Tukang Jalan Jajan

Cap Go Meh, Kemeriahan Membuka Pintu Rejeki


Kendaraan saya perlahan memasuki wilayah Singkawang. Pipit, teman GenPI Jogja duduk dibelakang, beberapa kali terpukau dengan semarak Cap Go Meh yang tak ditemukan dikotanya. Kiri kanan jalan sudah dihiasi dengan lampion merah yang semakin mempertegas Singkawang sebagai pecinan terbesar di Indonesia. Etnis Tionghoa yang mendiami Singkawang menyebut kota ini dengan nama San Keuw Jong, sementara julukan yang diberikan untuk kota Ini adalah Kota Seribu Kelenteng karena hampir disetiap sudut dan sepanjang jalan berdiri kokoh bangunan tempat persembahyangan berbagai ukuran. Ada pula yang memanggil keelokan kota administratif ini dengan nama Kota Amoy. Bisa disimpulkan, banyak etnis Tionghoa mendiami kota ini. Mata dimanjakan dengan warna cerah yang hingar bingar. Semuanya bersolek menyambut perayaan Cap Go Meh yang akan berlangsung. Semuanya berhias rapi jali dengan dominasi warna merah diseluruh penjuru negeri.

 
Cap Go Meh, Kemeriahan Membuka Pintu Rejeki
Cap Go Meh, Kemeriahan Membuka Pintu Rejeki  
Cap Go Meh sendiri adalah perayaan lima belas hari setelah Imlek. Hari puncak rasa syukur atas segala rejeki yang didapat setelah tahun baru, seperti perayaan keagamaan lainnya, Imlek dan Cap Go Meh dirayakan besar-besaran bagi sebagian besar suku Hakka yang mendiami kota ini. Rasa lelah selama 3 jam perjalanan mengarungi 145 kilometer akan sirna dengan Festival Cap Go Meh Kota Singkawang


Tatung, Eksotisme Mistis ala Singkawang.
Dari berbagai sumber yang saya baca, Tatung sendiri merupakan akulturasi asli budaya Tionghoa Indonesia khususnya Singkawang yang justru tidak ditemui dinegeri nenek moyang. Tatung dalam bahasa Hakka berarti orang yang dirasuki roh, dewa, leluhur, atau kekuatan supranatural. Pawai tatung di Singkawang ini merupakan yang terbesar di dunia. Saya sempat mengintip persiapan para tatung ini di sebuah Vihara, pinggiran kota Singkawang. 

Perbincangan saya dengan Pak Abuy, salah satu anggota yayasan yang menaungi kelenteng Hiap Thian Kiong mengatakan “Nanti ada pendeta yang akan panggil roh orang baik yang akan masuk kedalam tatung. Tunggu selesai mereka pakai baju dan dibawa kesini. Kamu datang jak ke kelenteng-kelenteng pinggir kota Singkawang subuh-subah, nanti liat sendiri ritual dia panggil”. Saya juga baru memahami kalau tatung harus berpuasa selama tiga hari sebelum acara berlangsung dan mereka juga harus vegetarian. Pak Abuy juga menyampaikan bahwa sebelum acara ini berlangsung sudah ada ritual pembersihan kota agar semua yang jahat pergi dan acara pawai besok berlangsung meriah.

Persiapan Tatung sebelum mulai perarakan
Subuh, Sebelum matahari terbit, saya dan Pipit sudah bergerak menuju pinggiran kota Singkawang. Menuju sebuah kelenteng kecil yang yang saya lewati saat masuk kota Singkawang. Disana sudah ramai orang berkumpul. Memarkir kendaraan sebentar di sebuah warung kopi, memesan kopi susu sambil menyeruput sedikit dan bergegas menuju kelenteng yang hanya berjarak 200 meter. Dari kejauhan saya melihat arakan tatung mulai bergerak menuju kelenteng untuk memulai ritual pemanggilan roh. Arakan panji kebesaran berbagai warna dan bentuk berada paling depan lalu diikuti oleh barisan anggota pawai berseragam merah hitam baru kemudian tatung beserta asistennya dan pembawa tandu. 

