Tukang Jalan Jajan

Budaya Langka "Pehawak" Ala Kayaan Mendalam


Kapuas Hulu atau Putussibau bukan daerah yang akrab bagi beberapa orang. Tapi daerah Hulu ini punya banyak sekali potensi Pariwisata yang luar biasa. Jika di tata kelola dengan baik pasti akan mendatangkan banyak sekali wisatawan. Beberapa nama lokasi sudah cukup populer, seperti Taman Nasional Betung Kerihun, Taman Nasional Danau Sentarum, Rumah Betang Sungai Utik dan masih banyak lagi atau mungkin makanan yang membuat kangen seperti temet, kerupuk belidak atau salai lais yang sedap.

Sampan bermesin di air surut Sungai Mendalam
Sampan bermesin di air surut Sungai Mendalam
Tapi Kapuas Hulu tidak hanya itu. Saya mengajak anda untuk masuk kedalam sungai Sibau menuju ke hulu. Ada sebuah kampung yang menarik untuk di telusuri, namanya Desa Padua dipinggir aliran sungai Mendalam. Di sana berdiam suku Kayaan Mendalam yang mendiami beberapa dusun. Saya berkesempatan mengunjungi kampung ini untuk menghadiri pernikahan adat yang sudah langka. Perjalanan cukup pangjang untuk bisa menuju kesana. Bisa menggunakan jalan darat menggunakan bus atau udara menggunakan pesawat.
Sungai Kapuas di lihat dari Udara
Sungai Kapuas di lihat dari Udara
Saya sudah siap di bandara pukul 10.00 pagi untuk siap untuk menuju ke Putussibau menaiki pesawat berbaling baling. Dengan durasi penerbangan kurang lebih satu jam tiga puluh menit. Saat akan mendarat saya melihat sungai kapuas dan anak sungai lainnya mengular, sambung menyambung tanpa tahu mana hulu dan hilirnya. Air yang berwarna coklat di himpit hutan tropis kalimantan yang hijau, sungguh lukisan alam yang sempurna.
Tiba di Bandara Putussibau
Tiba di Bandara Putussibau
Sesampainya di bandara, saya sudah di jemput untuk melanjutkan perjalanan. Motor dengan kemampuan besar sudah disiapkan menembus jalanan melewati sungai Sibau, saya jadi ingat dulu, sewaktu kecil, pernah juga menjejakkan kaki di Padua. Tidak ada jalan darat, harus menggunakan sungai Sibau sebagai jalur transportasi, melawan arus dengan mesin 10 PK dengan menempuh waktu sekitar 2 jam. Melewati beragam kelok dengan arus yang kadang deras kadang datar. Perjalanan ini juga sangat menantang saat melewati bebatuan atau kayu yang terpendam di dasar sungai. Jika tidak hati-hati bisa saja baling-baling mesin tersangkut.

Menyusuri sungai Mendalam
Menyusuri sungai Mendalam
Namun tidak semua perjalanan ini bisa dilewati menggunakan jalan darat. Kendaraan roda dua yang saya pakai harus menyeberangi dua sungai menggunakan penyeberangan dengan kapal bermesin yang di desain khusus membawa kendaraan roda dua dan empat serta melewati beberapa kampung. Saya masih bisa melihat banyak sekali padi yang di jemur. Beberapa sawah juga terlihat padinya sudah menguning. Beberapa kali saya berpapasan ibu-ibu yang membawa tangkin (sejenis tas anyaman) berisi padi, adapula bapak-bapak yang membawa ikan selesai menjala.

Menyusuri anak sungai Mendalam
Menyusuri anak sungai Mendalam
Setelah sekitar 40 menit sampailah saya di kampung Padua, Mendalam. Kampung ini tempat ibu saya dilahirkan. Rumah kayu ini jadi saksi kelahiran ibu sekaligus juga menjadi tempat pernikahan esok. Hari ini, saya memutuskan tidak untuk beristirahat. Saya ingin berkunjung ke kampung sebelah untuk melihat rumah betang Uma’ Suling. Rumah adat ini terbilang baru, didirikan tahun 2009 dan tidak difungsikan untuk tinggal hanya untuk perayaan atau pertemuan saja. Jarak Padua ke Rumah Suling hanya 15 menit menggunakan kendaraan roda dua.

