Festival Onde-Onde Etnis Tionghoa yang Sering Bikin Salah Paham!
Simak sejarah Hari Raya Ko Ciet (Festival Dongzhi), makna filosofis onde-onde kuah jahe, dan tradisi etnis Tionghoa di TukangJalanJajan.
Pernahkah kamu membuka media sosial, katakanlah X (Twitter) atau Instagram, pada kisaran tanggal 21 atau 22 Desember, lalu mendapati linimasa kamu dipenuhi oleh perpaduan ucapan yang unik?
![]() |
| Hari Raya Ko Ciet, Festival Onde-Onde Etnis Tionghoa yang Sering Bikin Salah Paham! |
Di satu sisi, semua orang mengucapkan Selamat Hari Ibu Nasional, namun di sisi lain, komunitas Tionghoa sibuk membagikan foto mangkuk berisi bulatan warna-warni berkuah dengan ucapan “Selamat Hari Raya Ko Ciet” atau “Happy Dongzhi Festival”.
Bagi sebagian orang awam, fenomena tahunan ini kerap memicu rasa penasaran yang menggelitik. Bahkan, tidak sedikit yang mengalami culture shock atau salah dengar yang kocak. Ada yang mengira perayaan ini berkaitan dengan "ondel-ondel" (kesenian khas Betawi). “Lah, emang ondel-ondel bisa dimakan? Gede banget dong?” canda seorang warganet yang kebingungan di linimasa.
Setelah ditelusuri lewat foto-foto yang beredar, ekspektasi visual kita langsung berputar 180 derajat. Alih-alih sesuatu yang seram atau besar, yang tersaji di atas meja adalah mangkuk-mangkuk cantik berisi bulatan kecil berwarna-warni (merah, hijau, putih, kuning) yang berenang di dalam kuah bening aromatik.
Sekilas, bentuknya sangat mirip dengan wedang ronde khas Jawa. Teksturnya kenyal karena terbuat dari tepung ketan, disajikan hangat dengan air jahe dan gula putih atau gula merah.
Perayaan apakah ini sebenarnya? Mengapa tanggal perayaannya selalu berdekatan dengan Hari Ibu di Indonesia? Dan apa bedanya dengan festival Tionghoa lainnya seperti Perayaan Kue Bulan (Tiong Ciu)?
Saya coba rangkum informasinya dan semoga bisa menjawab aneka pertanyaan yang mungkin muncul, terutama buat saya juga yang diluar etnis Tionghoa.
Apa Itu Hari Raya Ko Ciet (Festival Dongzhi)?
Secara internasional, perayaan ini dikenal dengan nama Festival Dongzhi (冬至) yang secara harfiah berarti "Titik Balik Matahari di Musim Dingin" (Winter Solstice). Di Indonesia, khususnya bagi masyarakat etnis Tionghoa di Kalimantan Barat (seperti Singkawang, Sambas, dan Pontianak) yang mayoritas menggunakan dialek Hakka (Khek) atau Teochew, festival ini akrab disebut sebagai Hari Raya Ko Ciet atau Tang Ciet.
Secara astronomis, Dongzhi adalah momen ketika bumi belahan utara mengalami malam terpanjang dan siang terpendek dalam setahun. Momen ini biasanya jatuh antara tanggal 21 hingga 22 Desember dalam kalender Masehi. Setelah melewati hari ini, siang hari di belahan utara akan berangsur-angsur menjadi lebih lama, menandakan kembalinya energi positif atau energi Yang (kehangatan dan cahaya) yang mengalahkan energi Yin (dingin dan kegelapan).
![]() |
| Apa Itu Hari Raya Ko Ciet (Festival Dongzhi) |
Oleh karena itu, Hari Raya Ko Ciet dipandang sebagai simbol optimisme, kemenangan cahaya atas kegelapan, serta momen syukur atas pergantian musim yang membawa harapan baru.
Meluruskan Kesalahpahaman, Perbedaan Ko Ciet vs Tiong Ciu (Kue Bulan)
Ada satu miskonsepsi besar yang sering terjadi di tengah masyarakat, bahkan kadang tertukar dalam catatan-catatan cerita rakyat. Banyak yang mencampuradukkan antara Hari Raya Ko Ciet (Festival Onde) dengan Hari Raya Tiong Ciu (Festival Kue Bulan / Mid-Autumn Festival). Padahal, keduanya adalah dua perayaan yang sepenuhnya berbeda, baik dari segi waktu, makna filosofis, maupun hidangan ikoniknya.
Hari Raya Tiong Ciu (Perayaan Kue Bulan)
Waktu Perayaan
Jatuh pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek (biasanya berkisar antara September hingga awal Oktober Masehi).
