemegahan Waterfront. Pemandangannya luar biasa: Sungai Sarawak yang tenang membelah kota, menghubungkan Jembatan Darul Hana yang futuristik dengan Gedung Dewan Undangan Negeri (DUN) yang megah di seberang sana.
![]() |
| Masjid terapung Bandar Kuching India Street Floating Mosque |
Di sisi lain, tampak The Astana, Masjid Terapung, hingga bangunan tua seperti Square Tower dan Fort Margherita yang berdiri kokoh menjaga sejarah kota dari masa ke masa. Masih ingin mencoba menu peralihan sarapan menuju makan siang lainnya?
![]() |
| Mie Kolok dan Ba Kut Teh Sapi Yong Hua Cafe |
Ada Mie Kolok Sapi yang kenyal dengan kuah kaldu cokelat yang kaya rasa—menjadi comfort food lintas generasi. Tak hanya mie kolok, kedai ini juga menawarkan inovasi unik berupa Bak Kut Teh Sapi versi halal yang kaya rempah, serta Mee Jawa resep lawas dan Sate Daging empuk yang bumbunya meresap sempurna, menciptakan simfoni rasa yang membuat siapa pun merasa sedang bersantap di rumah sendiri di tengah gempuran kafe modern Kuching.
Makan Siang, Eksplorasi Rasa di Carpenter Street
Tepat di belakang Main Bazaar, terdapat sebuah lorong yang tak kalah legendaris, ada Carpenter Street. Suasananya lebih intim dan sangat vintage. Untuk makan siang, kamu punya banyak pilihan. Mau mencoba Kolo Mee yang autentik? Atau sekadar duduk santai menikmati kopi di kedai tua?
Satu spot yang saya rekomendasikan adalah Lau Ya Keng Food Court. Di sini ada sate legendaris dan berbagai kudapan lokal lainnya. Menikmati makan siang di tengah bangunan tua dengan kipas angin gantung yang berputar lambat memberikan sensasi nostalgia yang luar biasa. Rasanya seperti waktu berhenti berputar sejenak.
![]() |
| Aneka Lapis Sarawak |
Salah satu tempat yang bisa dikunjungi saat ingin tahu banyak tentang kek Lapis di Kuching adalah Kek Lapis Warisan. Tukang Jalan Jajan tidak hanya sekadar membeli oleh-oleh, tapi juga berkesempatan melihat proses pembuatannya yang butuh ketelitian tinggi selapis demi selapis bahkan saya dipersilakan untuk mencoba membuatnya sendiri.
![]() |
| Mencoba membuat Kek Lapis Sarawak |
Saya bahkan sempat mencicipi puluhan jenis lapis dengan warna-warni yang menggoda iman! Dari sekian banyak varian, favorit saya jatuh pada rasa Sweet and Sour, Ati Pari, dan tentu saja rasa Original yang klasik namun tak terkalahkan. Manisnya pas, teksturnya lembut, benar-benar buah tangan yang membawa identitas Sarawak di setiap gigitannya
![]() |
| The Lamin by Telang Usaan Hotel |
Jika ingin makan siang yang lebih lokal, bisa memilih makan siang di The Lamin by Hotel Telang Usaan. Di sini, lidah saya dimanjakan dengan kuliner khas Orang Ulu, salah satu sub-suku Dayak di Sarawak.
![]() |
| Ayam Pansoh Lamin by Telang Usaan |
Hidangannya sungguh otentik dan menggugah selera, mulai dari Ayam Pansuh yang dimasak di dalam bambu dengan aroma harum, Kerabu Midin yang segar dan renyah, hingga Ikan Asam Manis dengan sentuhan bunga kantan yang aromatik. Penutupnya, segelas minuman jeruk serai yang dingin seketika membasuh dahaga.
![]() |
| Menu Kerabu di Lamin Dana |
Sore Hari, Menyeberangi Sungai Menuju Kemegahan DUN
Setelah puas mengeksplorasi daratan, saatnya kita sedikit "bermain" air. Di Waterfront, kamu akan melihat perahu-perahu kecil yang disebut Sampan Penambang. Hanya dengan membayar beberapa Ringgit, kamu bisa menyeberangi Sungai Sarawak menuju sisi utara.
Tujuan kita adalah Darul Hana Bridge. Jembatan pejalan kaki yang meliuk indah ini adalah tempat terbaik untuk menikmati pemandangan kota. Dari sini, kamu bisa melihat Bangunan Dewan Undangan Negeri (DUN) Sarawak yang megah dengan atap emasnya yang ikonik. Jika punya waktu lebih, kamu juga bisa mengunjungi Fort Margherita, sebuah benteng bersejarah yang kini menjadi museum Brooke Gallery.
![]() |
| Jembatan Darul Hana Kuching |
Menjelang senja, kembalilah ke sisi Waterfront. Suasana sore di sini sangat hidup. Ada pemusik jalanan, keluarga yang berjalan santai, hingga aroma harum apam balik atau jagung bakar yang menggoda selera.
Malam Hari, Dinner dan Air Terjun Menari
Untuk menutup agenda Liburan di Kuching Malaysia dalam sehari, pilihlah tempat makan malam di sekitar Waterfront. Jika ingin suasana yang lebih modern, banyak kafe rooftop yang menawarkan pemandangan sungai dari ketinggian. Namun, bagi tukang jalan jajan, menikmati hidangan di pinggir jalan sambil melihat lalu lalang orang adalah kemewahan tersendiri.
Puncak dari petualangan satu hari ini adalah pertunjukan Darul Hana Musical Fountain. Air terjun menari yang diiringi lampu warna-warni dan musik ini biasanya dimulai pada pukul 20.30 malam. Sangat cantik dan menjadi penutup yang manis sebelum kamu kembali ke penginapan.
