Adv

Menembus Brunai Darusalam Lewat Darat

Melanjutkan perjalanan setelah terhenti kurang lebih 1 jam membuat saya terlanjur kesal dan lelah. Bete bercampur sebel. Baper!

Kubah Emas Brunai Darusalam
Kubah Emas
Mood saya yang terombang ambing. Tubuh dan pikiran saya lelah. Ternyata untuk lewat pos polisi tadi menguras semua nya, fisik iya, pikiran iya. Satu hal yang perlu diingat, Memohon dan merendahkan diri bisa melancarkan niat. Jangan pernah menentang petugas imigrasi dan kepolisian suatu negara kalau tidak mau dipersulit. Itulah pelajaran dan hikmah buat saya.

Jalan menuju Bandar Seri Begawan
Jalan menuju Bandar Seri Begawan
Kami berdua mulai melanjutkan perjalanan. Teman saya baru belajar menyetir membuat beberapa kali jantung saya mau copot. Trauma kecelakaan beberapa waktu lalu yang mengakibatkan pelipis saya pecah masih membayang. Jujur kaki saya kaku, duduk saya tegang, beberapa kali saya mengingatkan untuk berhati hati. Yang paling penting adalah mengajak terus teman saya berbincang supaya tidak ketiduran. Keluhan mengenai kantuk yang tiba-tiba menyerangnya membuat saya deg-degan. Beberapa kali saya harus mengajak bercanda agar bisa tertawa dan megurangi kantuk. Jalan yang bergelombang juga membuat perut saya teraduk merata dengan kecepatan 100-120km/jam
Batas negara Brunai dan Malaysia
Batas negara Brunai dan Malaysia
Beberapa kali meminum kopi juga harus saya lakukan, jika memang bisa rasanya ingin menumpahkan kopi hitan ke mata agar tetap terjaga. Jalanan ini terlihat rata dan rapi jali sampai kami melewati sebuah jembatan bernama ASEAN yang menghubungkan Kuala Belait dan jalan menuju ke Bandar Seri Begawan setelah melewati semua terasa lengang, hanya jalanan super lebar dan mulus namun bergelombang dengan pepohonon dan rumput di pinggir jalan. Beberapa kampung juga saya lewati. Terlihat sepi tanpa terlalu banyak aktifitas. Jalanan lebar ini juga seperti arena balapan. Kosong melompong.

Pagar istana kesultanan Brunai Darusalam
Pagar istana kesultanan Brunai Darusalam
Sepanjang jalan juga banyak sekali papan penanda jalan yang isinya dzikir. Iya! Seluruh pengguna jalan di ajak selalu berdzikir selama berkendara. Hingga kurang lebih 2 jam lamanya kami sampai di Bandar Seri Begawan. Negara dengan ibu kota yang bersih dan rapi. Yang pertama kami lakukan adalah mencari tempat parkir dan segera eksplor kota ini. Entah kenapa hujan pun langsung turun dengan deras sehingga memaksa untuk berteduh. Ada stadiun sepak bola yang terdapat gerbang terbuka. Kebetulan banyak toko dan kedai yang tutup saat datang di sini dikarenakan bertepatan dengan sholat dzuhur. Pada saat panggilan sholat seperti ini memang kebanyakan toko dan kedai memilih tutup sejenak sebelum kembali melanjutkan aktifitas. Saya tidak punya waktu banyak untuk mengekplorasi karena sore hari sudah harus kembali.

Salah satu sudut kota Bandar Seri Begawan
Salah satu sudut kota Bandar Seri Begawan
Kota di Brunai Darusalam ini hanya memiliki pasar-pasar yang digabungkan dalam satu bangunan. Entah apakah saya boleh menyebutkannya sebagai mall. Beberapa bangunan peninggalan inggris juga berdiri megah di sini dan dipakai sebagai gedung pemerntah. Saya juga sempat melihat pasar tradisionalnya yang “nyempil” diantara tingginya bangunan pasar termasuk toko-toko kelontong yang berderet rapi. Saluran dan tutup lubang airnya juga terlihat seperti di Eropa sana. Kota ini juga mempunyai Sungai yang membelah kota, Namanya Sungai Brunei.