Makna & Karakteristik
Merupakan Perayaan Pertengahan Musim Gugur. Asal-usulnya sudah dimulai sejak lebih dari 2.200 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun ke-2 masa pemerintahan Kaisar Qin Shi Huang (Dinasti Qin, 221–206 SM). Pada masa itu, kaisar berkumpul dengan penduduk di Wu Kao Shan untuk menikmati bulan purnama yang paling bulat, terang, dan indah sepanjang tahun sambil minum arak dan bernyanyi.
Kisah Sejarah Terkenal
Pada masa Dinasti Tang (618-907 M) ditetapkan sebagai malam purnama terindah. Sementara pada akhir Dinasti Yuan (1271–1368 M), kue bulan digunakan oleh Zhu Yuan Zhang (yang kemudian mendirikan Dinasti Ming) sebagai media rahasia. Di dalam kue bulan diselipkan secarik kertas pemberontakan bertuliskan "Bunuh Mongolia pada malam Festival Tengah Musim Gugur!" untuk menggulingkan dinasti Mongol.
Hidangan Ikonik
Mooncake atau Kue Bulan, kue panggang padat berisikan pasta biji teratai, kacang merah, atau kuning telur asin yang melambangkan kebulatan dan keutuhan keluarga.
Hari Raya Ko Ciet (Festival Onde-Onde / Dongzhi)
Waktu Perayaan
Tidak mengikuti dinamika tanggal Imlek yang fluktuatif, melainkan hampir selalu jatuh pada tanggal 21 atau 22 Desember setiap tahun karena berbasis pada pergerakan matahari (solstice).
Makna & Karakteristik
Perayaan titik balik musim dingin, menandakan bahwa tahun akan segera berakhir dan musim semi akan segera datang. Ini adalah momen kebersamaan keluarga di rumah yang hangat di tengah cuaca dingin.
Hidangan Ikonik
Tangyuan atau Onde-onde ketan tanpa isian yang disajikan dalam kuah jahe hangat.
Jadi, jangan sampai tertukar lagi ya! Jika bulan September/Oktober kita makan Kue Bulan (Tiong Ciu), maka di bulan Desember saat udara mulai dingin dan hujan sering turun di Indonesia, kita merayakan Hari Raya Ko Ciet dengan menyantap semangkuk Onde hangat.
Sejarah dan Asal-Usul Tradisi Perayaan Onde (Dongzhi)
Mengapa titik balik matahari musim dingin dirayakan dengan memakan bulatan tepung ketan berkuah jahe? Ada dua akar sejarah utama yang melandasinya: tradisi kekaisaran kuno dan sejarah medis kemanusiaan.
Tradisi Syukur Musim Gugur ke Musim Dingin pada Masa Dinasti Tang dan Song
Sejak zaman Dinasti Qin dan Han, pergantian musim adalah hal krusial bagi peradaban agraris di Tiongkok. Pada masa Dinasti Tang (618–907 M) dan Dinasti Song (960–1279 M), Festival Dongzhi diangkat menjadi hari libur resmi kerajaan.
Bagi masyarakat kuno, Dongzhi dianggap sama pentingnya dengan Tahun Baru Imlek. Ada pepatah kuno yang berbunyi "Dongzhi Da Ru Nian" yang berarti "Festival Musim Dingin sama besarnya dengan Tahun Baru". Pada hari ini, dari kaisar hingga rakyat jelata akan mengenakan pakaian baru, menghentikan aktivitas bertani atau berdagang, berkumpul dengan keluarga, dan membuat persembahan kepada leluhur sebagai wujud syukur bahwa mereka berhasil bertahan melewati masa-masa dingin yang ekstrem.
Kisah Tabib Zhang Zhongjing dan Asal-Usul Makanan Hangat
Ada legenda populer yang menyebutkan bahwa tradisi menyantap hidangan berkuah hangat pada hari Dongzhi berawal dari kebaikan seorang tabib legendaris mindset bernama Zhang Zhongjing pada masa Dinasti Han.
Saat itu, musim dingin berlangsung sangat ekstrem. Banyak rakyat miskin yang menderita kelaparan dan kedinginan hingga telinga mereka membeku, mati rasa, dan robek (frostbite). Merasa prihatin, Tabib Zhang memerintahkan murid-muridnya untuk membuat sup daging kambing, cabai, dan beberapa tanaman obat penghangat tubuh.
Bahan-bahan tersebut kemudian dibungkus dengan adonan tepung menyerupai bentuk telinga manusia (yang kemudian menjadi cikal bakal jiaozi atau pangsit, dan divariasikan menjadi adonan bulat kenyal di wilayah selatan Tiongkok).
Masyarakat yang memakan sup hangat tersebut merasa tubuh mereka kembali hangat, aliran darah lancar, dan telinga mereka yang membeku berangsur sembuh. Sejak saat itu, setiap kali titik balik musim dingin tiba, masyarakat selalu membuat hidangan bulat atau pangsit hangat untuk memperingati kebaikan sang tabib sekaligus menjaga kesehatan tubuh.