Prasasti peresmian Rumah Betang
Prasasti peresmian Rumah Betang
Saya bergegas untuk melihat ke kampung sebelah betang ini. Tidak terlalu panjang dan tidak juga besar, memang digunakan hanya untuk ruang pertemuan. Tapi lumayanlah, masih ada ornamen Kayaan yang bisa dinikmati didalamnya. Beberapa patung dan ukiran yang sangat khas. Menggambarkan bentuk “hudo’ok” sang makhluk penjaga rumah ini. Tidak jauh dari Betang ada rumah kepala desa. Berkunjung ke sana untuk mendapatkan informasi adalah pilihan terbaik untuk mencari tahu.

Hudo', Patung penjaga betang
Hudo', Patung penjaga betang
Namanya Jaraan Markus, kepala desa dua periode yang ramah menjelaskan. “Kampung ini penduduknya hanya 200 kepala keluarga, sudah banyak yang sekolah atau pindah bekerja di kota”. Ia menyarankan untuk datang lagi pada saat gawai karena akan lebih ramai. “Banyak orang pulang kampong, banyak padi baru. Setiap rumah banyak makan dan minum, Kita sebut gawai itu Dange”. Demikian Pak Kades menjelaskan. Saya pun sungguh beruntung di ajak beliau untuk ikut “mukat” dan memancing di anak sungai Mendalam sore ini.

Sungai Mendalam sedang surut
Sungai Mendalam sedang surut
Air tidak terlalu dalam karena memang musim air surut. Air sungai yang bening membuat saya bisa melihat bebatuan di dasar sungai. Perlahan sampan di kayuh masuk ke anak sungai setelah menyeberang sungai berarus sedang. Air mulai terlihat agak gelap disinilah kami mulai mencoba memasang pukat sekalian melempar umpan. Saya sendiri lebih sibuk melihat hamparan tanaman yang hijau di pinggir sungai sembari melihat beberapa monyet yang melompat kesana kemari. Sayangnya saat ini sore hari sehingga tidak ada suara burung.

Sungai Mendalam sedang surut
Sungai Mendalam sedang surut
Sore makin menjelang. Sayapun di ajak pulang, hanya dua ekor ikan yang berhasil di pancing, ukurannyapun tak seberapa. Pukat akan di angkat esok pagi. Kamipun mengayuh perlahan sampan kecil yang muat 3 orang saja ini. Sesampai di rumah kepala desa. Saya mengucapkan terima kasih karena sudah di ajak berjalan jalan. Sayapun kembali kerumah untuk bersiap dengan aktifitas esok pagi.
Alam yang masih asri
Alam yang masih asri
“Pehawak” atau menikah dalam bahasa Indonesia. Pagi ini mempelai pria sudah datang kerumah. Hantaran yang diberikan juga bermacam-macam, mulai dari kain sampai bahan pangan, namun yang paling menarik perhatian adalah sepasang “tawak” atau gong dengan diameter satu meter. Harganya sudah pasti mahal, ditambah dengan tempat sirih pinang dari tembaga dan perhiasan dari manik-manik. Seserahan ini diberikan pada wanita sebagai pengikat. Artinya, jika nanti jika terjadi perpisahan yang dikehendaki sang pria maka seluruh seserahan itu menjadi hak milik wanita seutuhnya namun sebaliknya, jika sang perempuan yang meminta perceraian maka wanita harus mengembalikan semua seserahan tadi kepada pria dua kali lipat.