Memanggil Dewa untuk merasuk ke tubuh tatung
Memanggil Dewa untuk merasuk ke tubuh tatung
Mereka setengah berlari menuju kelenteng dan mulai melakukan ritual. Seorang pendeta mulai membunyikan lonceng kecil, menaburkan uang kertas dan membakarnya tak lupa, dupapun dibakar. Mulutnya komat kamit seraya memutar-mutarkan dupa ke tubuh dan wajah tatung. Beberapa kali asisten tatung menyipratkan air menggunakan seikat daun. beberapa kali tatung bergerak mulai tidak wajar. badannya seperti bergetar, bola mata hitamnya menghilang keatas sementara tangannya seperti melakukan gerakan gerakan doa. Aura mistis mulai terasa, sayangnya saya tidak bisa bertahan lama karena harus menuju jantung kota Singkawang agar bisa berada dekat dengan atraksi Naga dan Tatung.

Arakan Awal tatung dengan panji kebesaran
Arakan Awal tatung dengan panji kebesaran
Selama perjalanan saya melihat sudah banyak truk berisi kelompok tatung yang bergerak menuju arena pawai. Beberapa tatung berada dalam bak terbuka dan dipegang oleh asisten. Terlihat mereka terus mendupai tatung sembari memberikan makanan yang saya duga adalah  beras kuning. Aroma dupa memenuhi jalanan Singkawang, uang kertas berserakan dimana-mana sementara jalanan mulai macet karena para peserta mulai berkumpul di satu titik, didepan Kantor walikota. Orang-orang yang menontonpun sudah mulai menyemut dijalanan. Sudah banyak jalan utama yang ditutup dan tidak bisa dilewati lagi. Banyak orang berusaha mencari jalan untuk masuk dan memarkir kendaraan, saya satu diantaranya yang ikut menyelip kesana kemari.


12 Naga Pembuka Jalan Dewa Dewi Langit.
Cuaca mulai panas, matahari di Kota Singkawang benar-benar terik tanpa ada awan yang melindungi Penonton sudah riuh rendah menunggu acara segera dimulai. Semuanya sudah tidak sabar melihat tatung beratraksi di jalan, ada yang berdiri sambil bertepuk tangan ada pula yang bersorak sorai. Tak berapa lama terdengar bunyi gendang ditabuh, Tambur dan simbal ikut memecah suasana. Dari kejauhan tampak bola api naga meliuk liuk dan kepala naga mengejar  dengan cepat, tubuhnya merah bercampur emas ikut menari dan meliuk dihadapan penonton yang riuh rendah di tribun. Masing-masing naga menunjukkan atraksi terhebatnya di beberapa tempat sekaligus.

Naga Pembuka Jalan
Naga Pembuka Jalan
Naga – naga ini memiliki panjang sekitar 20 meter, walaupun hanya replika, gerakan sangat luwes. Naga ini seperti sedang menari dilangit biru. Tentu ini semua akibat kekompakan para pemain dan berhasil mengikuti sang dalang memainkan bola api nya. Beberapa kali kepala naga melewati kepala penonton bahkan hampir menyentuh penonton. Atraksi ini sengaja dibuat agar wisatawan puas. Semakin kencang sorak sorai penonton semakin heboh atraksi naga. Adrenalin para pemain naga semakin terpacu dan membakar semangat untuk memberikan liukan terbaik. Pipit berkali kali meminta saya untuk mengabadikan momen spesial dengan latar belakang naga. Puluhan jepretan tapi tak pernah puas. Lagi dan lagi.
Selain Naga, ada Dewa dari kelenteng yang dibawa untuk membuka jalan
Selain Naga, ada Dewa dari kelenteng yang dibawa untuk membuka jalan
Tidak hanya pria dewasa, ada pula naga jambon yang dimainkan oleh para ibu-ibu juga ada menyemarakkan Cap Go Meh Singkawang 2019 ini. Permainannya tidak kalah dengan pria. Walaupun terengah engah ibu-ibu ini mampu meliukkan naga dengan indah. Terasa sekali sentuhan permainan wanita ditiap gerakan naga ini. Saya yakin, mereka sudah bekerja keras untuk bisa memainkannya. Dibelakangnya ada pula naga lain yang dimainkan remaja dan anak-anak. Sedari kecil sudah dikenalkan kepada budaya nenek moyang. Tidak ada keraguan diwajah mereka saat memainkan tongkat bambu yang tersambung dengan tubuh naga. Semuanya ceria dan penuh semangat. Seperti panas matahari yang semakin menyengat!

