Adv

Keriang Bandong, Tanglong, Meriam Karbit Sebelum Lebaran


Masih dalam suasana bulan syawal, pasti menyenangkan sekali bisa berkunjung keseluruh sanak saudara untuk sekedar silaturahmi, makan besar atau hanya sekedar menikmati kue lebaran. Memang setiap daerah mempunyai cirri khas masing masing, jika di Pontianak, beberapa tradisi sudah saya himpun, diantara memasang keriang bandong, tanglong, makan sotong pangkong sampai memainkan meriam karbit pada saat malam takbiran. Sungguh rutinitas tahunan yang menyenangkan

Meriam karbit tepian sungai Kapuas
Meriam karbit tepian sungai Kapuas
Saya sempat merangkum banyak kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat kota Pontianak, dimulai dari keriang bandong. Jika anda melihat beberapa lampu pelita dihalaman rumah warga saat 10 hari terakhir menjelang lebaran atau dikenal juga dengan selikuran untuk menyambut malam lailatul qadar.  suatu tradisi  yang dimulai sekitar tahun1960 salah satunya muncul akibat terbatasnya penerangan di malam hari apalagi di pelosok-pelosok desa. bahan keriang bandong mulanya berasal dari damar dan getah kayu. Ada juga yang dibuat dari tempurung kelapa dengan menggunakan  bahan bakar minyak kelapa, kemudian meningkat menjadi pelita. Awal 60-an keriang bandong banyak dipasang oleh masyarakat di daerah Wajok dan Jungkat.

Keriang Bandong
Keriang Bandong
Susah mencari tahu darimana nama keriang bandong ini diambil, tidak ada literature pasti. Lalu kenapa masyarakat melakukan ini? Keriang bandong dibuat dengan keyakinan dari masyarakat bahwa di malam itu malaikat turun ke bumi dan mendatangi rumah penduduk untuk memberikan berkah. Diyakini, agar malaikat mampir, kediaman kita haruslah bersih dan terang benderang

Ciri khas masyarakat melayu Pontianak ini terus berkembang, dan berevolusi. Proses Akulturasi kebudayaan tercipta. Tanglong kemudian hadir di tengah masyarakat Kalbar yang majemuk. Tanglong berbentuk aneka rupa. Bentuknya bermacam-macam. Mulai dari bentuk tradisional seperti segi enam, ikan, pesawat, dan lainnya. Fungsinya sama seperti keriang bandong yakni sebagai penerangan. Tanglong memendarkan pijar api minyak tanah aneka warna.Untuk memperoleh kayu yang berkualitas, kayu hendaknya di rendam di dalam lumpur yang ada di dasar Sungai Kapuas. Tujuannya adalah membunuh serangga yang memakan kayu. Setelah sekian tahun di penamkan di dalam lumpur, kayu kemudian di naikkan ke atas panggung nibung. Proses penaikkan kayu ini terbilang sulit. Untuk meringankan kerja, biasanya kayu di naikkan saat air sedang pasang.Bagi warga yang gemar akan tantangan, mereka dapat meraakan sensasi yang luar biasa saat menyulut meriam karnit. Dentuman suaranya yang menggemuruh mampu mengguncangkan gertak dan panggung kayu nibung yang dibangun di tepian Sungai Kapuas. Aksi ini jelas memacu kerja jantung.

Tanglong
Tanglong
Jika ditelisik dari bentuk dan namanya tanglong bukan produk asli budaya Melayu, ini adalah akulturasi lampion dari masyarakat tionghoa.Fungsi tanglong dipakai sebagai aksesori beranda dan halaman rumah. Sama dengan keriang bandong, tanglong oleh masyarakat dewasa ini juga banyak dipasang saat malam likuran.Tanglong dibuat dari kertas minyak berwarna dan memakai rangka dari bambu. Tahun 80-an hingga awal 90-an, tanglong menjadi mainan favorit anak-anak kampung di malam bulan puasa, khususnya malam 21 (likuran) sampai malam takbiran. 

Oleh anak-anak, keriang bandong diarak, lalu diadu. Sembari berdendang lagu khusus. Tanglong yang kuat, dan tidak mengalami kerusakan parah-lah yang menjadi pemenangnya. Tradisi ini kian meredup seiring perubahan zaman
Anak-anak sudah tidak lagi mengarak keriang bandong sembari berdendang lagu khusus tersebut. Keriang bandong kini lebih banyak dipajang dan sekadar menjadi hiasan yang disimpan di halaman rumah atau teras saat malam likuran. Namun saying, saat ini sudah tidak banyak lagi warga yang membuatnya, kalau pun ada biasanya digang-gang lebih suka menggunakan lampu kelap kelip yang dirangkai membentuk suatu objek.