Tradisi Ko Ciet di Kalimantan Barat, Harmoni Budaya di Sambas dan Singkawang
Indonesia sangat kaya akan asimilasi budaya, dan salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan kelestarian Tradisi Ko Ciet adalah di Provinsi Kalimantan Barat, khususnya di koridor Singkawang, Sambas, dan Bengkayang. Berdasarkan kajian sejarah dan kebudayaan daerah Kalimantan Barat, masyarakat etnis Tionghoa setempat memegang teguh tradisi ini sebagai warisan turun-temurun dari leluhur mereka yang mayoritas bermigrasi dari Tiongkok bagian selatan (Kanton dan Fujian).
![]() |
| Tradisi Ko Ciet di Kalimantan Barat, Harmoni Budaya di Sambas dan Singkawang |
Di wilayah Sambas dan Singkawang, Hari Raya Ko Ciet dirayakan dengan nuansa lokal yang sangat kental. Sehari sebelum festival (disebut malam Ko Ciet), seluruh anggota keluarga akan berkumpul di dapur. Ini adalah momen bonding yang sangat berharga. Generasi tua, seperti nenek dan ibu, akan memimpin proses pembuatan adonan dari tepung ketan (ko fun), sementara anak-anak dan cucu bertugas memelintir adonan menjadi bulatan-bulatan kecil.
Uniknya, warna onde yang dibuat tidak sembarangan. Warna merah dan putih adalah warna wajib. Merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan energi positif, sedangkan putih melambangkan kesucian dan ketulusan. Di Sambas, air kuah jahe yang digunakan kerap dipadukan dengan daun pandan wangi lokal, memberikan aroma harum yang khas Indonesia banget!
Setelah matang, onde-onde Ko Ciet pertama-tama akan diletakkan di dalam mangkuk kecil untuk dipersembahkan di altar leluhur (sembahyang Mei Cue). Prosesi ini adalah bentuk penghormatan dan laporan kepada para leluhur bahwa keluarga dalam keadaan sehat dan utuh di penghujung tahun. Setelah sembahyang selesai, barulah seluruh anggota keluarga menyantapnya bersama-sama.
Filosofi Mendalam di Balik Sebutir Onde-Onde (Tangyuan)
Bagi mata awam, sebutir onde mungkin hanyalah adonan tepung ketan biasa. Namun di mata kebudayaan Tionghoa, setiap aspek dari sajian Ko Ciet memiliki makna filosofis yang sangat dalam:
Bentuk Bulat (Yuan / 圓)
Dalam bahasa Mandarin, kata "Bulat" (Yuan) memiliki pelafalan yang mirip dengan kata Tuanyuan (團圓) yang berarti reuni atau berkumpul bersama. Bentuk bulat tanpa sudut melambangkan hubungan keluarga yang harmonis, utuh, tanpa perselisihan, dan saling melengkapi.
Tekstur Kenyal dan Lengket
Kelekatan tepung ketan melambangkan ikatan kekeluargaan yang erat dan tidak mudah terpisahkan oleh jarak maupun waktu.
Tradisi Penambah Usia
Ada kepercayaan unik dalam perayaan Ko Ciet: "Setelah makan onde Ko Ciet, usiamu bertambah satu tahun." Mengapa demikian? Karena perayaan ini menandakan akhir dari siklus musim dingin dan bersiap menyambut tahun baru Imlek. Jumlah onde yang kamu makan secara tradisional disesuaikan dengan usia kamu ditambah satu, sebagai simbol doa agar panjang umur dan kedewasaan.
Momentum Pernikahan
Menariknya, tradisi makan onde ini juga diadopsi dalam prosesi pernikahan adat Tionghoa (Sangjit atau Tingjing). Pasangan pengantin baru akan disuapi semangkuk onde manis berwarna merah dan putih oleh orang tua mereka. Maknanya? Agar kehidupan pernikahan mereka selalu manis, lengket (harmonis), dan segera dikaruniai keturunan yang utuh.
Resep Tradisional Onde Ko Ciet Kuah Jahe ala Tukang Jalan Jajan
Bagi kamu yang tergiur ingin mencoba atau ingin bernostalgia membuat sendiri hidangan Ko Ciet di rumah, jangan khawatir! TukangJalanJajan.com sudah menyiapkan resep praktis, autentik, dan antigagal yang bisa kamu praktikkan bersama keluarga tercinta.
![]() |
| Cara Membuat Tang Yuan |
Bahan Adonan Onde:
- 250 gram tepung ketan berkualitas baik
- 200 ml air hangat (sesuaikan perlahan hingga adonan kalis)
- 1 sendok makan air kapur sirih (opsional, untuk tekstur yang lebih kenyal)
- Pewarna makanan alami: pasta pandan (hijau), pewarna merah murni, dan biarkan sebagian tetap putih.