Jelangkung, menjaga Dewa dan Leluhur tetap bersemayam
Jelangkung, menjaga Dewa dan Leluhur tetap bersemayam
12 Naga membuat semua penonton puas karena mampu membuka parade tatung dengan berkesan. Liukannya membuka jalan bagi roh leluhur untuk mengusir roh jahat. Hari semakin siang dan panas matahari mulai menjadi. Penonton di tribun makin tidak sabar untuk melihat atraksi yang lebih menantang. Kepala mulai memanjang dan leher menegang, “dimana para Tatung?”.


Tatung, Penghalau Roh Jahat, Pembersih Jalan Rejeki
Rian, seorang warga lokal yang duduk disebalah saya mengatakan “ tidak ada yang bisa nolak untuk jadi tatung, dia orang dipilih oleh dewa dan nenek moyang, biasenye masih ada turunan”. dialek Tionghoa terdengar kental saat ia menjelaskan. Tatung sendiri merupakan media untuk mengusir roh-roh jahat, tatung sebagai  simbol dan penanda dimana roh-roh baik akan membuang pengaruh roh jahat. Inilah media utama yang digunakan dalam pagelaran budaya Cap Go Meh. 

Tatung sendiri adalah orang terpilih yang hanya dipilih oleh leluhur, tidak bisa sembarangan orang dan tidak bisa dipelajari. Kemampuan ini lahir dengan sendirinya dan biasanya akan menurun dalam satu garis keturunan tapi bisa juga tidak. Namun pada zaman sekarang, ada pula yang rela belajar dengan lauya agar bisa menjadi seorang tatung.

Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Perlahan-lahan panji kebesaran dan bendera dari berbagai Tepekong muncul. dibelakangnya terdapat tandu tandu yang berisi patung dewa yang di puja. tidak lupa aroma dupa menyeruak dengan kencang. diempat sudut rumah tandu yang dipanggul oleh 12 orang. dibelakangnya ada jelangkung yang terbuat dari anyaman rotan dan diberi pakaian seperti panglima perang dengan 4 kain yang dipegang oleh 4 orang sekaligus. 

Memegangnya bukan perkara mudah, harus saling bergantian mencekalnya karena patung kayu ini seperti hidup dan terlempar kesana kemari tak terkendali. Supaya dapat terus “hidup” maka asap dupa dan percikan air doa tidak boleh putus. Semua peralatan ini selalu ada disetiap barisan tatung, sepertinya ini adalah hal penting agar dewa dan leluhur tetap bersemayam didalam tubuh tatung.  Saya bisa melihat tiap 10 menit harus bertukar, dengan cuaca Singkawang yang panas seperti ini, pastilah keringat tak berhenti mengucur.

Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Tidak semua tatung berada di singgasana yang penuh dengan mata pisau, tombak dan paku yang jadi alas duduk, alas kaki dan pegangan. Ada pula yang berjalan tanpa alas kaki dijalanan aspal panas. dibuka dengan seorang tatung berwajah hitam dengan beberapa lidi tajam yang tertembus dipipinya. Beberapa asisten membantu menyiprati air dengan seikat daun, tak lupa membunyikan lonceng dan memberikan dupa supaya roh yang merasuk tetap senang dan bertahan. dibelakangnya terdapat panglima perang yang gagah dengan baju megah penuh bendera di belakangnya. Tak lupa topi kebesaran dan pipi yang tertembusi macam macam benda tajam.

Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Masing masing tatung menunjukkan hebatnya kesaktian yang dimiliki dengan pakaian yang bermacam ragam menyesuaikan roh yang merasuki. Wajah pongah yang terkadang dengan tatapan mata tajam namun tiba tiba nanar. Berada di atas tandu kemuliaan yang penuh dengan benda tajam. Mereka bertarung menunjukkan kekuatan supranatural. Tahun ini ada pula “tatung bule” yang datang dari luar negeri. Saya sendiri tidak yakin dirinya kerasukan roh leluhur, bisa saja hanya ikut meramaikan.
Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Tidak hanya itu atraksi wajib dengan memotong tangan, lidah atau menusuk perut dengan senjata tajam tanpa terluka, tatung juga melakukan gerakan akrobatik di atas tandu tanpa takut jatuh, kaki dan tangan mereka dengan santainya beradu dengan senjata tajam tanpa terluka. Pertunjukan khas lainnya adalah memasukkan jarum besi panjang dengan bagian ujung yang dihias bunga teratai, ada pula yang ditusuk dengan buah jeruk, yang lebih berani biasanya menusukkan pedang atau batang besi yang lebih besar dari pipi kiri ke pipi kanan. Sekali lagi tidak ada darah yang keluar. Atraksi ekstrim ini cukup membuat wisatawan lokal dan mancanegara terperangah.

