Adv

Mata sipit, Kulit putih dan IMLEK


Wah... "Gōngxǐ fācái" (bahasa Mandarin), "Kung hei fat choi" (bahasa Kantonis), "Kiong hi huat cai" (bahasa Hokkien), "Kiong hi fat choi" {bahasa Hakka) yang kesemuanya berarti "selamat dan semoga banyak rejeki", "Xīnnián kuàilè" (新年快樂) = "Selamat Tahun Baru" . Semoga pembaca blog saya bisa merasakan semua keberkahannya di tahun Kelinci logam ini. Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan saya? Memang sedikit berbau SARA tapi percayalah ini sebuah pengetahuan tentang tradisi yang sangat kental di Kota Pontianak. 

Entah mengapa mata saya begitu sipit dan kulit putih, 98% orang yang bertemu saya pasti akan langsung memberikan penghakiman “kamu Cina” dan biasanya juga akan langsung diajak bicara bahasa Hoklo atau Khek. Untunglah saya sedikit banyak mengerti karena pengaruh lingkungan sekolah saya dulu dan dampak yang paling saya rasakan adalah saat IMLEK seperti ini, ucapan imlek tumpah ruah, permintaan kue keranjang dan angpao serta bertanya kapan open housenya. Pasti bingung menjawabnya, karena memang tidak ada kegiatan apa-apa dirumah, karena saya tidak merayakan IMLEK, kecuali nanti istri saya bersuku cina hehehehe.
 
Sedikit mengenai pandangan saya mengenai IMLEK, memang banyak yang mengatakan ini adalah ritual keagamaan, tapi kalau saya boleh berpendapat, IMLEK memang ada ritual keagamaannya namun itu sebatas di tempat peribadatan, sedangkan yang lain dan kebanyakan adalah tradisi, tidak perlu diributkan. Saya kadang merasa aneh saat banyak orang mempermasalahkannya keberadaan tradisi ini berlangsung dijalanan semisal barongsai atau naga (liong) asal mereka memang sudah mengantongi izin. Saya pikir ini adalah satu hal yang sangat baik untuk perkembangan pariwisata. Jangan salah, Kalimantan Barat khususnya daerah pesisir adalah tempat persinggahan pertama bangsa Tiongkok di Indonesia.

Ada beberapa hal lagi yang sebenarnya perlu diluruskan, Banyak yang mengatakan Happy Chinese New Year dalam bahasa Inggris padahal yang benar adalah Happy Lunar New Year, kenapa? Mari kita sama-sama mencari tahu sejarahnya. Kalender lunisolar Tionghoa menentukan tanggal Tahun Baru Cina. Kalender tersebut juga digunakan di negara-negara yang telah mengangkat atau telah dipengaruhi oleh budaya Han (terutama di Korea, Jepang, dan Vietnam) dan mungkin memiliki asal yang serupa dengan perayaan Tahun Baru di luar Asia Timur (seperti Iran, dan pada zaman dahulu kala, daratan Bulgar).

Dalam kalender Gregorian, Tahun Baru Cina jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, antara tanggal 21 Januari sampai 20 Februari. Dalam kalender Tionghoa, titik balik mentari musim dingin harus terjadi di bulan 11, yang berarti Tahun Baru Cina biasanya jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik mentari musim dingin (dan kadang yang ketiga jika pada tahun itu ada bulan kabisat). Di budaya tradisional di Cina, lichun adalah waktu solar yang menandai dimulainya musim semi, yang terjadi sekitar 4 Februari.
Tanggal untuk Tahun Baru Cina dari 1996 sampai 2019 (dalam penanggalan Gregorian) dapat dilihat di tabel di atas, bersamaan dengan shio hewan untuk tahun itu dan cabang duniawinya. Bersamaan dengan daur 12-tahun masing-masing dengan shio hewan ada daur 10-tahun batang surgawi. Setiap surgawi dikaitkan dengan salah satu dari lima elemen perbintangan Cina, yaitu: Kayu, Api, Bumi, Logam, dan Air. Unsur-unsur tersebut diputar setiap dua tahun sekali sementara perkaitan yin dan yang silih berganti setiap tahun. Unsur-unsur tersbut dengan itu dibedakan menjadi: Kayu Yang, Kayu Yin, Api Yang, Api Yin, dan seterusnya. Hal ini menghasilkan sebuah daur gabungan yang berulang setiap 60 tahun. Sebagai contoh, tahun dari Tikus Api Yang terjadi pada 1936 dan pada tahun 1996.

Banyak orang mengacaukan tahun kelahiran Tionghoa dengan dengan tahun kelahiran Gregorian mereka. Karena Tahun Baru Cina dapat dimulai pada akhir Januari sampai pertengahan Februari, tahun Tionghoa dari 1 Januari sampai hari imlek di tahun baru Gregorian tetap tidak berubah dari tahun sebelumnya. Sebagai contoh, tahun ular 1989 mulai pada 6 Februari 1989. Tahun 1990 dianggap oleh beberapa orang sebagai tahun kuda. Namun, tahun ular 1989 secara resmi berakhir pada 26 Januari 1990. Ini berarti bahwa barang siapa yang lahir dari 1 Januari ke 25 Januari 1990 sebenarnya lahir pada tahun ular alih-alih tahun kuda.
Di Indonesia, selama 1965-1998, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.





Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur yang fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Baru pada tahun 2002 (12 Februari 2002), Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Sukarno Putri.

Mudah-mudahan anda bisa mulai merubah beberapa pemikiran mengenai segala yang saya tulis disini ya, sampai jumapa di IMLEK berikutnya, seperti saya mau sincia dulu, dan tentu saja berburu angpao... menyenangkan sekali dan mari menikmati manisan dan kue keranjang serta jeruk yang banyak!! Lets goooo

4 komentar:

  1. lets go...

    minta angpaolah...

    ahahahahah

    BalasHapus
  2. gambar2 nye Lucu leeeeeeeeeeeh...
    ade Kue Sofa ndak ye? ^_^

    BalasHapus
  3. @syawaliah..... angpao na laiiiiiiiiii
    @ecerisi, kue sofa?? kue mangkok mao??
    @kang asep, sama2 kangggg

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bijak. Setelah anda mampir dan berkomentar, saya akan berkunjung balik. Jangan meninggalkan link hidup ya :)

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : eko.dony.prayudi@gmail.com
+Telp/WA : 0819 - 3210 - 9497
+IG/Twitter : @dodon_jerry

Diberdayakan oleh Blogger.