Bahan Kuah Jahe Aromatik:
- 1 liter air bersih
- 150 gram gula pasir (bisa diganti gula merah jika kamu suka warna kecokelatan dan rasa yang lebih legit)
- 3 ruas jahe tua, bakar sebentar lalu memarkan (geprek)
- 2 lembar daun pandan, ikat simpul
- 1 batang serai, memarkan (opsional, untuk menambah kesegaran aromatik)
Cara Membuat:
- Membuat Adonan Onde, Campurkan tepung ketan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diuleni dengan tangan hingga adonan menjadi kalis (tidak lengket di tangan dan mudah dibentuk). Bagi adonan menjadi tiga bagian: beri warna merah, hijau, dan biarkan satu bagian berwarna putih alami.
- Membentuk Onde, Ambil sedikit adonan, pelintir dengan kedua telapak tangan hingga membentuk bulatan sebesar kelereng kecil. Lakukan hingga semua adonan habis. Tips: Letakkan onde yang sudah dibentuk di atas wadah yang telah ditaburi sedikit tepung ketan agar tidak saling menempel.
- Merebus Onde, Didihkan air dalam panci. Masukkan bulatan onde ke dalam air mendidih. Rebus hingga onde mengapung ke permukaan air (tanda bahwa onde sudah matang sempurna). Angkat dengan saringan, lalu tiriskan dan segera masukkan ke dalam wadah berisi air matang dingin agar adonan tidak lengket satu sama lain.
- Membuat Kuah Jahe, Di panci terpisah, campurkan air, gula pasir/gula merah, jahe geprek, daun pandan, dan serai. Rebus dengan api sedang hingga mendidih dan aroma jahe keluar dengan kuat. Saring kuah agar bersih dari ampas jahe.
- Penyajian, Tata beberapa butir onde warna-warni di dalam mangkuk saji, lalu siram dengan kuah jahe hangat yang manis dan pedas segar. Hidangan siap dinikmati!
Warisan Budaya yang Menghangatkan Jiwa
Hari Raya Ko Ciet lebih dari sekadar urusan makan onde-onde warna-warni di dalam mangkuk. Di balik kesederhanaan bentuk kulinernya, tersimpan benang merah sejarah ribuan tahun yang melintasi berbagai dinasti, kisah kemanusiaan yang menghangatkan hati, serta pesan moral yang kuat tentang pentingnya menjaga keutuhan keluarga.
![]() |
| Warisan Budaya yang Menghangatkan Jiwa |
Di era modern yang serba cepat ini, festival seperti Ko Ciet menjadi pengingat bagi kita semua untuk sejenak melepaskan gawai, pulang ke rumah, berkumpul di meja makan yang sama, dan menikmati kehangatan bersama orang-orang tercinta. Kehadirannya yang bertepatan dengan momen Hari Ibu di Indonesia seolah mempertegas esensi kasih sayang, kelembutan, dan peran sentral seorang ibu dalam merekatkan sebuah keluarga.
Jika kamu kebetulan sedang bertualang kuliner atau berwisata di Kalimantan Barat, khususnya di daerah Sambas atau Singkawang pada akhir tahun, jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan atmosfer hangat perayaan ini.
Semoga bisa menjawab rasa penasaran kamu yang sempat bingung melihat linimasa media sosial kamu. Selamat Hari Raya Ko Ciet untuk rekan-rekan yang merayakan, dan selamat mencicipi manis-kenyalnya onde kuah jahe untuk kita semua! Selamat Makan dan Salam Yumcez

.png)



13 komentar
Silakan berkomentar dengan bijak. Setelah anda mampir dan berkomentar, saya akan berkunjung balik. Jangan meninggalkan link hidup ya :)
Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : eko.dony.prayudi@gmail.com
+Telp/WA : 0819 - 3210 - 9497
+IG/Twitter : @dodon_jerry
Jadi kangen sama keluarga majikan. Apalagi sebentar lagi mau kuo nien nih...
Tapi seneng aku kalau lihat perayaan china itu, pernik2nya lucu2 termasuk makanannya.
Taunya Cap Goh Meh (bener gak nulisnya?)
Cuma saran mungkin gambarnya diganti gambar kue2 itu mas hehe, jd punya gambaran makanan2 apa aja saat perayaan itu :D
Tapi kayaknya aku inget deh yg bulat2 didalam kuah putih gitu. Cuma aku pikir itu sejenis bubur atau kolak mereka 😅
Budaya Tionghoa memang selalu menarik untuk di pelajari. Bahkan kue bulannya saja sangat lezat sekali dan bentuknya cantik. Ternyata memiliki cerita dibaliknya juga ya.