Adv

Hari ibu apakah sama dengan Mother’s day?






Hari ibu apakah sama dengan Mother’s day?

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat memandu acara talkshow di TV dan membahas mengenai Hari Ibu ke 83. Kami banyak membahas hal-hal yang berhubungan dengan wanita, kebetulan yang berbincang dengan saya ada Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan keluarga Berencana Kota Pontianak, dr Darmanelly, M.Kes. Perbincangan hangat kami lebih mengarah kepada empowerment sector ekonomi perempuan dan domestic. Bagaimana mereka lebih berdaya dan mampu melakukan pekerjaan tanpa kekerasan dan beban yang berlebihan.

Perempuan yang bekerja disektor domestic rumah tangga terkadang kurang dihargai, padahal waktu kerja mereka mencapai 20 jam sehari tanpa upah. Memang inilah hal yang terjadi diIndonesia selama berpuluh puluh tahun. Stigma bahwa wanita harus bekerja didapur dan derajatnya lebih rendah dari pria membuat mereka tersiksa selama bertahun-tahun. Lalu bagaimana dengan mother’s day ala bangsa barat dengan hari ibu ala Indonesia? Apakah sama? Atau tidak. Saya mencoba mencari dan membandingkan sedikit sejarahnya.
Hari Ibu di Indonesia
Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran[6] yang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, R.A. Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lain-lain.
Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.
Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938.[7] Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.
Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.
Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung.
Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1946. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.
Mother's day
Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronos, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret.
Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.

Perbedaannya ada beberapa memang, terkadang menyebabkan kita menjadi salah kaprah. Hari ibu di Indonesia pada awalnya sebenarnya adalah suatu momentum untuk dimulainya pergerakan perjuangan wanita terhadap perbedaan gender yang dipisahkan oleh jurang yang sangat tinggi, wanita berusaha untuk menunjukkan kemampuan dan kesetaraannya dengan pria. Ditunjukkan bahwa wanitapun mampu mengerjakan semua pekerjaan pria terkecuali untuk beberapa kodrat wanita yang memang tidak bisa dilepaskan seperti, haid, hamil, melahirkan dan menyusui.
Disini wanita ungin menunjukkan bahwa wanita juga memiliki kemampuan dan kulaitas yang sama dengan pria asal mereka mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Wanita indonesiapun berperan dalam pembangunan dan mengisi kemerdekaan

Sedangkan untuk mother’s day dibanyak Negara mother day diperingati sebagai sejarah dewa dewi dan pada zaman modern pergerakan menghentikan perang saudara. Perayaannya sungguh berbeda secara dasar dan memang sedikit kesamaan dalam makna. Memang interpretasi bisa berbeda-beda, namun hari ibu bukan bearti harus memanjakan ibu dari seluruh aktifitas hariannya, tapi memberikan kesempatan kepada semua ibu untuk mendapatkan kesetaraan pengakuan dikeluarga bersama ayah. Ibu harus kita lepaskan dari belenggu domestic. Ibu juga harus diberi kebebasan dan kesempatan untuk berdaya dalam hal ekonomi, bukan hanya pada saat hari ibu namun setiap hari.

Tidak ada komentar

Silakan berkomentar dengan bijak. Setelah anda mampir dan berkomentar, saya akan berkunjung balik. Jangan meninggalkan link hidup ya :)

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : eko.dony.prayudi@gmail.com
+Telp/WA : 0819 - 3210 - 9497
+IG/Twitter : @dodon_jerry

Diberdayakan oleh Blogger.