Meriam karbit tepian sungai Kapuas
Meriam karbit tepian sungai Kapuas
Ada satu lagi hal yang sangat menarik di Pontianak, peristiwa satu tahun sekali yang sudah menjadi asset wisata warga Pontianak yang mungkin hanya ada di wilayah Indonesia. Dilihat dari aspek sejarah, permainan meriam karbit memiliki pertalian erat dengan sejarah berdirinya kota Pontianak. Saat itu, Sultan Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri, pendiri Kota Pontianak, yang juga sultan pertama Kesultanan Pontianak, menembakkan meriam ke arah daratan. Tujuannya adalah untuk mengusir hantu kuntilanak yang konon saat itu banyak bergentayangan di daratan.

Untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, warga masyarakat Kota Pontianak, khususnya yang tinggal di tepian Sungai Kapuas membuat meriam-meriaman berbahan batang kayu gelondongan besar. Meriam dari kayu itu kemudian di beri karbit (CaC2) dan di sundut dengan nyala api di salah satu sudutnya. Tradisi unik ini bisa di jumpai mulai pekan ke dua bulan Ramadhan.

Meriam karbit tepian sungai Kapuas
Meriam karbit tepian sungai Kapuas
Meriam karbit wujudya bukan seperti meriam dari besi. Meriam ini terbuat dari kayu besar yang berdiameter kurang lebih 50 cm - 100 cm, dengan panjang antara 4 - 7 meter. Pada salah satu bagiannya, tepatnya di tengah meriam, di beri lubang. Cara mainnya mudah. Sebelum di sulut, meriam terlebih dahulu diisi dengan air dengan jumlah tertentu. Kemudian, didalamnya dimasukkan karbit.

Karbit yang bereaksi dengan air akan menghasilkan gas yang jika disulut dengan api akan mengakibatkan ledakan. Untuk satu kali permainan paling tidak dibutuhkan sekitar 3-5 ons karbit. Suara ledakan yang di hasilkannya mampu menggoyangkan bangunan di sekitarnya. Pada beberapa kasus, pernah terjadi pecah pada rumah. Kondisi ini terjadi jika jarak antara meriam dengan rumah terlalu dekat. 

Sotong Pangkong Pontianak
Sotong Pangkong Pontianak
Secara teoritis, ledakan yang di timbulkan meriam karbit di karenakan adanya konsentrasi gas di tempat yang sempit. Gas yang di hasilkan karbit memiliki sifat mudah terbakar. Akumulasi gas dalam jumlah besar dapat di peroleh dalam waktu relative singkat melalui pencampuran air dengan karbit. Karbit memiliki rumus kimia CaC2. CO2 yang terkandung dalam karbit dapat terlepas jika karbit terkena air. Jika gas CO2 berkumpul dan terakumulasi dalam ruang sempit (dalam meriam), maka gas akan mudah terbakar jika terkena api.

Sotong Pangkong Pontianak
Sotong Pangkong Pontianak
Efek ledakan akan semakin dasyat jika jumlah karbit dan air mengunakan perbandingan 2:1. Secara hitungan sederhana, untuk menghasilkan gas CO2 yang besar, 0,8 ons karbit harus di campur dengan 35cc air. Selain menggunakan karbit, ledakan juga bisa di timbulkan melalui pemanpatan gas LPG (Liquefied Petroleum Gas). Cara kerjanya sederhana, yakni gas LPG di mampatkan dalam ruang sempit. Setelah padat, gas LPG kemudian di sulut dengan api. Hasilnya, sebuah ledakan besar pun akan terjadi.

Meriam karbit tepian sungai Kapuas
Meriam karbit tepian sungai Kapuas
Seperti apa meriam karbit tempo dulu? Wujud meriam karbit dari tahun ketahun, terus mengalami evolusi. Dulu, meriam karbit dibuat dari bahan batang kelapa atau batang pohon pinang. Seiring dengan berlakunya masa keemasan industri kayu, batang kelapa serta batang pohon pinang pun diganti dengan kayu gelondongan. Bunyi yang di hasilkan pun di jamin memekakkan gendang telinga.
Jika telah di rangkai sedemikian rupa, suara dentuman dari meriam karbit berbahan kayu ini sangatlah keras. Gelegar suaranya terdengar sampai dengan 4-5 kilometer dari panggung. Tak jarang suaranya menimbulkan gema yang berulang. 







Tidak ada komentar

Silakan berkomentar dengan bijak. Setelah anda mampir dan berkomentar, saya akan berkunjung balik. Jangan meninggalkan link hidup ya :)

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : eko.dony.prayudi@gmail.com
+Telp/WA : 0819 - 3210 - 9497
+IG/Twitter : @dodon_jerry

Diberdayakan oleh Blogger.