 
Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh

Tubuh mereka bukan milik mereka. Roh dewa dan leluhur menggantikan jiwa dan raga. Mereka bukan lagi manusia. Besi tajam menembus pipi namun tak merasakan apa apa. Namun bagian lain tubuh mereka tak mampu tertembus tajamnya pisau. Gemuruh manusia menyambut tatung saat mereka beratraksi bak dewa dewi turun ke bumi.

Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Tidak hanya atraksi ini. Tatung yang lapar juga tetap harus diberi makan, ada yang menggigit-gigit buah, ada yang memakan bunga sampai menggigit leher ayam. Tapi tidak semua atraksi yang membuat bergidik saja. Ada juga deretan tatung wanita cantik yang kerasukan roh Dewi Kwan Im yang duduk manis dengan sikap doa teratai namun tetap menduduki dan menginjak tandu yang penuh senjata tajam. Anak-anak pun tak mau kalah. Tatung-tatung muda sebagai penerus ini juga menunjukkan kebolehan yang sama. Jelas mereka tak punya rasa takut karena semua dilakukan tanpa sadar. 

Lautan manusia sungguh luar biasa, semua orang berebut untuk mengabadikan foto dengan smartphone dan  kamera. Beberapa fotografer profesional dengan lensa tele bahkan drone silih berganti mengambil gambar. Semua orang berusaha mengabadikan momen spesial satu tahun sekali ini sebagai sebuah tradisi bangsa yang mampu dijadikan magnet pariwisata. Tak sia-sia persiapan yang sudah mereka lakukan sejak pukul 6 pagi.

Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Tatung bergaya dengan berani di Festival Cap Go Meh
Sayangnya saya tak mengikuti tatung ini hingga pulang kembali ke kelenteng dan mengembalikan roh dewa dan leluhur ke langit. Tubuh saya sudah benar-benar lelah. Kulit menghitam dengan beberapa kulit bagian muka yang terkelupas saking panasnya

Lezat di Singkawang
Kebetulan sedang lelah dan lapar. Saya bisa mencobai banyak makanan dan minuman di SIngkawang, salah satunya mampir ke Warung Kopi Han’s untuk menikmati kopi susunya yang sedap. Memang ada aroma dan rasa sedikit “gosong”namun saat bertemu dengan susu kental manis, citarasanya jadi luar biasa sedapnya. Jangan lupa mencoba bubur daging sapi dan sup mie asin yang gerobaknya ada di depan warung kopi yang juga bisa jadi teman baik ngopi disini.

Misoa Singkawang
Misoa atau mie asin yang sudah dikukus akan disiram dengan kaldu sapi dan diberi berbagai macam taburan seperti potongan daging sapi, teri dan kacang goreng, sawi dan daun bawang serta lobak manis yang menambah kenikmatan. Mie yang sudah asin dan gurih dipadukan dengan lobak manis yang bertekstur “kresnyes” menimbulkan tekstur kunyahan yang menyenangkan. Apalagi rasa manis yang ditinggalkan juga semakin memperkaya rasa. Sedap mantap! Jika masih ada sela kosong di lambung, boleh juga menambah pesanan nasi uduk dengan ayam geprek yang diberi sambal pedas manis.

Bubur Daging sapi warkop Han's
Masih ada lagi warung kopi lain yang jauh lebih legendaris yaitu warung Kopi Nikmat, Selain kopi susu nya yang juga nendang. Apa yang paling enak di tempat ini? coba saja kue Soes  dan roti bakar serikaya yang menjadi ikon puluhan tahun warung kopi ini. Pasti ketagihan pada gigitan pertama. Oh ya, lihat juga lemari berbentuk segi delapan bertingkat dengan pintu kaca disekelilingnya, umurnya sudah puluhan tahun namun masih digunakan di warung kopi tiam ini. Sebelum saya lupa, ada juga sate kuah yang unik, dimana ada penggunaan kuah kaldu kuning dan bihun sebagai pelengkap sate ayam dan sapi ini.

