Adv

Sambutan Hangat Ngimat Ayu Guest House di Bario Sarawak


Cerita ini merupakan lanjutan postingan sebelumnya. Menyepi dan menikmati alam Bario. jika belum membaca silakan cek disini
Selamat Datang di Bario
Bareng penampil Asia Music Festival
Sampai di Bandara kami sudah di jemput oleh Scott sang pemandu dari Ngimat Ayu Guest House yang akan menemani kami selama 2 hari 3 malam. Perjalanan dari bandara ke guest house membutuhkan waktu 30 menit. Di sepanjang jalan saya melewati perkampungan, komplek pemerintah, kantor polisi, pusat kesehatan, pasar, sekolah dan gereja.

Ian, Arlyn dan Saya
Rumah di atas bukit
Sambutan Hangat Ngimat Ayu Guest House
Saya selalu teringat dengan kawasan Dieng di Indonesia jika berkunjung ke Bario. Udara sejuk. Saat saya mendarat kurang lebih 11 siang, matahari bersinar terang benderang tapi cuaca sangat sejuk. Saya harus lebih menutup jaket yang saya gunakan. Saya berjalan dari landasan pacu menuju ruang kedatangan dan menunggu tas saya. 

Suasana pegunungan di Bario
Bandara di pegunungan ini sangat sederhana. 1 konter check in, 1 ruang tunggu dan 1 ruang kedatangan yang terdapat 1 roda berjalan untuk mengambil barang. Saya dan teman-teman sudah ditunggu Scott di kantin di sebelah bangunan bandara. Di kantin ini saya melihat beberapa orang penumpang menikmati minuman hangat dan juga ternyata ada pilot yang tadi mengantar kami dari Miri ke Bario. Segelas Barley hangat sebelum melanjutkan perjalanan saya menuju guest house.

Ngimat Ayu Guest House
Nanas Bario (Arlyn dan Oil)
Kami diantar Scott menggunakan mobil 4WD dengan tambahan back terbuka dibagian belakang. Saya sendiri naik di belakang bak mobil, beberapa warga menyapa dengan melambaikan tangan. Sangat ramah dengan pendatang. Bahkan menurut Scott semua orang di Bario mengenal satu sama lain dan tahu silsilah keluarga sehingga setiap pendatang akan sangat mudah dikenali. Apalagi kalau ada yang pacaran antar penduduk kampung, bebet,bobot, bibit langsung ketahuan seketika tanpa bisa ditutup-tutupi.
Transportasi di Bario
Kawasan Bario merupakan daerah yang bisa dibilang jauh dari sentuhan budaya modern. Desa Bario yang berlokasi di Serawak ini berada pada ketinggian 3.280 meter di atas permukaan air laut. Lokasi Bario boleh dibilang terisolasi dari jangkauan masyarakat pada umumnya, tapi justru inilah membuat desa Bario menjadi unik dan menantang untuk dikunjungi. Sesampainya di Ngimat Ayu guest house yang dikelola oleh Scott kami langsung dipersilakan untuk menyimpan barang di dalam kamar. Tapi sebelum naik tangga rumah kami melihat beberapa buah nanas ranum dan segar tergeletak di dekat tangga naik. Seketika itu juga kami semua kompak memintanya untuk dinikmati sebagai buah selamat datang
Bangkai pesawat sisa perang dunia ke 2
Gazebo di Ngimat Ayu
Ngimat Ayu terdiri dari 4 kamar yang tiap kamar memiliki 2 kamar tidur dan didalam sudah tersedia 1 buah lemari. Fasilitas lengkap mulai dari kasur, bantal, selimut hingga handuk. Terdapat 2 kamar mandi dan 1 toilet diatas dan 1 dibawah serta 1 buah dapur yang luas lengkap dengan peralatannya dan bisa diakses tamu 24 jam dan terdapat meja makan panjang yang bisa menampung 10 orang.
Beranda Ngimat Ayu
Ruang Tamu Ngimat Ayu
Rumah ini terbagi menjadi 2 tingkat, dibagian atas untuk tamu sedangkan dikolong rumah terdapat bilik yang ditinggali Scoot. Ada 2 tangga masuk yang cukup tinggi. Jika melewati tangga di bagian depan maka kita akan disuguhkan balkon untuk bersantai untuk pagi hari berupa kursi malas dengan meja panjang serta 1 buah meja kecil yang penuh dengan kopi, coklat dan teh siap saji yang dapat dinikmati sepanjang waktu untuk melawan udara dingin. Masih ada 1 meja panjang dengan 4 buah kursi panjang disetiap sudutnya dan bisa digunakan untuk sarapan pagi atau snack time di sore hari. Pemandangan dibagian depan rumah juga indah, ada pegunungan yang biru dan tertutup kabut dan petak-petak sawah yang baru saja di panen. Sejuk sekali dan menenangkan hati.
Oil (thailand)
Nanas Bario
Segar dan manis
Kami semua beranjak ke dapur untuk langsung memotong sendiri nanas yang sangat ranum dan terlihat manis. Tidak sabar untuk mencoba bagaimana rasa buah tropis berwarna orange ini. Setelah bersih dan kami langsung menikmatinya. Rasa manis berbalut asam benar-benar memenuhi rongga mulut dan membuat kami ketagihan untuk mengupas lagi dan lagi dan lagi. Nanas disini sungguh manis, namun ada cerita unik dibalik kenikmatan nanas ini, dimana jika nanas dibawa keluar Bario maka rasanya akan berubah menjadi asam dan tidak seenak saat dinikmati di Bario.
Makan Siang
Menu yang menyenangkan