Museum Seru di Kota Kuching
Melengkapi panduan Liburan di Kuching Malaysia kamu, jangan sampai melewatkan wisata edukasi ke museum-museumnya yang berkelas dunia. Ada yang berbayar, ada pula yang gratis. Jangan lupa untuk cek hari buka dan waktu berkunjungnya
![]() |
| Borneo Cultures Museum Kuching Sarawak |
Bagi pencinta sejarah dan seni, Kuching adalah "surga" museum di Borneo. Salah satu yang paling wajib dikunjungi adalah Borneo Cultures Museum. Sebagai museum terbesar di Malaysia dan kedua terbesar di Asia Tenggara, gedung dengan arsitektur modern berlapis emas ini menawarkan pengalaman yang sangat imersif.
Dengan biaya tiket masuk yang cukup terjangkau bagi wisatawan mancanegara (dan sering kali ada harga khusus untuk pemegang kartu identitas lokal), kamu bisa menjelajahi lima lantai yang berisi ribuan artefak, instalasi interaktif, hingga sejarah mendalam mengenai suku-suku asli di Sarawak. Museum ini bukan sekadar tempat menyimpan barang kuno, melainkan jendela untuk memahami jiwa masyarakat Borneo.
![]() |
| Square Tower Kucing Waterfront |
Jika kamu mencari pilihan yang lebih ramah di kantong, Kuching memiliki beberapa museum gratis yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah Museum Sejarah Cina yang terletak di Waterfront. Di dalam gedung peninggalan era kolonial ini, kamu bisa menelusuri jejak migrasi masyarakat Tionghoa ke Sarawak, lengkap dengan diorama dan koleksi keramik tua yang sangat estetik untuk difoto.
Tak jauh dari sana, kamu juga bisa melipir ke Museum Tekstil atau Art Museum yang seringkali memberikan akses cuma-cuma bagi pengunjung. Museum-museum ini sangat pas dikunjungi di siang hari saat matahari sedang terik-teriknya, memberikan keteduhan sekaligus ilmu baru.
![]() |
| The Early Mercers, the Malaysia Book of Records as the largest Augmented Reality (AR) mural in the country |
Satu lagi museum unik yang menjadi ciri khas kota ini adalah Cat Museum atau Museum Kucing yang terletak di Bukit Siol. Meskipun lokasinya agak sedikit keluar dari pusat kota (sekitar 15 menit menggunakan Grab), museum ini adalah destinasi wajib bagi para cat lovers. Di sini, ribuan koleksi dari berbagai belahan dunia yang berkaitan dengan kucing dipamerkan, mulai dari mumi kucing asal Mesir hingga sejarah mengapa kota ini dinamakan Kuching.
Uniknya, meski masuk ke area museum ini gratis, kamu mungkin akan dikenakan sedikit biaya jika ingin mengambil foto atau video menggunakan kamera profesional. Benar-benar sebuah penghormatan unik bagi ikon kota yang menggemaskan ini!
Tips Tambahan dari Tukang Jalan Jajan
- Transportasi, Kuching sangat ramah bagi pejalan kaki. Namun, jika jaraknya agak jauh, aplikasi Grab sangat bisa diandalkan dan tarifnya cukup terjangkau.
- Oleh-oleh, Jangan lupa beli Kek Lapis Sarawak dan Lada Sarawak yang terkenal itu. Kualitasnya tak perlu diragukan lagi.
- Koneksi, Pastikan paket internetmu aktif atau gunakan kartu SIM lokal agar tetap bisa eksis membagikan momen liburanmu atau tetap menggunakan kartu SIM dari Indonesia dengan membeli paket internetnya.
Waktu Operasional Tempat Wisata
- Borneo Cultures Museum,Setiap Hari,09.00 – 16.45 (Weekdays) / 09.30 – 16.30 (Weekends)
- Hiap Yak Tea Shop,Setiap Hari,06.00 – 17.00
- Museum Sejarah Cina,Setiap Hari,09.00 – 16.30 (Jumat tutup pukul 12.00-14.30)
- Kek Lapis Warisan,Setiap Hari,08.00 – 23.00
- The Lamin (Hotel Telang Usaan),Setiap Hari,11.00 – 22.00
- Cat Museum (Museum Kucing),Setiap Hari,09.00 – 17.00
- Darul Hana Musical Fountain,Setiap Hari,20.30 & 21.30 (Durasi ±15 menit)
Nikmati, Rasakan, Ulangi
Kuching memang bukan kota yang terburu-buru. Ia adalah kota yang mengajak kita untuk berjalan pelan, menikmati setiap aroma masakan, dan menghargai setiap keramahan warganya. Meskipun hanya satu hari, pesona pusat kotanya sudah cukup untuk membuat kita ingin kembali lagi di lain waktu.
| Patung Kuching beranak 9 |
Jadi, kapan kamu merencanakan Liburan di Kuching Malaysia? Jangan lupa ceritakan pengalamanmu di kolom komentar ya! Sampai jumpa di perjalanan berikutnya, tetaplah makan enak dan jalan-jalan bahagia!
Salam dari Tukang Jalan Jajan, Selamat berpetualang, selamat makan dan salam Yumcez!
















%20mural%20in%20the%20country.jpeg)
Gabung dalam percakapan
Silakan berkomentar dengan bijak. Setelah anda mampir dan berkomentar, saya akan berkunjung balik. Jangan meninggalkan link hidup ya :)
Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : eko.dony.prayudi@gmail.com
+Telp/WA : 0819 - 3210 - 9497
+IG/Twitter : @dodon_jerry