Sate Kuah spesial Warkop Nikmat
Sate Kuah spesial Warkop Nikmat
Bergeser sedikit menuju Rumah Marga Thjia yang menjadi salah satu warisan budaya di Singkawang. Selain bisa menikmati arsitektur rumah Tionghoa masa lampau, disini juga menjual choipan. Sejenis panganan dari tepung beras yang diisi dengan berbagai macam isian. Bentuknya seperti pastel, didalamnya ada kucai atau bengkuang baru kemudian dikukus dan dimakan selagi hangat. Jangan lupa untuk mencelupnya kedalam saus cabe yang nendang pedas, asam dan rasa bawang putihnya. Kudapan sedap selama menjelajah Singkawang.

Rumah Keluarga Marga Thjia
Rumah Keluarga Marga Thjia
Sedikit informasi mengenai bangunan bernuansa antik berbentuk U ini didirikan Xie Shou Shi (alias Xie Zhong Shou, Xie Shou, Xie Feng Chen), sang leluhur perintis pertama marga Xie di Singkawang, sudah berumur 105 tahun namun masih berdiri kokoh. Hingga kini sudah menjelang tujuh generasi masih menetap di situ dan meneruskan dan generasi ke generasi. Demi memelihara harta benda leluhur dan melestarikan benda bersejarah budaya corak original Tionghoa, sekaligus merespon kebijakan Pemkot Singkawang yang menetapkan kota Singkawang sebagai pusat kebudayaan Tionghoa untuk mengembangkan industri pariwasata setempat.

Rujak Buah Thai Phui Jie
Rujak Buah Thai Phui Jie
Menu sedap lainnya yang tak boleh dilewatkan adalah rujak Thai Pui Jie juga jadi pilihan melawan hawa panas di Singkawang. Rujak buah segar dengan ebi dan petis yang super dahsyat ditambah dengan gurihnya kacang dan legitnya gula merah. Benar-benar sempurna memberikan kesegaran badan yang panas dan letih. Selain pada buah, bumbu ini juga bisa diaplikasikan ke manga muda dan sayuran. Coba saja semuanya supaya tidak penasaran. Masih ada menu lain seperti sup bihun daging sapi dan bongko dengan saus gula merah dan kelapa parut. Singkawang sempurna dengan makanannya

Kwe Tiaw Asuk Singkawang
Jika masih ada waktu, silakan mencoba Kwe Tiaw goreng Asuk (Paman dalam bahasa Hakka). Kwe tiaw yang digoreng menggunakan namseng serta dengan tambahan cangkok manis dan tauge. Untuk protein, kita bisa memesan telur mata sapi untuk melengkapi. Jangan lupa juga meminum sebotol soda (aek sasi/aek pipo) khas Singkawang. Nikmati juga Bakmi Kering H. Aman yang sudah punya nama. Mie yang biasanya non Halal disajikan Halal dengan bahan yang diganti. Mie gurih dengan tekstur yang sempurna. Mie bercampur dengan pangsit isi ayam dan ditambahkan toge dengan topping kue ikan, ayam kecap, telur dadar dan baso sapi kerikil ditemani kaldu lezat. Ada lagi kuliner bernama Sotong Kangkung Yau Yie 1+1+1. Sotong yang sudah direndam hingga lembut disiramkan dengan saus asam manis diatas kangkung yang direndam sebentar di air mendidih, tidak lupa taburan kacang tanah goreng yang sudah di tumbuk halus. Rasanya segar dan super gurih. Ini salah satu harta karun kuliner Singkawang.


Wisata Alternatif di Kota Singkawang
Ada beberapa lokasi menarik yang bisa dikunjungi saat mampir ke Singkawang, terutama pecinta panorama alam. Salah satu yang banyak menjadi lokasi foto saat bertandang ke Singkawang adalah Danau Biru. Perlu waktu sekitar 30 – 45 menit menggunakan motor untuk sampai ke Danau biru yang terletak TPA Wonosari daerah Singkawang Timur. Saat sampai disini saya langsung disambut hamparan danau biru dengan hamparan pasir dan batu kapur yang berundak undak. Tandus dan seperti padang gurun, Mungkin tempat ini hanya cocok untuk spot foto karena danau biru ini adalah bekas galian penambangan liar yang ditinggalkan begitu saja oleh pekerja.