Tawak untuk mahar pernikahan
Tawak untuk mahar pernikahan
Acara ini di mulai dengan pembukaan dari orang yang dituakan di kampung, “Uku” atau nenek/kakek dalam bahasa Indonesia yang dipercaya memimpin adat ini. Dia adalah Uku Bua’. Usianya sudah lebih dari 80 tahun dengan ciri khas telinganya yang panjang. Pengantin didudukan di satu kursi, didampingi dengan dua anak kecil. Kedua tangan diletakkan di atas paha dan kedua mempelai diberi petuah dalam bahasa Kayaan Mendalam. Sayapun tidak begitu paham dengan artinya secara spesifik. Namun nasehat itu dilantunkan dalam beberapa irama seperti sebuah lagu yang mendayu dayu.
Uku Bua', bertelinga panjang dan memiliki rajah di tangan dan kaki
Uku Bua', bertelinga panjang dan memiliki rajah di tangan dan kaki

Uku Bua', bertelinga panjang dan memiliki rajah di tangan dan kaki
Uku Bua', bertelinga panjang dan memiliki rajah di tangan dan kaki
Selanjutnya kedua pengganti dan anak tadi di ajak menuju balai-balai lalu di suruh tidur berdua. Keduanya kemudian di tutup dengan tikar pandan hutan. Ini bearti, mulai saat ini sudah resmi menjadi suami istri yang siap untuk tinggal bersama dan tidur seranjang. Setelah beberapa saat, kedua pengantin dan sepasang anak kecil tadi disuapi dengan nasi putih bersama sepasang ikan seluang rebus. Ini melambangkan bahwa sekecil apapun rejeki yang di dapat akan di bagi sama rata. Setelah ini berakhir maka keduanyapun kembali didudukan di satu kursi bersama kembali.

Pengantin yang menikah hari ini
Pengantin yang menikah hari ini
Setelah itu biasanya acara diisi dengan menari bersama dengan mengumandangkan lagu diiringi sape’ dengan gerakan memutar di tengah area pesta diikuti bersama –sama keluarga dan tamu yang hadir. Tentu saja ada makanan khas yang dihidangkan untuk melengkapi acara berupa dinu’ anyeh, dinu’ lulun dan kembang goyang di tambah dengan tuak manis. Makanan kecil ini akan dinikmati hingga acara berakhir. Setelah sekitar 20-30 menit dan lagu selesai dinyanyikan maka akan di tutup dengan makan siang bersama.

Mulai mengajak menari dan berputar di area tengah pesta
Mulai mengajak menari dan berputar di area tengah pesta
Tidak banyak orang yang tahu bahwa adat istiadat seperti ini masih ada di tanah Kalimantan. Banyak anak muda yang sudah melupakannya. Padahal jika dikelola dengan baik, bisa jadi acara adat langka seperti ini menjadi objek wisata budaya dan mungkin saja dapat digabungkan dengan wisata alam atau wisata budaya lainnya membentuk kesatuan dalam jejaring wisata Kalimantan Barat. Saya berusaha memperkenalkan kampung ini dengan adatnya yang kaya dan alamnya yang indah. Tidak banyak literatur yang memuatnya dan semoga tulisan ini bisa jadi salah satu referensi objek wisata Kalimantan Barat di dunia Internet.
Kudapan Kampung
Kudapan Kampung untuk Pehawak
Mari majukan objek wisata Kalimantan Barat yang berdaya saing dan layak jual di Indonesia maupun mancanegara. Salam Jalan Jalan Jajan!


54 komentar:

  1. Aku belum pernah tahu orang Kalimantan Barat. Adatnya masih terasa kental, ya? :D

    BalasHapus
  2. Benar2 masih asri dan alami.

    BalasHapus
  3. Natural ia, dan harus dirawat dan di lestarikan ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus banget. biar bisa dinikmati anak cucu kita nanti

      Hapus
  4. terlihat jelas masih menjaga budaya turun temurun nya,, itu telinga Uku Bua apa gak sakit atau ribet gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah jadi adat dan dulu semua perempuan kayaan telinganya panjang. jadinya biasa aja hehehe

      Hapus
  5. Saya tertarik dengan adatnya. Semoga di lain waktu berkesempatan melihat langsung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga punya kesempatan untuk merasakan sendiri keseruannya yah

      Hapus
  6. Keren ih! Aku paling suka liat upacara adat gini. Ehhh ga bikin videonya ya Mas Dodon? Kan langka.
    Trus aku mikir, nanti kalo Mas Dodon nikah bakal kaya gitu juga ya? Semoga aku diundang, biar lihat langsung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya ngga jago ngambilin video, soalnya suka tremor dan bergetar. belum belajar ngediting juga hehehehe

      Hapus
  7. Wahhh Kalimantan kerenn..
    Aku paling suka sama pakaian adatnyaaa...
    Suatu saat aku akan ke Pontianak atau Banjar Masinn...

