Tukang Jalan Jajan

Perjalanan Darat Dari Poipet Ke Siam Reap



Dengan muka penuh lemak dan minyak saya duduk tak dapat bergerak. Perjalanan dari perbatasan menuju poipet ini benar-benar membuat saya merasa di kampung sendiri. Tak terasa sudah tiga minggu akrab dengan bus dan van. Saya sudah terbiasa berhimpit-himpitan dengan wajah yang datar dan bahasa yan tak dimengerti. Ini sudah menjadi pemakluman dan kewajaran. Aroma campur aduk, mulai dari bau badan, bau kaki dan bau lainnya jadi sahabat akrab. Mungkin disini saya terbiasa memedakan aroma dari berbagai negara. Perjalanan Darat dari Poipet ke Siam Reap ini saya lewati dengan sukacita karena sudah tak sabar melihat candi bersejarah peninggalan kerajaan Khmer.
Perjalanan darat dari Poipet ke Siam Reap
Perjalanan darat dari Poipet ke Siam Reap
Bagi traveler yang melakukan perjalanan over land, pekerjaan terberat adalah mencari gate keberangkatan bus dan tujuan keberangkatan. Beberapa negara Asia berhuruf paku jarang menyediakan tulisan dalam huruf latin, kalaupun ada hanya di halte bus kota besar yang sering dikunjungi turis, bagi backpacker miskin seperti saya yang melewati terminal satu dengan lainnya pastilah menjadi pekerjaan berat. Memasang wajah tersenyum memelas dan bertanya dengan orang lewat jadi cara ampuh meminta tolong, kembali lagi keterbatasan bahasa membuat saya harus menyiapkan bahasa tarzan. Menulis dengan huruf latin? sudah pasti tidak bisa terbaca. Disinilah sabar diuji, kemampuan bertahan dipertaruhkan. Tapi percayalah ini adalah seninya menjadi backpacker. Sambil menulis ini saya masih terbayang-bayang border Laos dan Kamboja

Jalanan Kota Poipet menuju Siam Reap
Jalanan Kota Poipet menuju Siam Reap
Perjalanan saya menuju Siem Reap memakan waktu 8 Jam, van yang digunakan beristirahat sebentar disebuah tempat seperti rumah yang menyediakan makanan dan minuman serta toilet untuk beristirahat. Seperti rumah singgah sebelum kami diantar menuju terminal. perjalanan menggunakan bus kembali membuat saya harus duduk manis hingga sampai ditujuan. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 8 jam lagi. Saya sempat beristirahat, makan burger, buang air besar, cuci muka dan menambah daya smartphone. Lega! Saya pun mengucapkan Hai Poipet!

Perjalanan menuju Siam Reap ini lebih lega. Kaki saya yang tidak panjang namun penuh lemak akhirnya bisa nyaman. walaupun tidak lurus sempurna paling tidak saya bisa sedikit meregakan punggung dan pinggang. Tas saya pun bisa disimpan di bawah kursi, rasanya kepala sudah berat dan ingin tidur nyenyak. Begitu mata saya mulai terpejam, alunan musik pop berbahasa Kamboja langsung diperdengarkan sekencang mungkin oleh audio bus. Duh gusti! entah apa pula bahasanya, nadanya pun percampuran antara pop dan dangdut.
Jalanan Kota Poipet menuju Siam Reap
Jalanan Kota Poipet menuju Siam Reap
Sudahlah, saya pasrah dengan keadaan. Bus ini melaju di jalanan berkelak kelok melewati lereng gunung yang menempel dengan jurang. Perjalanannya bikin jantung berdegup kencang. Saya berdoa supaya supir tetap fokus dijalan raya. Saya tidak sempat mau mengambil foto tapi ditengah perjalan bus berhenti di padang ilalang dan sopir berteriak ke penumpang dengan bahasa Khmer!. Beberapa penduduk lokal turun dan beberapa lagi bengong karena tidak paham. Lalu kami tersdar bahwa ini waktunya untuk buang air kecil karena dari bus terlihat pria berbaris rapi dan diam sesaat. Yup! mereka sedang kencing bareng!

Mobil berjalan kembali melewati jalan berkelak kelok, entah kenapa saya tidak mual sama sekali. Lebih banyak takut dan waspada. Mungkin di sini ada kelok 100 tapi di Indonesia ada kelok 9 yang juga outstanding. Sampai akhirnya bus ini menyudahi perjalanan berkelok kelok saat mulai masuk kedalam perkampungan yang mirip di Indonesia. Penumpangnya juga kurang lebih sama seperti di Indonesia, wajahnya mirip dengan beberapa suku di Indonesia. Perilaku supir busnya juga sama. memasukkan penumpang hingga berjejal dan memasang bangku plastik tambahan dibagian tengah bus. Beberapa bule terdengar memberikan protes karena terlalu penuh dan sempit. Keterbatasan bahasa membuat supir cuek bebek dengan complain penumpang bule. Fiuh! 
Jalanan Kota Poipet menuju Siam Reap
Jalanan Kota Poipet menuju Siam Reap
Sesampainya di terminal bus Siam Reap, saya langsung dikerubuti supir tuk tuk yang berebut untuk mengantar penumpang. Saya mengecek terlebih dahulu jalur perjalanan dari terminal menuju hostel yang sudah saya booking online terlebih dahulu, ternyata tidak terlalu jauh hanya 8 kilometer saja. $5 USD yang diminta oleh supir tuk tuk, saya pun mencari traveler lain untuk sharing cost. Saya berkenalan dengan Thomas, asal Perancis yang juga ingin mengeksplorasi Angkor Wat. Jadilah kami berbagi namun hostel yang berbeda. Selama perjalanan kami juga merencanakan untuk berbagi biaya menyewa tuk tuk untuk bersama-sama ke Angkor Wat. Hal menyenangkan lain saat berpetualang sendiri adalah menemukan teman baru yang senasib sepenanggungan. Total perjalanan saya dari Vientiane hingga Siam Reap hampir 28 jam.