Danau Biru Singkawang
Danau Biru Singkawang
Saya sempat mengambil foto disalah satu tempat yang memiliki kayu yang menjorok ketengah danau lalu berlarian ke sudut danau bagian lain, sembari mengambil gambar dengan latar gunung Poteng. Sudut lain yang bisa juga dijadikan spot foto adalah sisa bebatuan pasir yang tertinggi dengan hanya satu buah pohon yang hidup. Lumayan, untuk sekedar memamerkan keindahan alam di feed Instagram
Embung Pajintan Singkawang
Embung Pajintan Singkawang
Tempat lain yang sebaiknya juga dikunjungi adalah Embung Pajintan. Saya bergegas kesana karena ingin melihat sunset di Singkawang selain view dari pantai. Embung atau Waduk Pajintan terletak di Kelurahan Pajintan, Kecamatan Singkawang Timur, jaraknya sekitar 10 kilometer dari pusat kota dan selama perjalanan saya harus melewati jalan bergelombang dan berlubang. Sesampainya disana, saya memutuskan untuk berkeliling embung sembari mencari spot yang bagus untuk berfoto. Jika cuaca dan langit bersahabat, matahari bisa terlihat jelas dan tenggelam dibalik sederet gunung yang saling menyambung. Sayangnya. sore ini langit tak begitu bersih sehingga matahari tak begitu elok.

Embung Pajintan Singkawang
Embung Pajintan Singkawang
Jika memang berminat ada wahana bebek engkol yang terdapat di embung. Tempat ini cukup membuat saya senang karena dapat bermain air setelah kepanasan seharian. Ternyata Singklawang sudah banyak tempat nyaman untuk dikunjungi, bisa jadi Singkawang kedepannya akan menjadi tujuan wisata untuk membuang penat dan lelah serta tempat memanjakan lidah dan perut.



Singkawang, Magnet Wisata Baru yang Terus Menjaga Pluralisme.
Tidak semua penduduk kota ini Tionghoa, populasinya sekitar 250 ribuan orang dan 42 persennya adalah suku Hakka namun boleh dibilang kota ini damai dan saling menghormati antar suku dan umat beragama. Terlihat antara Masjid Raya Singkawang bersebelahan dengan Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Ini dibuktikan dengan Setara Institute yang merilis hasil penelitian yang mengukur soal promosi dan praktek toleransi di 94 kota di Indonesia pada tahun 2018 dan akhirnya mengganjar Kota Singkawang menjadi Kota Tertoleran di Indonesia dengan skor 6.513 di tahun 2019.
Cap Go Meh, Kemeriahan Membuka Pintu Rejeki
Cap Go Meh, Kemeriahan Membuka Pintu Rejeki  
Tradisi yang menjadi unggulan pariwisata ini juga berhasil menjadi salah satu dari 100 Even pariwisata Indonesia yang dirilis Kementerian Pariwisata dalam bentuk Calender of Event (CoE) Indonesian Tourism. Promosi yang luas, tidak hanya didalam negeri namun sampai keluar negeri membuat Festival Cap Go Meh mampu mendatangkan hampir 80.000 wisatawan dalam dan manca negara.

Festival Cap Go Meh adalah magnet pariwisata baru yang benar benar mampu membuka rejeki bagi semua sektor ekonomi di Singkawang. Jadi tidak sabar untuk menunggu kejutan Festival Cap Go Meh 2020 nanti.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang 2019” yang diselenggarakan oleh Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang 2019” yang diselenggarakan oleh Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang.

50 komentar:

  1. Luar biasa perjalanan sehari full di Singkawang ini ya.
    Saya jadi keinget makan kangkung dan sotong itu. Sewaktu di Taiwan, hampir setiap seminggu sekali selalu membuat menu itu. Sih jadi kangen semuanya...

    Singkawang andai dekat dari Cianjur, ingin sekali menjelajahi semua sudut tempat wisatanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Singkawang ini mirip small Hongkong in Kalimantan kak. mirip banget , beda beda tipis aja sih

      Hapus
  2. mas donjer! kamu itu yaaaa.. sukses membuat saya masukkan Singkawang dalam bucket list yang must visit !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa jadi bucket list tahun depan dan 2020 bisa langsung merasakan bagaimana Singkawang saat Cap Go Meh datang

      Hapus
  3. Wuah ngeri-ngeri sangar ya.
    Kukira tatungnya biasa aja. Ternyata warbiyasaaaaaah. Gak nyangka bisa ngasih pertunjukan seekstrim ini


    Aku sukak tulisannyaaaaaaa
    Semoga menang yaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. SAYANGNYA AKU NGGA MENANG KAK, MALAH DIMENANGIN YANG NGGA PERNAH KESANA DAN DARI LUAR PULAU PULA