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin kak Ajen, semoga nanti bisa kesampaian dan berhasil ke Kalimantan

      Hapus
  8. Aku penasaran kak, maharnya ngasih gong apa ada maknanya? Terus tangan yang dirajah itu apa karena ia orang yg dituakan ya kak? Btw ada beberapa kata yang typo contoh nesin, menempun. Hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gong dulu sesuatu yang mahal dan ngga semua orang punya. hanya orang kaya kak. Rajah itu di buat sebagai status sosial. makin banyak makin tinggi, ada artinya masing-masing di tangan dan kaki. makasih koreksinya kak

      Hapus
  9. Jadi inget punya temen orang dayak.. Eh sama guru matematika, cantik. Jadi pengen ke Kalimantan.. Liat kultur budayanya yang unik..apalagi kalau pas dodon merit nanti pake upacara adat kayak ini. Satu aja sih, kirim undangan plus transportnya.. Salam *muaach

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya Mak, nunggu dapet sponsor dari ASUS yak... hihihihihi

      Hapus
  10. Wuiiih keren mas
    Masih muda ya yang nikah dan Alhamdulillah masih tetap mau berusaha melestarikan pernikahan adat


    Ohya, itu kalo mempelai prianya dari kalangan bawah, ngasih pengikatnya gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. klo dari kalangan bawah biasanya sederhana aja kak. ngga pakai yang ribet seperti ini heheh

      Hapus
  11. Dari dulu pengen bnget menghadiri acara nikahan adat, tapi blm kesampaian.
    Tradisi ini udah mulai jarang dlakukan, mungkin karena berat di seserahan itu kali, ya?? :/

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang justru udang lebih gampang dapetin gong mbak. ngga kaya zaman dahulu hehehehe

      Hapus
  12. pengantinnya dari suku yang sama atau berbeda? Ada aturan ngga soal beda suku cara-caranya? Eniwei itu patung penunggu rumah serem banget ya. Kebayang deh kalau beneran mahluknya keliatan jalan-jalan di rumah betang hi.. tapi menari banget ini,, pengen kesana. Siapa ya yang mau ajak

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebetulan yang menikah ini beda, yang cowok pria jawayang cewek wanita kayaan mendalam hehehe

      Hapus
  13. wah, berat juga kalau mau cerai... mungkin supaya pikir duluuu dengan dalem sedalem2nya... Gak main2 tuh balikin 2 kali lipat... (termasuk tawak-nya dong?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, harus semuanya bu. jadi memang harus dibalikin semua sebagai hukum adat

      Hapus
  14. Saya selalu bermimpi bisa jalan2 seperti ini. Benar2 menjelajah dunia, khususnya Kalimantan beserta suku dan budaya seperti tradisi Pehawak ini. Keren, Mas Don.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mudah mudahan nanti segera bisa dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa

      Hapus
  15. Salah satu alasan kenapa saya suka membaca cerita orang lain adalah karena saya ingin merasakan juga sensasi dan pengalaman yang diceritakan pada tulisan.

    Dan untuk tulisan ini, saya berusaha untuk mengerti kenapa banyak orang yg masih tidak tahu tentang budaya pehawak ini, ya salah satunya karena kurang terekspose dan tersebar informasi. Btw saya pun baru tahu seputar budaya pehawak setelah membaca tulisan ini hehehehe

    Ya seharusnya yg diolah pertama itu adalah fasilitas transportasi ke lokasi, padahal kalau diolah dan diatur secara benar oleh pemerintah, ini bisa jadi wisata budaya sekaligus wisata alam. Tapi ya itu jauh dan sulitnya alat transportasi menuju daerah wisatanya, membuat pehawak kurang terekspose..