14 komentar:

  1. 28 jam perjalanan dengan medan yang menantang. Ini kalau saya udah mabok Kali ya. di sini yang tak seberapa belok2nya aja udah mual. ��

    BalasHapus
  2. seru juga ya... tapi kalo saya sih lebih milih naik pesawat aja kali ya.. hehehe...

    BalasHapus
  3. Bang Dodon ini nampaknya tipe pria petualang ya. Suka jalan jalan dan juga jajan. Fisiknya juga kuat ya melakukan perjalanan panjang. Kalau ditelisik daerahnya mirip2 di Indonesia ya? Ingin juga traveling ke daerah sana

    BalasHapus
  4. Wihiiii asyik yaaa.... pada akhirnya menemukan teman seperjalanan yang senasib sepenanggungan san seiya kata.
    Btw, kok gak ada fotonya bang dodon sama teman barunya?? Padahal pengen liat bulenya cakep atau enggak, hehe

    Pasti ada di postingan selanjutnya ya? Hehhe, kutunggu yaaa

    BalasHapus
  5. Huebat, sampe bisa bedain aroma antar negara wkwkwkwk...
    Kalo kencing bareng kayak nya emang dah jadi kebiasaan se Asia Tenggara ya, soal nya di indonesia pun, kalo bepergian pake kendaraan umum jarak menengah-jauh pun sering ada pipis berbaris... hohoho
    Bagian menemukan teman baru yang senasib sepenanggungan ini yang paling saya suka bang. :D

    BalasHapus
  6. Poipet itu masuk negara apa kak don? Serunya pengalaman berselancar di jalan darat. Semoga sampai tujuan dengan selamat. Jadi tambah mupeng pengen backpackeran setiap baca cerita tukangjalanjajan.

    BalasHapus
  7. Poipet ini sepertiny Kota yang sepi ya di liat dari berbagai sudut ga ada keramaian. Atau karena ini jalan penghubung antar kota atau antar negara ya jadi sepi gitu

    BalasHapus
  8. alamnya spt di indonesia ya
    tp kok itu berdebu banget
    apa musim panas ?
    luar biasa perjalanannya ya
    tp pengalamannya luar biasa juga
    semoga tidak kapok ya

    BalasHapus
  9. Tiba2 jadi keinget novel Akar karya Dee yg settingnya jg ada di Kamboja. Jadi ngerasain panas, sumpek, beda bahasa banget memang jadi susah ya. Plg kalo udah ketemu yg bisa bhs Inggris jd minimal ngerti, duh petualangan yg sangat menantang. Aku jadi ingin :3

    BalasHapus
  10. Mungkin, ini kali ya seni menjadi backpacker itu. Rela berjalan-jalan menikmati pemandangan alam sepuasnya dengan budget seminimal mungkin. Ya, prinsip ekonomi. Kerugiannya ya, pastinya akan struggle dalam komunikasi, apalagi di negara yang Bahasa Inggris bukan sebagai bahasa utamanya. Beuh, mungkin skill bahasa isyarat harus dipertahankan kali ya. Salut!

    BalasHapus
  11. Petualangan seru nih pastinya traveling dengan banyak pengalaman menarik

    BalasHapus
  12. Aduh..gak ada toilet..disuruh pipis disemak2 ya....jadi geli ngebayangin ya...
    Ntar takutnya pulang2 pada gatel2 kena kuman...#loh fokus ke pipis sih?!

    Namanya bus pasti cari lebih..makanya suka maksa nambahin kursi..., Dimana2 sama ..naluri rakus.

    BalasHapus
  13. Ya Allah... terima kasih sudah memberikan kesempatan baca tulisan bang Dodon ini di malam yang sunyi. Saya ngikik-ngikik sendirian bacanya!

    Asyik ya backpakeran di tempat-tempat asing seperti itu. Meski panas, sumpek, keringetan, pipis bareng, tapi akhirnya bisa menghibur pembaca. Hahaha.
    Ampun deh ngebayangin perilaku sopir dan penumpang lokalnya, trus wisatawan asing hanya bisa bengong-bengong plus dicuekin. Hahaha.. makasih sharing ceritanya, Bang :D

    BalasHapus
  14. Ini perjalanan darat yang kayak di novelnya Dee Lestari ya? Kok agak menyeramkan ya. Kalau saya mungkin nggsk berani berkelana sendiri. Mungkin saya bakal cari kawan dulu sebelum ke terminal itu

    BalasHapus

DILARANG MENGAMBIL TULISAN, FOTO ATAU VIDEO TANPA SEIJIN PENULIS :)

Silakan berkomentar dengan bijak. Setelah anda mampir dan berkomentar, saya akan berkunjung balik. Jangan meninggalkan link hidup ya :)

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : eko.dony.prayudi@gmail.com
+Telp/WA : 0819 - 3210 - 9497
+IG/Twitter : @dodon_jerry

Diberdayakan oleh Blogger.