      Hapus
  4. Pertunjukan tradisi di negeri ini selalu menarik. Pun dengan perayaan cap go meh yang menyajikan berbagai hal seru sebagaimana yang mas dodon ceritakan. Rasa untuk ikut merasakan secara langsung tapi belum kesampaian itu sukses bikin aku iri. Hahaha. Apalagi kalau ada makanan enak yang "baru pertama kali" aku coba. Menarik sekali!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paling seru memang saat kita bisa merasakan langsung sih. daripada menulis ulang atau cuman dengar "katanya"

      Hapus
  5. astagah...itu si tatung-tatung bikin ngeri suer, benda tajam nacap dimana-mana. Kok malah aku yang jadi takut, merekanya aja santai ya haduhhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. cobain deh kak liat langsung dengan jarak 2-3 meter. Pasti lebih seru dan bersa kerennya hehehe

      Hapus
  6. Wuih meriah banget. DI Singkawang memang kental banget ya budaya Tiongkok ini. Kalo di Bandung kotanya, iya, ada juga pawai Cap Go Meh. Tapi rada jauh dari tempatku. Kalo di tempatku adanya cuma barongsay dan liong. Tapi segitu juga udah bikin anak-anak kesenengan lihatnya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu artinya memang harus maen ke singkawang biar tahu rasa dan keseruannya. pasti terasa menyenangkan

      Hapus
  7. Seru banget ya kak, meriah abisss... Ini emang dipusatkan di singkawang ya kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya setiap daerah yang ada komunitas Tionhoanya pasti ada Cap Go Meh, namun di Singkawang yang terbesar

      Hapus
  8. Senang deh baca tulisan ini.. lengkap banget dan bahasanya juga asik, jadi lebih paham tentang perayaan cap go meh.. selama ini hanya tau sekilas aja.. tapi setelah membaca tulisan ini.. jadi banyak pengetahuan yang aku dapat, banyak value yang diajarkan dalam setiap urutan budaya yang dijalankan dalam perayaan cap go meh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes kak, karena sebenarnya setiap kegiatan budaya pasti ada sejarah dan arti yang luhur kenapa itu dilakukan

      Hapus
  9. Kalau cap go meh gini selalu seru dan ramai yaaa. duh jadi pengen ke Singkawang deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus keSingkawang langsung dan menemukan bagaimana keseruan dan kebahagiaannya. pasti bakalan beda feelnya

      Hapus
  10. seru sekali,wisata budaya dan kulinernya mantab banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes kak. ngga abis abis sih makan kuliner tradisionalnya. semuanya endolita gengges

      Hapus
  11. Kakaaaaakkk, aku tuh seminggu kemarin menantap medsos dengan menahan air liur. Aku mupeng sekali liat kemeriahan cap go meh di Singkawang. Doain tahun depan aku bisa ikut menonton langsung di sana. Mau nyiapin tabungan buat lensa tele juga ah. Eh drone boleh dipakai ya? Asikkkkk.... Wait for me, Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tahun 2020 boleh tuh dateng ke Singkawang tapi mesti book jauh jauh hari karena bakalan rame banget sih kak

      Hapus
  12. Perayaan cap gomeh selalu menarik perhatian, karena kan cuma setahun sekali jadi selalu antusias

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak. karena tahun barunya juga cuman setahun sekali hehehehe

      Hapus
  13. Semoga ada kesempatan buat lihat Cap Go Meh di Singkawang sana. Penasaran lihat atraksi Tatungnya. Kalau di Jawa semacam kuda lumping makan beling kali ya. Tetap di masing2 daerah ada yang kemasukan roh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes bener banget. Pokoknya semua diluar nalar dan akal sehat deh kak. mantep banget pokoknya

      Hapus
  14. Paket wisata di Singkawanf komplet ya? Pemandangan alam yang indah, kuliner lezat, tradisi asli yg terpelihara, dan gadis2nya yang cantik.hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha iya, disini dulu terkenal dengan kecantikan wanita Tionghoanya kak. Wisata kuliner peranakannya juga asik banget

      Hapus
  15. Suka dengan ulasannya. Saya jadi mengenal bagaimana kota Singkawang merayakan cap go meh. Nuansanya itu lho, percampuran antara budaya tionghoa dengan dayak. Keren banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar dateng dan coba rasakan sendiri bagaimana kemeriahannya yang luar biasa. Rasanya bakalan beda banget deh pokoknya