    Btw semoga menang ya bang lombanya X)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang permasalahan di Kalimantan adalah sarana dan transportasi karena luas pulau dan jarak kota yang berjauhan

      Hapus
  16. Masih asli banget ya, Mas. Sungai, hutan, dan nikah dg adat Kalimantan. Ah itu gong jd mas kawin jg, di Jawa ya ditabuh. Bneran kudu dilestarikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe sebenarnya di Kalimantan di tabuh juga sih heheheh. cuman dulu memang susah mendapatkannya. Alamnya memang keren

      Hapus
  17. Baju mempelai laki2nya gitu ya?! Ah tapi biar adatnya terlihat ribet, smua bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. aslinya ngga ribet kok hehehe. simpel banget kok

      Hapus
  18. Daerahnya keren banget. Saya juga mau deh berbagi tentang daerah saya, suku Mandar itu. Tahu kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan mas Mukhsin, semoga bisa memperkaya khasanah budaya Indonesia

      Hapus
  19. wahhhhhhhh kalimantan budaya disana masihlah khas banget yaaaaa dan banyak tanaman hijau disana enak tempatnya buat refreshing

    BalasHapus
    Balasan
    1. silakan kak Dikki, lepaskan diri dari hiruk pikuk kota yang super padat

      Hapus
  20. Perjalanan menuju kampungnya masih terjaga ya kak alamnya. Dan budayanya di sana masih kental sekali ya. Sakral banget kalo nikah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Uda dapat cewek suku Kayaan biar tahu nanti rasanya langsung heheheh

      Hapus
  21. Kalimantan emang luar biasa yaa.. Aku selalu merinding tiap baca2 dan lihat2 budaya Kalimantan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Noni harus dateng kesini buat merasakan sendiri

      Hapus
  22. Kepulauan Indonesia itu sungguh kaya dengan keindahan alam dan adatnya.
    Senang bisa membaca tulisan mas Don.

    Satu lagi kekayaan Inonesia yang terkuak adalah Pulau Pehawak, Kalimantan.

    BalasHapus
  23. hihii kirain yang mau menikah si mas, ternyata lain. adat pernikahannya masih tradisional banget ya, pasti senang bisa berada di sana. Kalau pergi jalan2 ke rumah tradisional saya juga senang melihat berbagai ornamen dan ukiran di sana.

    Naik perahu bermesin menyusur sungai pasti menyenangkan ya mas. duh jadi ingat masa2 indah berpetualang dulu.
    Ditunggu cerira seru berikutnya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap, nanti saya ceritain lagi ya kak Ira. hehehe

      Hapus
  24. Sungai Kapuas gedhe banget. Di Jawa suangainya kecil2 hehe
    Paling seneng baca blogmu mas, jadi tau ttg Borneo utamanya bagian Pontianak dan sekitarnya. Suamiku org Kalimantan jg tapi blm pernah ajak aku eksplor Kalimantan blusukan gtu hehehe. Moga2 bisa jelajah Kalimantan suatu hari nanti :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalimantan luas banget Kak April. semoga nanti bisa eksplorasi Kalimantan dan bisa menemukan sendiri ceritanya

      Hapus
  25. Aku suka foto yang menelusuri suku anak pedalaman.. dan kalimantan aku belum pernah ke sana berjumpa kamu yg femes.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku mah.... apaaahhh koh..... femes di kalangan orang rumah sik hahahahaha

      Hapus
  26. asli keren budayanya,, maksih gan sharingnya

    BalasHapus
  27. anak kalimantan mana suaranyaaaa...

    BalasHapus

DILARANG MENGAMBIL TULISAN, FOTO ATAU VIDEO TANPA SEIJIN PENULIS :)

Silakan berkomentar dengan bijak. Setelah anda mampir dan berkomentar, saya akan berkunjung balik. Jangan meninggalkan link hidup ya :)

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : eko.dony.prayudi@gmail.com
+Telp/WA : 0819 - 3210 - 9497
+IG/Twitter : @dodon_jerry

Diberdayakan oleh Blogger.