Salah satu sudut kota Bandar Seri Begawan
Jalan menuju Bandar Seri Begawan
Di pinggiran sungai Brunei ini terdapat Istana Nurul Iman di bagian seberangnya terdapat Kampung Ayer yang merupakan kampung wisata yang di bangun oleh Sultan Brunei, bagi beberapa wisatawan mungkin menarik tapi bagi saya yang berasal dari Pontianak, ini bukanlah hal yang baru. Jika kita berdiri di taman pinggir sungai yang juga dijadikan dermaga penyeberangan bagi penduduk lokal maka akan terlihat kampung Ayer dari seberang kota.

Masjid Kubah Emas Bandar Seri Begawan
Masjid Kubah Emas Bandar Seri Begawan
Disini akan banyak sekali calo speed boat atau perahu bermesin yang menawarkan jasa untuk berkeliling sungai ini melihat beberapa objek wisata di tepi sungai. Mereka akan sangat ramah dengan turis dan menawarkan banyak sekali keindahan. Seperti yang saya tulis karena saya dari Pontianak tentu ini bukan hal baru bagi saya. Jika berminat harus menawar. Terkadang harganya tidak masuk akal tawar saja 25 Dolar Brunei karena akhirnya kita tidak akan berangkat sendirian karena akan bersama dengan penumpang yang lain.

Tulisan berikutnya saya akan menceritakan perjalanan saya di kampung Ayer.

16 komentar:

  1. wah saya takjub mas, sepanjang jalan dipsangi papan tulisan dzikir yaa. Aceh memang serambi mekah bgt yaa.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini bukan aceh mbak... hihihi ini Brunai Darussalam

      Hapus
  2. keren ya, itu sudah menjadi adat kalau setiap panggilan adzan pada tutup dulu atau hanya yang berumat muslim saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya semua aktifitas stop. Kemungkinan sudah aturan dari sultan. Jadi keharusan dan diikuti sepertinya

      Hapus
  3. Waaah keren. Tapi keliatannya sama kayak indonesia yah dari segi jalanannya bangunannya begitu hahaha. Keunggulan disana yang keliatan menarik di brunei itu apa mas?

    willynana.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang menarik sepertinya masjid dengan kubah emasnya . Ada hotel juga yang punya lantai dan tembok berisi emas. Negara kecil yang kaya raya akibat minyak

      Hapus
  4. Jarang banget yang menjadikan Brunei sebabagai destinasi tujuan wisata. Sepertinya syik negara satu ii, banyakan wisata religi ya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes banyakan wisata reliji nya. Penduduk brunai sepertinya lebih suka menikmati wisata keluar negeri. Uangnya banyak hehehe

      Hapus
  5. jarang banget orang yang mengeksplore brunai ini, tapi saking penduduknya dikit jadi terkesan lengang gitu ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenatnya klo boleh jujur karena negaranya kecil jadi ngga banyak tempat wisata yang bisa dilihat sih hehehe

      Hapus
  6. mau nanya nih, benarkah kalo kita mau ke brunai, ada peraturan resmi bahwa kita harus punya uang minimal Rp 50 juta di tabungan dan harus diperlihatkan ke petugas atau pemerintah di sana? katanya biar hidup kita terjamin selama pelesiran di sana dan nggak nyusahin pemerintah mereka. setau saya, hal ini juga berlaku di Eropa dan Aussie :) thanks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo untuk Asia Tenggara ngga ada aturan tabungan minimal. paling kita diwajibkan mempunyai tiket pesawat pulang dan alamat hotel/hostel/rumah tempat kita tinggal sementara. Kalau untuk negara yang mengharuskan kita mengurus VISA seperti Aussie, Amerika, Jepang, Korea dan negara Eropa biasanya mensyaratkan salah satunya adalah rekening tabungan yang sekiranya mampu menunjang hidup selama waktu kita berkunjung ke negaranya dan rekeningnya harus stabil

      Hapus
  7. ah, jd inget pengalaman ke brunei yg trakhir ;)... walopun bisa dibilang aku bosen setengah mati di sana, tp cukup terhibur ama makanan2ny... lumayan enak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe pernah kekampong ayer ama hotel yang ada emas emasnya itu?

      Hapus
  8. Dari Pontianak Bro? Berapa lama perjalanan sampai ke Brunei lewat darat?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekitar 18 jam tapi beberapa teman juga pernah yang sampai diatas 20 jam di jalan

      Hapus

Silakan berkomentar dengan bijak. Setelah anda mampir dan berkomentar, saya akan berkunjung balik. Jangan meninggalkan link hidup ya :)

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : eko.dony.prayudi@gmail.com
+Telp/WA : 0819 - 3210 - 9497
+IG/Twitter : @dodon_jerry

Diberdayakan oleh Blogger.