      Hapus
  16. Aku baru tahu kisah Tatung ini. Begidik lihat fotonya. Kalau di Jawa kayak kudalumping ya kemasukan roh. Itu beneran yang anak2 juga ada ya? Huaa serem benernya. Pertama kali tahu kuliner Singkawang justru dari film Aruna dan Lidahnya, jadi ngiler gitu lihat kuliner asli sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes kak, Kalau sudah kemasukan roh maka semua bisa terjadi dan mereka emang ngga sadar. kalau kuliner emang disini banyak peranakan sih

      Hapus
  17. Hwaaaa meriah banget ya perayaan Cap Go Meh di Singkawang. Aku belum pernah lihat perayaan ini langsung deh, palingan cuma di TV doang. Pengin rasanya ada di tengah kemeriahan kayak gini. Pasti menyenangkan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih, di TV biasanya ada tayangannya langsung dan seru gitu. Pokoknya rame abisssss

      Hapus
  18. Huwaaaa aku agak ngeri2 liat Tatung hehe. Tapi di tanah Jawa pun ada yg sejenis kyk debus gtu :D
    Singkawang itu emang pas imlek atau cap go meh rame ya mas, pengen deh liat festival kyk gtu langsung.
    Rumah Marga Thjia, ini dibacanya "Cia" ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih soal Tatung oooo jd ada yg kerasukan Dewi Kwam in ya dan lbh kalem gtu?
      Duh jd pengen liat nih, entah kapan bisa ke SIngkawang ya saat Cap Go meh...

      Hapus
    2. iya kak, bener... bacanya cia. Pokoknya kalau udah kerasukan maka ada ribuan dewa dewi dan leluhur yang datang kedunia kak

      Hapus
  19. Merinding lihat Tatung.
    Berasa sakit semua ini badan.

    Tapi abis itu terobati dengan aneka kuliner yang menggoda.
    Yuumm~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena makan enak dan bahagia adalah alasan untuk penuh senyuman dan tampil rupawan

      Hapus
  20. Wuiiih meriahnya cap go meh di Singkawang ini, dan saya baru tahu, Pawai tatung di Singkawang ini merupakan yang terbesar di dunia, pantasan rame bangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. singkawang selalu rame dan heboh saat Cap Go Meh. banyak yang ngumpul dan seseruan disana

      Hapus
  21. Larut dalam cerita perayaan cap gomeh yang dituturkan dengan sangat apik oleh Mas Dodon, apalagi saat Mas dodon medeskripsikan meriahnya perahaan dan deskripsi kunyahan kulinernkhas Singkawang, sungguh menggoda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berusaha untuk mersapi dan mencatat apa saja yang dilihat kak . lalu coba foto foto juga sih

      Hapus
  22. ashiaaaap aku mau kesanaa om... duhhh cap gomeh memaang bkin mupengg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tahun depan bisa langsung dateng dan melihat bagaimana kemeriahan Cap Go Meh 2020. pasti lebih seru nih

      Hapus
  23. Setiap aku makan lontong cap gomeh. Dalam hati aku mikir . Kok rameh banget sih isinya. Meriah gitu loh. Ternyata mungkin terilhami dari festival ini ya.. meriaah banget... Jadi pengen ke singkawang. Pontianak kan ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena pada saat hari raya harus meriah dan rame. Banyak yang suka dan banyak yang bahagia

      Hapus
  24. Ada semacam debusnya juga waduh, ngeri gitu bang.
    Kulinernya sedap sedap duh siang gini jadi lapar lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. wehehehe iya udah, kita makan aja ya hihihi. ngga usah liat tatungnya :p

      Hapus
  25. Singkawang kota di Kalimantan yg belum berkesempatan untuk di jejaki. Sudah sering dengar budaya pecinan dari seorang kawan yg asli sana apalagi kemeriahan cap go meh pasti lebih semarak acaranya. Ahhh..semoga ada kesempatan untuk berkunjung ke sana

    BalasHapus

DILARANG MENGAMBIL TULISAN, FOTO ATAU VIDEO TANPA SEIJIN PENULIS :)

Silakan berkomentar dengan bijak. Setelah anda mampir dan berkomentar, saya akan berkunjung balik. Jangan meninggalkan link hidup ya :)

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan kontak saya
+Email : eko.dony.prayudi@gmail.com
+Telp/WA : 0819 - 3210 - 9497
+IG/Twitter : @dodon_jerry

Diberdayakan oleh Blogger.