Kawasan sejuk dan menyenangkan
Kampung asri dan hijau dengan pegunungan berkabut selalu jadi tempat yang eksotis. Bangun lah pagi hari lalu pergilah menghirup udara segar di sepanjang jalan kampung yang sepi. Walaupun matahari mulai menampakkan sinar di ujung gunung tapi udara tetap membuat menggigil 6-10 derajat celcius adalah hal yang biasa. Beberapa orang kampung yang lewat menyapa dengan senyuman manis mereka sembari mengatakan ‘Hai’ dan ‘Morning’. Tadi malam saya sempat mendengar cerita dari Scott, kalau dulu kampung ini selalu ........

Bunga yang Indah
Bario adalah ibu kampung dari beberapa belas kampung di dataran tinggi ini. Potensi pariwisata yang alami dengan banyak sekali rute trekking, hiking, budaya serta sejarah. Namun diingatkan tetap harus menggunakan pemandu lokal agar tidak tersesat. Pilihan rute terbagi beberapa level, mulai dari pemula yang hanya menempun waktu 4-5 jam, medium yang menempuh waktu 3 harian dan menginap dibeberapa lokasi camping ground ditengah hutan yang sudah disediakan penduduk kampung sampai trekking bagi yang profesional selama 1 – 2 minggu perjalanan.

Ditaman penuh bunga
Kunjungan wisatawan ternyata cukup banyak, sembari berjalan berkeliling kampung saya melihat beberapa rumah tinggal yang digunakan sebagai homestay, ternyata disini ada yang tinggal selama hampir sebulan bahkan lebih. Wisatawan yang datang bermacam-mcam tujuan. Ada yang ingin menikmati aktifitas trekking dan hiking, ada yang lari dari cuaca panas dinegaranya atau punya tujuan sama seperti saya, ingin merasakan hidup jauh dari teknologi dan kehidupan perkotaan yang penuh udara tidak sehat.
Bagian depan rumah
Bunga didepan Gereja
Pagi ini saya melihat banyak pemandangan bagus dan menarik, mulai dari bangkai pesawat sisa perang dunia kedua, rumah-rumah diatas bukit, taman-taman bunga yang cantik serta aktifitas penduduk kampung. Saya belum menemukan rumah asal atau rumah panggung panjang yang terdapat 22 pintu yang bearti ada 22 kepala keluarga. Beberapa orang kampung sempat saya tanyakan, ternyata rumah ini berada di kampung sebelah. Setelah puas berkeliling dan mataharipun semakin meninggi saya kembali ke home stay dan teman-teman yang lain sudah siap untuk menikmati sarapan. Sarapan khas kampung Bario yang menggoda.

Yang membantu memasak makanan dari Indonesia lho :)
Diatas meja panjang di beranda rumah sudag disiapkan sarapan 2 jenis sarapan yang menggoda selera. Nasi goreng yang menggunakan beras Bario yang pulen dan dimasak hanya dengan minyak dan bawang goreng serta ketan Bario yang lembut dan pulen. Teman makannya juga ada beberapa, daging kornet goreng, kacang dan teri goreng, selai nanas Bario dan Madu Bario. Wow! Saya mencoba ketan dan selai nanas serta madu buatan sendiri dengan segelas coklat hangat. Luar biasa, pulen, lembut berpadu dengan asam manis madu dan selai. Sarapan ini benar-benar membuat saya bersemangat untuk menjalani aktifitas pagi ini. Luar biasa!

Bunga bunga dimana mana
Perjalanan ini masih panjang. Tunggu cerita berikutnya :)

Tidak ada komentar

Silakan berkomentar dengan bijak. Setelah anda mampir dan berkomentar, saya akan berkunjung balik. Jangan meninggalkan link hidup ya :)

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : eko.dony.prayudi@gmail.com
+Telp/WA : 0819 - 3210 - 9497
+IG/Twitter : @dodon_jerry

Diberdayakan oleh Blogger.